|
Menu Close Menu

Santri Bukan Penonton Revolusi Digital

Kamis, 22 Oktober 2026 | 10.17 WIB

Kegiatan Diklat Santri WebPreneur LAKPESDAM NU dan LPNU PCNU Kabupaten Pamekasan.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Pamekasan— Peringatan Hari Santri Nasional semestinya tidak berhenti pada seremoni dan nostalgia perjuangan. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan ekonomi digital, santri menghadapi tantangan baru: bukan hanya menjaga tradisi keilmuan Islam, tetapi juga mengambil peran sebagai pelaku inovasi dan penggerak kemandirian ekonomi umat.


Semangat itulah yang diusung Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (LAKPESDAM) bersama Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) PCNU Pamekasan melalui kegiatan Diklat Santri WebPreneur pada Selasa–Rabu, 20–21 Oktober 2026. Mengangkat tema “Jihad Ekonomi Santri di Era Digital”, kegiatan ini dilaksanakan di SMK Putri Pondok Pesantren Miftahul Ulum Kebun Baru pada hari pertama dan SMK Mawaddah Putra Pondok Pesantren Sirojut Tholibin Taman Sari pada hari kedua.


Bagi santri, revolusi digital bukan sekadar perubahan cara berkomunikasi atau mengakses informasi. Perkembangan teknologi juga menghadirkan peluang untuk membangun usaha, memperluas pemasaran produk, dan menciptakan sumber penghidupan yang mandiri. Tantangannya adalah bagaimana santri dapat mengambil manfaat dari perubahan tersebut tanpa kehilangan identitas, etika, dan nilai-nilai kepesantrenan.


Ketua LPNU PCNU Pamekasan, Nur Hamidi, menegaskan bahwa santri perlu mengambil peran lebih luas dalam kehidupan masyarakat, termasuk di bidang ekonomi.


“Santri tidak hanya menjadi penjaga tradisi keilmuan Islam, tetapi juga harus hadir sebagai penggerak inovasi dan kemandirian ekonomi di era digital,” ujarnya.


Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penguatan ekonomi santri merupakan bagian penting dari aktualisasi peran pesantren di tengah perubahan zaman. Tradisi keilmuan Islam dan penguasaan teknologi tidak harus dipertentangkan. Keduanya justru dapat dipadukan untuk melahirkan generasi santri yang berpengetahuan, berkarakter, dan mampu menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat.


Ketua LAKPESDAM PCNU Pamekasan, Ridan Muhtadi, menjelaskan bahwa Diklat Santri WebPreneur merupakan ikhtiar bersama untuk membangun kapasitas santri dalam memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai peluang usaha.


“Melalui Diklat Santri WebPreneur, LAKPESDAM dan LPNU PCNU Pamekasan berikhtiar membangun kapasitas santri dalam mengembangkan kewirausahaan digital, memanfaatkan teknologi, dan menciptakan peluang ekonomi yang produktif serta berdaya saing,” kata Ridan.


Menurutnya, pengembangan sumber daya manusia menjadi aspek penting dalam menyiapkan santri menghadapi perubahan ekonomi. Karena itu, penguatan keterampilan digital perlu diarahkan pada kemampuan yang dapat diterapkan, mulai dari mengenali peluang usaha hingga memanfaatkan teknologi untuk memperluas jangkauan pasar.


Perspektif tersebut juga relevan dengan pengembangan pendidikan vokasi di lingkungan pesantren. Kepala SMK Mawaddah Putra Pondok Pesantren Sirojut Tholibin Taman Sari, Rohadi, menilai penguasaan teknologi digital dapat menjadi bekal bagi santri untuk mengembangkan potensi diri dan memperluas kontribusi sosial-ekonomi setelah menyelesaikan pendidikan.


“Keterampilan membangun website, memasarkan produk secara daring, dan mengelola usaha berbasis digital berpotensi membuka akses terhadap pasar yang lebih luas,” jelas Rohadi.


Ia menambahkan bahwa SMK Mawaddah Putra telah memiliki jurusan Bisnis Digital yang diarahkan untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi perkembangan dunia usaha dan tantangan era disrupsi.


“Selaras dengan hal itu, kami pun di sini sudah mempunyai jurusan Bisnis Digital yang memang benar-benar menyiapkan santri di masa depan, terutama menghadapi era disrupsi ini,” lanjutnya.


Keberadaan jurusan Bisnis Digital menunjukkan bahwa pendidikan pesantren dapat menjadi ruang strategis untuk mempertemukan pembentukan karakter dengan pengembangan kompetensi profesional. Santri tidak hanya dipersiapkan untuk memahami perubahan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk terlibat langsung dalam kegiatan ekonomi yang semakin bergantung pada teknologi.


Dalam konteks peringatan Hari Santri Nasional, Diklat Santri WebPreneur menghadirkan makna perjuangan yang relevan dengan tantangan masa kini. Jika pada masa lalu santri dikenal melalui kontribusinya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan menjaga kehidupan keagamaan masyarakat, pada era digital perjuangan tersebut juga dapat diwujudkan melalui penguasaan ilmu, inovasi, kewirausahaan, dan pemberdayaan ekonomi.


Namun, pelatihan saja tidak cukup. Keterampilan yang diperoleh perlu ditindaklanjuti melalui praktik, pendampingan, pengembangan produk, serta perluasan jejaring usaha. Tanpa keberlanjutan tersebut, peluang untuk membangun kemandirian ekonomi berisiko berhenti sebagai gagasan tanpa hasil yang terukur.


Karena itu, kolaborasi antara LAKPESDAM, LPNU, dan lembaga pendidikan pesantren menjadi penting untuk membangun ekosistem yang mendukung tumbuhnya wirausahawan santri. Keberhasilan inisiatif semacam ini pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh terselenggaranya kegiatan, tetapi juga oleh kemampuan peserta menerapkan keterampilan digital dan mengembangkannya menjadi kegiatan ekonomi produktif.


Hari Santri Nasional bukan sekadar momentum mengenang sejarah, melainkan juga kesempatan untuk merumuskan peran santri dalam menjawab tantangan masa depan. Santri tidak harus meninggalkan tradisi untuk menjadi modern; santri dapat menjaga tradisi sekaligus menguasai teknologi, membangun usaha, dan memperkuat kemandirian ekonomi umat. (Red) 

Bagikan:

Komentar