![]() |
| Hidayatun dan Wardatul saat membuat kerajinan rajut bersama. (Dok/Hidayatun) |
Hidayatun dan Wardatul sama-sama tinggal di Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan. Usaha yang dirintis sejak pertengahan 2025 tersebut hingga kini masih dijalankan dari rumah Wardatul yang menjadi tempat produksi berbagai produk rajutan.
Berawal dari rasa suka terhadap kerajinan tangan, Hidayatun dan Wardatul belajar merajut secara otodidak melalui YouTube serta mencari inspirasi dari Instagram, TikTok, dan Pinterest.
“Awalnya hanya sekadar mencoba dan belajar membuat beberapa bentuk sederhana. Lama-kelamaan kami semakin tertarik dan berpikir hasil karya ini bisa dikembangkan menjadi usaha,” ujar Hidayatun, Jumat (04/09/2026).
Produk yang dibuat meliputi gantungan kunci, boneka atau amigurumi, taplak buket bunga, aksesori, hingga produk custom. Salah satu yang banyak diminati adalah boneka Nailong dan gantungan kunci bebek kuning.
Gantungan kunci bebek tersebut awalnya dibuat karena keduanya salah membeli warna benang. Daripada tidak terpakai, benang tersebut diolah menjadi produk baru. Tak disangka, hasilnya justru disukai pelanggan karena warna kuningnya terlihat mencolok.
Bagi keduanya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kesalahan bisa menjadi peluang untuk menghasilkan ide baru.
Selain produk handmade, Cloopie Crochet juga menerima pesanan custom berdasarkan bentuk, karakter, warna, ukuran, maupun desain yang diinginkan pelanggan. Salah satu pesanan yang cukup berkesan adalah karakter Mario Bros yang membutuhkan ketelitian karena memiliki banyak detail.
Harga produk mulai Rp4.000 hingga Rp18.000 untuk produk sederhana, sedangkan produk berukuran besar berkisar Rp25.000 hingga Rp85.000. Pesanan custom disesuaikan dengan tingkat kerumitan.
Pemasaran dilakukan melalui Instagram, TikTok, dan WhatsApp. Keduanya juga mengikuti berbagai event untuk memperkenalkan produk secara langsung dan menjaring pelanggan baru.
Usaha ini menjadi pekerjaan sampingan bagi keduanya. Hidayatun bekerja sebagai guru seni rupa tingkat SMP dan guru les, sementara Wardatul merupakan guru les sekaligus ibu rumah tangga. Hasil usaha digunakan untuk kebutuhan sehari-hari serta membeli bahan dan perlengkapan rajut.
Menjalankan usaha bersama membuat keduanya bisa saling membantu dalam produksi maupun pemasaran.
“Menjalankan usaha berdua memiliki tantangan tersendiri, tetapi kami bisa saling bertukar ide, memberikan masukan, dan membantu ketika menghadapi kesulitan,” ujar Wardatul.
Ke depan, keduanya ingin menambah variasi produk, meningkatkan kualitas dan desain, serta memperluas pemasaran melalui media sosial dan marketplace. (rif)


Komentar