![]() |
| Dosen Pariwisata Universitas Terbuka (UT) Surabaya, Sucipto.(Dok/Istimewa). |
Kehadiran berbagai destinasi wisata dan hotel baru dinilai menjadi peluang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Namun, kemajuan tersebut diharapkan tidak membuat karakter budaya Madura semakin terpinggirkan.
Akademisi asal Kabupaten Sumenep yang juga Dosen Pariwisata Universitas Terbuka (UT) Surabaya, Sucipto, mengatakan Madura memiliki banyak destinasi wisata menarik, terutama wisata pantai.
Beberapa di antaranya berada di kepulauan Kabupaten Sumenep, seperti Pantai 9 dan Gili Labak.
Potensi wisata juga terdapat di tiga kabupaten lain di Madura. Perkembangan destinasi tersebut kemudian diiringi dengan bertambahnya penginapan dan hotel yang memberikan kenyamanan bagi wisatawan.
Di Kabupaten Sumenep, misalnya, terdapat MYZE Hotel. Sementara di Pamekasan terdapat Azana Style Hotel Madura. Adapun di Bangkalan terdapat Hotel Rose dan sejumlah hotel lainnya.
Menurut Sucipto, perkembangan tersebut merupakan hal positif bagi kemajuan pariwisata dan daerah, terutama karena dapat memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi.
Namun, ia menilai pembangunan pariwisata tidak cukup hanya berorientasi pada fasilitas dan jumlah kunjungan wisatawan.
Lebih dari itu, kemajuan pariwisata harus tetap menjaga identitas budaya Madura yang sangat kental. Karena itu, menurutnya, pengusaha hotel memiliki peran penting dalam menjaga sekaligus memperkenalkan budaya Madura.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menghadirkan unsur budaya lokal secara langsung dalam pengelolaan perhotelan.
“Misalnya dengan cara berpakaiannya. Hari-hari tertentu, karyawan bisa memakai batik khas Madura, atau bisa pakaian Sakera-Marlena, atau juga bisa dengan kopiah dan sarung yang identik dengan ciri masyarakat Madura yang religius,” jelas Sucipto, Kamis (8/10/2026).
Ia menilai masuknya investasi ke Madura, termasuk investor dari luar daerah yang membangun hotel, seharusnya juga dapat menjadi bagian dari upaya melestarikan tradisi masyarakat setempat.
Menurut Sucipto, penerapan pakaian adat di lingkungan hotel dapat dilakukan secara terjadwal dan perlu mendapat dukungan dari dinas pariwisata.
“Ya, nanti itu bisa melalui pakaian misalnya, tinggal dijadwal saja. Tentu ini juga perlu kehadiran dinas pariwisata. Jadi diatur itu nanti, hari apa, dari tujuh hari itu misalnya hari apa yang berpakaian adat, jadi adat setempat,” katanya.
Selain melalui pakaian, pengenalan budaya lokal juga dapat dilakukan melalui visual yang ditampilkan kepada para tamu hotel.
Sucipto mencontohkan tayangan yang muncul di televisi kamar hotel. Media tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan budaya dan tradisi daerah kepada wisatawan.
“Biasanya ketika kita masuk kamar, itu kan begitu nyala ada tayangan di TV. Nah, di situ juga bisa ditampilkan, sehingga itu untuk menjadi informasi bahwa begini lho, budaya tradisi yang ada di Bangkalan,” ujarnya.
Menurut dia, upaya tersebut tidak hanya berlaku untuk satu hotel, tetapi dapat dikembangkan secara lebih luas dalam sektor perhotelan.
Terlebih, saat ini penyebaran informasi juga semakin mudah dengan memanfaatkan media sosial.
“Sekarang kan gampang, tinggal memanfaatkan media-media sosial. Itu juga untuk sosialisasi bahwa nilai-nilai budaya yang ada di Bangkalan itu tidak sama dengan persepsi orang yang selama ini dibayangkan,” katanya.
Ia berharap penguatan budaya melalui sektor pariwisata dapat memperlihatkan sisi lain Madura, terutama mengenai kesantunan, tradisi, serta nilai-nilai lokal yang hidup di tengah masyarakat.
Dengan demikian, wisatawan yang datang ke Madura tidak hanya membawa pengalaman mengenai destinasi wisata, tetapi juga mendapatkan kesan tentang nilai-nilai yang sesuai dengan adat istiadat masyarakat setempat.
“Sehingga begitu orang datang ke Bangkalan, itu kesannya, kenangan yang didapat itu ya memang nilai-nilai sesuai dengan adat istiadat. Bukan justru yang dibayangkan selama ini, misalnya dengan kekerasan dan lain sebagainya,” tutur Sucipto.
Untuk penerapannya di hotel, ia menyebut unsur budaya dapat dikemas dengan menyesuaikan karakter dan standar pelayanan perhotelan.
Salah satunya melalui penggunaan batik dengan motif yang dikenal sebagai ciri khas Bangkalan.
“Bisa dua nanti, pakaian itu, batik satu, artinya batik sesuai dengan motif yang terkenal di Bangkalan. Yang kedua adalah seperti baju Sakera misalnya. Nah, itu bisa ditampilkan atau nanti ada inovasi sendiri,” jelasnya.
Menurut Sucipto, pakaian Sakera juga dapat dimodifikasi dengan desain yang lebih modern tanpa menghilangkan karakter utamanya.
“Untuk saat ini barangkali itu bisa menampilkan yang Sakera. Bisa menggunakan sarung, misalnya sarung,” katanya.
Ia juga membuka kemungkinan penggunaan sarung dengan konsep yang lebih modern sehingga tetap sesuai dengan standar pakaian karyawan hotel.
“Jadi tetap pakai celana, tapi separuhnya itu ditutup sarung misalnya. Atau juga karena itu nanti, kalau hotel itu langsung dia pakai sarung akan menurun, takut ini nanti kontradiktif dengan standar-standar yang ada di hotel. Hingga nanti modifikasinya saja begitu,” pungkasnya. (Had)


Komentar