|
Menu Close Menu

UNIBA Madura Inisiasi Konsorsium Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Inggris di Kongres VII ESAI

Minggu, 08 November 2026 | 22.59 WIB

 

 Dekan Fakultas Bahasa Asing UNIBA Madura, Lailiy Kurnia Ilahi, S.Pd., M.Pd., saat hadir dalam acara Kongres VII English Studies Association in Indonesia (ESAI) pada 2-4 November 2026 di UKSW, Salatiga, Jawa Tengah. (Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Salatiga– Fakultas Bahasa Asing Universitas KH. Bahaudin Mudhary Madura (UNIBA Madura) memperkuat langkah pengembangan jejaring akademik nasional melalui partisipasi dalam Kongres VII English Studies Association in Indonesia (ESAI) pada 2–4 November 2026 di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, Jawa Tengah.


Tak sekadar menghadiri forum akademik tersebut, Dekan Fakultas Bahasa Asing UNIBA Madura, Lailiy Kurnia Ilahi, S.Pd., M.Pd., turut menginisiasi pembentukan Konsorsium Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Inggris (BKI) bersama sejumlah akademisi dan pimpinan program studi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. 


Inisiatif ini menjadi langkah strategis untuk membangun kolaborasi yang lebih terarah, khususnya dalam penguatan identitas keilmuan, pengembangan kurikulum, serta peningkatan kualitas pendidikan tinggi di bidang bahasa dan kebudayaan Inggris.


Perluas Jejaring Akademik di Kongres VII ESAI


Kongres VII ESAI resmi dibuka pada Senin, 2 November 2026, di Balairung Utama UKSW. Pembukaan dihadiri pimpinan perguruan tinggi, pengurus ESAI, serta perwakilan program studi dalam rumpun studi Inggris dari berbagai wilayah Indonesia.


Rangkaian acara meliputi sambutan pimpinan universitas dan pengurus ESAI, pertunjukan seni budaya, serta peluncuran Mars ESAI bertajuk Lux Eterna.


Forum tersebut menjadi momentum bagi para akademisi untuk mempererat hubungan kelembagaan sekaligus bertukar gagasan mengenai perkembangan pendidikan tinggi di bidang bahasa, sastra, dan kebudayaan Inggris.


Bagi Fakultas Bahasa Asing UNIBA Madura, keikutsertaan dalam kongres ini juga menjadi kesempatan memperkenalkan Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Inggris sekaligus menjajaki peluang kemitraan dengan perguruan tinggi yang memiliki kesamaan bidang keilmuan.


Gagas Konsorsium Program Studi BKI


Memasuki hari kedua, Selasa, 3 November 2026, kongres menghadirkan sejumlah agenda strategis terkait pengelolaan program studi.


Kegiatan diawali dengan pleno mengenai akreditasi dan SAPTO Versi 2, dilanjutkan rapat komisi LAM Humaniora, peninjauan kurikulum, serta diskusi mengenai dinamika program studi Bahasa Inggris. Agenda lainnya mencakup pemilihan pengurus harian ESAI dan serah terima jabatan.


Di sela rangkaian kegiatan tersebut, Lailiy bersama Ahmad Zaidi dari Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan Palembang, Prof. Dr. Drs. Ida Bagus Putra Yadnya, M.A. dari Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional) Bali, serta sejumlah perwakilan pimpinan akademik lainnya, termasuk sekretaris jurusan dan Wakil Rektor IPB Internasional, menggagas pembentukan Konsorsium Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Inggris.


Gagasan tersebut berangkat dari kebutuhan untuk memperkuat sinergi antarinstitusi yang menyelenggarakan program studi dengan nomenklatur serupa.


Sebagai nomenklatur yang relatif baru, Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Inggris membutuhkan ruang komunikasi dan kolaborasi yang lebih terstruktur agar pengembangan identitas keilmuan, kurikulum, dan kualitas akademik dapat berjalan secara berkelanjutan.


Lailiy menilai, kesamaan nomenklatur program studi merupakan peluang besar untuk membangun jejaring yang saling menguatkan, bukan sekadar memperluas hubungan antarkampus.


“Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Inggris memiliki karakteristik dan arah pengembangan keilmuan yang perlu terus kita perkuat bersama. Karena nomenklatur ini masih relatif baru, penting bagi kita untuk membangun jejaring antarkampus agar dapat saling berbagi pengalaman, menyelaraskan kebutuhan pengembangan kurikulum, dan membuka peluang kolaborasi akademik yang lebih luas,” ungkap Lailiy.


Konsorsium yang direncanakan tersebut nantinya diharapkan menjadi wadah kerja sama dalam berbagai kegiatan akademik.


Sejumlah program yang disiapkan meliputi seminar series, pertukaran dosen (teaching exchange), pertukaran mahasiswa (student exchange), hingga penelitian dan publikasi ilmiah bersama.


Untuk memperluas jangkauan kolaborasi, para penggagas juga berencana menjalin komunikasi dengan sejumlah perguruan tinggi lain yang menyelenggarakan Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Inggris.


Institusi yang menjadi sasaran penjajakan tersebut antara lain Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Universitas Teuku Umar (UTU), Universitas Al-Azhar Indonesia, serta universitas lainnya.


Keterlibatan berbagai perguruan tinggi tersebut diharapkan memperluas cakupan konsorsium sekaligus mempertemukan institusi dengan pengalaman dan tahapan pengembangan program studi yang beragam.


Lailiy menegaskan, kolaborasi tersebut perlu diwujudkan melalui program konkret yang memberikan manfaat langsung bagi dosen maupun mahasiswa.


“Kami berharap konsorsium ini nantinya tidak hanya menjadi forum komunikasi, tetapi benar-benar menghasilkan kegiatan bersama. Misalnya, dosen dari satu perguruan tinggi dapat berbagi keahlian melalui teaching exchange, sementara mahasiswa memperoleh kesempatan belajar dan berinteraksi dengan mahasiswa dari kampus lain. Kita juga dapat mengembangkan seminar series dan penelitian kolaboratif yang melibatkan berbagai institusi,” tambahnya.


Menurutnya, penguatan jejaring akademik merupakan salah satu langkah penting bagi Fakultas Bahasa Asing UNIBA Madura untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus memperluas pengalaman belajar mahasiswa.


Perkuat Kontribusi UNIBA Madura di Tingkat Nasional


Partisipasi Fakultas Bahasa Asing UNIBA Madura dalam Kongres VII ESAI menjadi bagian dari komitmen institusi untuk terus meningkatkan mutu pendidikan melalui keterlibatan aktif dalam forum akademik nasional.


Inisiasi pembentukan Konsorsium Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Inggris juga menjadi langkah awal membangun kemitraan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan di antara perguruan tinggi dengan nomenklatur program studi serupa.


Kata Lailiy, kerja sama tersebut diharapkan mampu mendukung pengembangan kurikulum, peningkatan kompetensi dosen, serta memperluas kesempatan akademik mahasiswa melalui berbagai program lintas perguruan tinggi.


Rangkaian Kongres VII ESAI berlanjut pada 4 November 2026 dengan agenda bakti sosial dan jejaring budaya di kawasan Salib Putih, Salatiga, yang sekaligus menjadi penutup kegiatan kongres.


Melalui keikutsertaan tersebut, Fakultas Bahasa Asing UNIBA Madura menegaskan komitmennya untuk terus memperluas kemitraan, mendorong inovasi akademik, dan mengambil peran aktif dalam penguatan Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Inggris di Indonesia. (Red) 

Bagikan:

Komentar