![]() |
| Anggota Komisi VIII DPR RI, Dini Rahmania. (Dok/Istimewa). |
Dini menegaskan, membentuk generasi muda yang tangguh merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, pemuda tidak seharusnya terus dilekatkan dengan label generasi stroberi yang dapat merendahkan kemampuan mereka dalam menghadapi tekanan dan tantangan kehidupan.
“Pemuda dan pemudi hari ini kita harus bangkit, harus tangguh karena zaman ini luar biasa,” ujar Dini dalam keterangannya, Rabu (28/10/2026).
Menurut Dini, generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari kondisi ekonomi yang fluktuatif, arus globalisasi, hingga perubahan zaman yang berlangsung cepat. Situasi tersebut menuntut kesiapan mental dan kemampuan beradaptasi agar pemuda mampu menghadapi berbagai persoalan.
Di tengah tantangan tersebut, kesehatan mental menjadi aspek penting yang tidak boleh diabaikan. Selain membangun kemampuan dan kompetensi, generasi muda juga membutuhkan dukungan lingkungan yang sehat agar dapat tumbuh dengan baik.
Dini, yang juga menjabat Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Probolinggo, turut menyoroti persoalan perundungan atau bullying. Menurutnya, perundungan perlu dipahami secara lebih mendalam karena pelaku dan korban dapat memiliki keterkaitan pengalaman yang kompleks.
“Kalau saya melihat sih pelaku itu juga adalah korban. Kemudian korban juga bisa menjadi pelaku,” katanya.
Pandangan tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bahwa penanganan perundungan tidak cukup hanya dengan memberikan sanksi kepada pelaku. Pendidikan, pendampingan, serta perhatian terhadap kondisi psikologis anak juga perlu menjadi bagian dari upaya pencegahan.
Karena itu, Dini menekankan pentingnya membangun ketangguhan anak melalui peran aktif orang tua, guru, tenaga pendidik, dan lingkungan masyarakat. Kolaborasi berbagai pihak diperlukan untuk menciptakan ruang tumbuh yang aman sekaligus mendukung perkembangan mental dan karakter generasi muda.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah memberikan cap negatif kepada pemuda, termasuk melalui istilah generasi stroberi. Sebaliknya, generasi muda perlu diberi kesempatan untuk mengembangkan potensi, belajar dari kesalahan, dan menghadapi tantangan dengan pendampingan yang tepat.
“Jangan lagi ada kata-kata generasi ini generasi stroberi,” tegasnya.
Dini menilai, pembentukan pemuda yang tangguh tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja. Orang tua, guru, pendidik, dan masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai positif serta membekali anak dengan kemampuan menghadapi persoalan kehidupan.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari persiapan generasi muda untuk mengambil peran lebih besar dalam pembangunan dan kepemimpinan bangsa pada masa mendatang.
“Ini juga PR kita, PR orangtua,” ujarnya.
Melalui momentum Hari Sumpah Pemuda, Dini mengingatkan bahwa generasi muda membutuhkan dukungan nyata agar mampu tumbuh menjadi pribadi yang kuat, sehat secara mental, dan siap menghadapi perubahan zaman. Ketangguhan itu perlu dibangun melalui pendidikan, kepedulian, serta lingkungan yang mendukung, bukan dengan memberikan label yang melemahkan semangat mereka. (Red)


Komentar