![]() |
| Anggota Wantimpres, KH. Said Aqil Siradj.(Dok/Istimewa). |
Prinsip tersebut menjadi pesan utama dalam narasi mengenai Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, M.A., yang disebut memilih mengundurkan diri dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) setelah dilantik sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia.
Presiden Prabowo Subianto melantik KH Said Aqil Siradj sebagai anggota Wantimpres pada Jumat, 2 Oktober 2026, di Istana Negara, Jakarta. Pengangkatan tersebut menjadi bagian dari pembentukan keanggotaan Wantimpres yang baru.
Jika keputusan pengunduran diri dari BPIP tersebut telah dikonfirmasi secara resmi, langkah itu dapat dimaknai sebagai bentuk komitmen untuk menjalankan amanah secara bertanggung jawab serta menghormati tata kelola kelembagaan negara.
Di tengah kehidupan yang kerap mengukur keberhasilan seseorang dari kedudukan dan kekuasaan, pesan tentang pentingnya tanggung jawab dalam mengemban jabatan menjadi relevan. Sebab, tidak semua kesempatan harus diambil dan tidak semua jabatan harus dipertahankan secara bersamaan.
Dalam perspektif Islam, jabatan bukan sekadar kehormatan duniawi, melainkan tanggung jawab besar yang menuntut kejujuran, keadilan, dan keikhlasan. Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa kepemimpinan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Pengabdian kepada bangsa dan negara tidak semata-mata diukur dari banyaknya posisi yang diduduki. Justru, kesungguhan menjalankan tugas, menjaga integritas, serta menghadirkan manfaat bagi masyarakat merupakan bagian penting dari makna pengabdian.
Dalam konteks penyelenggaraan negara, setiap lembaga memiliki tugas dan fungsi masing-masing. Karena itu, penataan jabatan perlu memperhatikan ketentuan yang berlaku, pembagian tanggung jawab, serta prinsip akuntabilitas agar pelaksanaan tugas dapat berjalan secara optimal.
Sikap mengutamakan tanggung jawab dibandingkan kepentingan pribadi juga menjadi pesan moral yang patut diperhatikan. Keteladanan tidak hanya disampaikan melalui ceramah dan nasihat, tetapi dapat diwujudkan melalui keputusan dan tindakan nyata.
Perjalanan KH Said Aqil Siradj dalam dunia pesantren, Nahdlatul Ulama, dan kehidupan kebangsaan menjadi bagian dari latar belakang pengabdiannya. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal dalam menjalankan amanah sebagai anggota Wantimpres.
Melalui jabatan tersebut, ia diharapkan dapat terus menyumbangkan pemikiran dan kebijaksanaan bagi bangsa, khususnya dalam bidang keagamaan, kebudayaan, kerukunan umat, serta penguatan nilai-nilai kebangsaan.
Pada akhirnya, jabatan merupakan amanah yang dapat berubah seiring waktu. Sementara itu, nilai kejujuran, kesederhanaan, dan ketulusan dalam mengabdi perlu terus dijaga.
Kebesaran seseorang tidak hanya terlihat ketika menerima sebuah jabatan, tetapi juga dari kesediaannya menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Bagi seorang ulama, kemuliaan bukan semata-mata tentang seberapa tinggi kedudukan yang ditempati, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada umat dan bangsa.
Pesan itulah yang hendak ditegaskan dalam narasi tentang amanah dan pengabdian.
" lebih baik menjalankan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh daripada mengejar banyak kedudukan tanpa mampu menunaikan tugas secara optimal, "katanya.
Jabatan adalah titipan, kekuasaan merupakan ujian, sedangkan pengabdian yang tulus menjadi bagian penting dari kehormatan seorang pemimpin. (Red)


Komentar