![]() |
| Arif saat berada di area tambatan perahu nelayan. (Dok/Rifka) |
Sebelum menjadi nelayan, Arif bekerja sebagai pengemudi towing dan pedagang sepeda motor. Ia kemudian memutuskan beralih menjadi nelayan karena ingin memiliki pekerjaan sendiri.
“Saya memutuskan jadi nelayan karena di darat itu sudah begitu-begitu saja. Saya ingin kerja sendiri, bukan kerja ke orang,” ujar Arif, Jumat (02/10/2026).
Arif melaut setiap hari menggunakan jaring untuk menangkap rajungan. Ia biasanya mulai menebar jaring sekitar pukul 05.00.
Hasil tangkapan yang diperoleh tidak selalu sama. Belakangan, Arif menyebut hasil tangkapannya sekitar 2 hingga 3 kilogram rajungan dalam sehari.
Harga rajungan di wilayahnya sekitar Rp150 ribu per kilogram. Dengan hasil tangkapan yang tidak menentu, penghasilan Arif juga berbeda setiap harinya.
“Kadang penghasilannya sehari Rp300 ribu, kadang lebih,” katanya.
Penghasilan dari melaut digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan biaya sekolah anak. Menurut Arif, pendapatan tersebut cukup membantu meski kebutuhan sehari-hari terus meningkat.
“Kalau rajungannya naik, sembakonya juga naik. Kalau dihitung-hitung sama saja,” ungkapnya.
Ketika hasil tangkapan sedikit atau kondisi laut kurang bersahabat, Arif tetap mempertimbangkan kemampuan perahunya. Ia memilih kembali jika kondisi ombak dinilai melebihi kemampuan perahu.
“Kalau melebihi kemampuan perahu, kita kembali saja. Jadi ada ukurannya,” jelasnya.
Selama menjadi nelayan, Arif mengaku kondisi pekerjaannya relatif berjalan seperti biasa. Ia tetap melaut untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan hasil tangkapan yang bergantung pada kondisi laut.
Selain persoalan hasil tangkapan, Arif berharap pemerintah lebih memperhatikan kondisi nelayan tradisional. Ia menyoroti aktivitas trawl yang menurutnya mengganggu wilayah penangkapan nelayan yang menggunakan jaring tradisional.
Arif mengaku jaring nelayan tradisional dapat rusak ketika terkena aktivitas tersebut. Ia berharap persoalan itu mendapat perhatian pemerintah.
“Satu trawl itu sering mengganggu daerah jaring-jaring tradisional. Akhirnya disikat habis, rusak,” pungkasnya. (rif)


Komentar