> Refleksi Sejarah Hari Jadi Jawa Timur Lensajatim.id
|
Menu Close Menu

Refleksi Sejarah Hari Jadi Jawa Timur

Senin, 12 Oktober 2020 | 06.23 WIB

Firman Syah Ali (Kopiah Hitam) saat bersama Menkopolhukam RI, Mahfud MD


Oleh : Firman Syah Ali 


Berdasarkan catatan resmi sejarah Indonesia, Jawa Timur pada awalnya tidak pernah menjadi pusat peradaban pulau Jawa dan Nusantara. Pusat peradaban Pulau Jawa dan nusantara pertama kali adalah Tanah Pasundan. Disanalah berdiri Kerajaan Salakanegara, yang dilanjutkan dengan Tarumanegara. Kerajaan Tarumanegara berkembang menjadi Kerajaan Sunda Galuh, yang lebih polpuler dengan sebutan Kerajaan Sunda. Kerajaan Sunda merupakan imperium pertama Pulau Jawa yang wilayahnya meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sumatera. Imperium Sunda diperintah oleh Dinasti Warmadewa yang berdarah India.


Ibukota Kerajaan Sunda berpindah-pindah dan terakhir beribukota di Pakuan Pajajaran, sehingga banyak orang salah tulis, Kerajaan Sunda disebut sebagai Kerajaan Pajajaran.


Salah satu pewaris tahta Kerajaan Sunda yang bernama Rakai Sanjaya memindahkan pusat kekuasaan Sunda Galuh dan Kalingga ke Mataram Jawa Tengah. Nama Resmi Kerajaan baru ini adalah Medang ing Bhumi Mataram. Jadi sekali lagi Mataram adalah nama Ibukota Pertama Kerajaan Medang yang didirikan oleh Sanjaya, bukan nama Kerajaan. 


Setelah bertahta di Mataram, Sanjaya serahkan tahta Sunda kepada puteranya Rakai Panaraban.    Sedangkan puteranya yang satu lagi yaitu Rakai Panangkaran kelak akan mewarisi Kerajaan Medang ing Bhumi Mataram.


Pada tahun 929, pewaris tahta Kerajaan Medang yang bernama Mpu Sindok memindahkan pusat kerajaan Medang ke Tambelang Jombang Jawa Timur. Kemudian tahun 937 pusat kekuasan Medang dipindah lagi ke Watugaluh Jombang Jawa Timur. 


Selanjutnya keturunan Mpu Sindok disebut dinasti Isyana. Dinasti Isyana adalah keturunan Imperium Sunda yang pertama kali menjadikan Jawa Timur sebagai pusat kekuasan dan peradaban. 


Dinamika Dinasti Isyana di Jawa Timur luar biasa, awalnya mereka dirikan peradaban Kahuripan, kemudian pecah menjadi Jenggala dan Panjalu. Kemudian Panjalu dikalahkan oleh Jenggala yang beribukota di Daha Kediri. Terakhir persatuan Panjalu dengan Jenggala disebut sebagai Kerajaan Kediri. 


Sebetulnya nama asli dari Kahuripan, Jenggala, Panjalu dan Kediri adalah Medang, karena mereka hanyalah penerus Kerajaan Medang, sedangkan Kerajaan Medang merupakan penerus Kerajaan Sunda.


Dinasti Isyana atau Pewaris Kerajaan Medang terakhir yang memerintah di Jawa Timur adalah Kertajaya. Pada tahun 1224 Raja Kertajaya diberontak oleh Akuwu Tumapel (Bawahan Kediri) yang bernama Ken Arok. Raja Kertajaya kalah dan Ken Arok memboyong tahta Jawa ke Singosari. Di Singosari dia mengumumkan dirinya sebagai Raja dengan gelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi atau disingkat sebagai Raja Rajasa.


Muncullah pusat peradaban baru yaitu Singosari dan muncullah dinasti baru yaitu dinasti Rajasa. Sebetulnya Singosari hanyalah nama ibukota Kerajaan Tumapel, tapi semakin lama nama Tumapel lenyap dari catatan sejarah dan orang lebih nyaman menyebutnya sebagai Kerajaan Singosari.


Kerajaan Singosari di bawah Dinasti Rajasa kemudian berkembang menjadi imperium besar yang meliputi seluruh Jawa Timur, Bali, Madura, dan sebagian Sumatera. Bisa dikatakan, Wilayah kekuasaan Singosari meliputi seluruh wilayah Propinsi Jawa Timur saat ini, bukan hanya sebagian. Makanya beberapa pakar mengusulkan agar tanggal berdirinya Kerajaan Singosari dijadikan sebagai Hari Jadi Jawa Timur, namun usulan ini belum diterima.


Keturunan Dinasti Isyana melakukan balas dendam pada era Raja Kertanegara. Di bawah pimpinan Adipati Jayakatwang, Dinasti Isyana berhasil membunuh Prabu Kertanegara (Dinasti Rajasa). Pemberontakan Adipati Jayakatwang dari Gelang-gelang ini disupport oleh Adipati Arya Wiraraja dari Sumenep. Arya Wirajaja sakit hati karena dimutasi dari Kutaraja Singosari ke Pulau Madura. 


Setelah Prabu Kertanegara gugur, Adipati Arya Wiraraja dari Sumenep bergerak cepat. Beliau menyusun skenario penumpasan tentara Gelang-gelang oleh tentara Mongol, setelah itu tentara Mongol sendiri ditumpas oleh Tentara Madura.


Setelah Tentara Jayakatwang dan Tentara Mongol sama-sama binasa, maka yang tersisa hanyalah sisa Tentara Kertanegara dan Tentara Madura. Gabungan kedua tentara ini kemudian mendirikan pusat peradaban baru di hutan tarik yang kemudian diberi nama Wilwatikta atau Majapahit.


Menantu Kertanegara yang bernama Dyah Wijaya kemudian dinobatkan sebagai raja pertama Majapahit. Majapahit berkembang menjadi imperium raksasa yang wilayahnya meliputi seluruh wilayah Indonesia saat ini, ditambah sebagian besar Asia Tenggara saat ini, juga Papua Nugini, Timor Leste, hingga Madagascar. Uniknya Kerajaan Sunda yang beribukota di Pajajaran tidak tunduk dan tidak menjadi bagian dari wilayah imperium Majapahit. Bahkan sebagian sejarawan menyebut bahwa kawasan tapal kuda Jawa Timur (Wilayah kerajaan Lumajang/Peradaban Blambangan) juga bukan bagian dari Kerajaan Majapahit.


Setelah Majapahit tumbang,  pusat peradaban dan kekuasan kembali ke Jawa Tengah, awalnya Demak, kemudian pindah ke Pajang, terakhir pindah ke Mataram. Mataram adalah adalah kawasan tua yang pernah menjadi ibukota pertama Kerajaan Medang.


Di era Kesultanan Mataram, kawasan Jawa Timur disebut Bang Wetan. Istilah Bang Wetan dikenalkan oleh Mataram pada tanggal 14 Agustus 1636, sehingga layak juga disebut sebagai Hari Jadi Jawa Timur. 


Kerajaan Mataram akhirnya pecah jadi empat Kraton dan semuanya terletak di Jawa Tengah. Keempat kraton tersebut berada di bawah dominasi Kompeni Belanda. 


Kompeni Belanda yang berhasil mendominasi Kerajaan Mataram kemudian meningkat menjadi Pemerintah Hindia Belanda. Pada tanggal 1 Januari 1929, Pemerintah Hindia Belanda membentuk Provinsi Jawa Timur yang tentu saja wilayahnya meliputi Bang Wetan Mataram. Maka tanggal 1 Agustus layak juga disebut sebagai Hari Jadi Jawa Timur.


Pada tanggal 17 Agustus bangsa Indonesia proklamasikan kemerdekaannya, tanggal 18 Agustus dibentuklah negara Indonesia dan tanggal 19 Agustus dibentuklah delapan Propinsi yang terdiri dari  Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Borneo, Sulawesi, Maluku, dan Sunda Kecil. 


Tanggal 19 Agustus tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Jadi Provinsi Jawa Barat hingga saat ini, namun Jawa Tengah dan Jawa Timur memilih tanggal dan peristiwa bersejarah yang berbeda sebagai Hari Jadi.


Jawa Timur tidak memilih tanggal pembentukan kerajaan singosari, juga tidak memilih tanggal penyebutan istilah Bang Wetan, juga tidak memilih tanggal pembentukan Provinsi Jawa Timur oleh Hindia Belanda, bahkan tidak memilih tanggal pembentukan Provinsi Jawa Timur oleh Republik Indonesia dua hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Bangsa.


Provinsi Jawa Timur telah memilih tanggal 12 Oktober  1945, yaitu hari pertama RMT Ario Soerjo memulai pekerjaannya sebagai Gubernur Jawa Timur di  Alun-alun Straat atau Jalan Pahlawan 110 Surabaya sekarang. Sebelum tanggal 12 Oktober 1945, Gubernur Suryo berkedudukan di Kantor Residen Bojonegoro (sekarang Gedung Bakorwil Bojonegoro Pemerintah Provinsi Jawa Timur).


Tanpa sengaja kita masyarakat Jawa Timur telah menghapus sejarah imperium Singosari, Majapahit, Mataram dan Belanda. Sejarah Jawa Timur tidak tua. Sejarah Jawa Timur hanya bermula dari sosok Gubernur Soerjo. Hilanglah sosok Ken Arok pemersatu Jawa Timur, Prabu Kertanegara pembangun kejayaan Jawa Timur sebagai pusat peradaban, Panembahan Senopati sebagai pembentuk kawasan Bang Wetan Mataram, Willem Charles Haderman sebagai Gubernur Pertama Gewest Oost Java, bahkan sejarah pembagian Pulau Jawa menjadi tiga Provinsi pada tanggal 19 Agustus 1945 ikut lenyap sirna dari pelataran sejarah resmi pembentukan  Provinsi Jawa Timur.


Dari uraian di atas apakah anda setuju usia Jawa Timur hanya 75 tahun?


*) Penulis adalah Koordinator Sahabat Mahfud MD Wilayah Jawa Timur/ Pengurus Harian PWLP Ma'arif NU Jatim.

Bagikan:

Komentar