|
Menu Close Menu

Jajanan Tradisional Tetap Jadi Simbol Penghormatan di Pernikahan Madura

Minggu, 04 Oktober 2026 | 17.08 WIB

 

Jajanan tradisional yang disajikan dalam acara-acara nikahan.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Sumenep– Pesta perkawinan masyarakat Madura, khususnya di Kabupaten Sumenep, tidak hanya menjadi momentum mempertemukan keluarga besar. Di balik kemeriahan hajatan, terdapat tradisi menjamu tamu yang hingga kini masih dipertahankan.


Salah satunya melalui sajian jajanan tradisional.


Beragam kue biasanya ditempatkan dalam satu wadah atau piring untuk diberikan kepada tamu undangan. Sajian tersebut menjadi bagian dari cara keluarga yang menggelar pesta menunjukkan penghormatan kepada orang-orang yang hadir.


Dodol yang dipadukan dengan tetel, kue kering, cucur, hingga rengginang menjadi jajanan yang kerap ditemukan dalam pesta perkawinan masyarakat Madura.


Setiap jajanan menghadirkan karakter rasa dan tekstur yang berbeda. Dodol dan tetel menawarkan tekstur kenyal dengan perpaduan rasa manis dan gurih.


Sementara cucur dikenal dengan rasa manis dan teksturnya yang khas. Rengginang menghadirkan sensasi gurih serta renyah, sedangkan kue kering menjadi pelengkap yang membuat sajian semakin beragam.


Pemerhati tradisi budaya perkawinan Madura, Abd. Wahid, menilai keberadaan jajanan tradisional tersebut tidak bisa dilihat hanya sebagai hidangan untuk tamu.


Menurutnya, sajian tersebut memiliki nilai sosial yang berkaitan erat dengan tradisi masyarakat Madura dalam menghormati tamu.


“Jajanan dalam pesta perkawinan masyarakat Madura merupakan bagian dari tradisi menjamu tamu. Dodol, tetel, cucur, rengginang dan kue lainnya menjadi sajian yang memiliki nilai sosial karena diberikan sebagai bentuk penghormatan kepada para tamu,” kata Abd. Wahid, Minggu (05/10/2026).


Ia mengatakan, tradisi menyajikan jajanan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana masyarakat Madura masih mempertahankan kebiasaan leluhur di tengah perubahan zaman.


Tidak hanya soal tradisi menjamu tamu, proses penyediaan jajanan tradisional juga memiliki nilai lain. Jajanan tersebut kerap dibuat sendiri oleh keluarga atau masyarakat sekitar.


Kondisi itu membuat pesta perkawinan turut menjadi ruang untuk mempertahankan keterampilan dalam membuat berbagai makanan tradisional.


Di Sumenep, tradisi menyajikan jajanan tersebut masih dapat ditemukan dalam berbagai pesta perkawinan. Meski terlihat sederhana, keberadaannya menjadi bagian penting dari rangkaian budaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.


Bagi masyarakat Madura, pesta perkawinan pada akhirnya bukan sekadar momentum menyatukan dua keluarga.


Cara menyambut, menyajikan hidangan, dan menjamu tamu menjadi bagian dari penghormatan sekaligus cerminan identitas budaya yang terus dijaga. (Red) 

Bagikan:

Komentar