|
Menu Close Menu

Menang Kakak, Kalah Kakak

Kamis, 10 Desember 2020 | 16.30 WIB




Oleh Moch Eksan


Pilkada Jember 2020 ini, merupakan pilkada ke-2 bagi Partai NasDem. Di usia ke-9, NasDem Jember sudah 2 kali mengusung pasangan calon bupati dan wakil bupati. 2015, NasDem mengusung dr Hj Faida, MMR-Drs KH Abdul Muqit Arief dan 2020, Ir H Hendy Siswanto-KH M Balya Firjaun Barlaman. Menariknya, NasDem selalu menjadi partai pertama kali merekomendasi. Dan, alhamdulillah kedua pasangan calon tersebut ditakdirkan sebagai pemenang.


Sesungguhnya kemenangan yang diraih oleh pasangan calon merupakan hasil kerja agregatif dari seluruh kekuatan, baik dari pasangan calon sendiri, koalisi partai, simpatisan, relawan, pendukung maupun pemilih.  Bagi NasDem, Pilkada Jember 2020 dapat dikatakan, "menang kakak, kalah kakak". Sebab sejatinya, dr Faida dan Haji Hendy adalah "keluarga besar" NasDem. Dr Faida pernah tercatat sebagai fungsionaris DPW Partai NasDem Jawa Timur, dan drg Abdul Rochim, M.Kes, MMR suaminya, caleg DPR RI NasDem 2019 dengan perolehan suara nomer 2. Sementara, Haji Hendy sudah resmi berKTA NasDem.


Kendati begitu, seperti ajaran Surya Paloh, tatkala kader NasDem menjadi pejabat publik, maka NasDem mewakafkan mereka pada publik. Pun demikian, baik dr Faida maupun Haji Hendy, ia pemimpin seluruh rakyat Jember tanpa terkecuali. Partai, pilkada, dan kemenangan sekadar sarana, bukan tujuan. Kesejahteraan rakyat merupakan tujuan sebagai manifestasi dari konsep walfare state yang dianut oleh negeri ini.


Oleh karena itu, Pidato Kemenangan Haji Hendy-Gus Firjaun, Rabu sore, 9 Desember 2020, sangatlah tepat. Bahwa, kemenanganya adalah "kemenangan rakyat Jember", yang hak-haknya wajib segera dikembalikan. Nampak sekali, visi pasangan birokrat-kiai dan pengusaha-politisi ini sangat restoratif, seperti politik gagasan Surya Paloh dalam membangun bangsa. Realisasi 7 program unggulan, mesti tergambar secara teknokratis dalam rancangan pembangunan dan anggaran daerah. Kerja-kerja teknokratis ini merupakan kelanjutan dari kerja-kerja politis pasca kemenangan, sehingga proses demokrasi bisa menghadirkan kesejahteraan rakyat.


Perlu diingat, kemenangan bukan untuk kemenangan. Tapi, kemenangan untuk kesejahteraan. Socrates mengkritik praktek demokrasi karena dalam dirinya mengandung cacat filosofi bawaan. Banyak orang yang terpilih dalam proses pemilihan, rendah kompetensinya, baik dari segi leadership, managerial, maupun tehnikal. Akibatnya, dalam menjalankan pemerintahan mengalami "gamang", tak tahu jalan, terjebak agenda harian dan tanpa terobosan.


Memang, Haji Hendy-Gus Firjaun adalah pasangan bupati dan wakil bupati ideal, bahkan paling ideal dibandingkan dengan bupati dan wakil bupati sebelumnya dari segi usia dan pengalaman. Sebab, Haji Hendy berkuasa nanti saat dilantik pertengahan Februari 2021 berusia 60 tahun. Sementara, Ir MZA Djalal di usia 49 tahun dan dr Faida di usia 47 tahun pada saat mulai berkuasa. Selain usia, pengalaman birokrasi Haji Hendy dan politik Gus Firjaun lebih panjang. Namun dari segi politis, kemenangannya paling kecil dari persentase, hanya 48,4 persen. Sementara Pak Djalal dan dr Faida masing-masing 58,55 persen dan 53,75 persen.


Target Haji Hendy memperoleh kemenangan 72 persen, tak tercapai. Ini cukup masuk akal, mengingat: Pertama, kondisi pandemi covid-19 yang membuat sebagian pemilih ketakutan dan memilih golput. Kedua, musim hujan yang membuat sebagian pemilih malas datang ke TPS. Ketiga, pertarungan sengit 3 pasangan calon, dalam memperebutkan jeruk  purut massa pemilih yang sama. Sehingga, rekor persentase angka selama 20 tahun terakhir, masih belum terpecahkan dan tetap dipegang oleh Pak Djalal. Padahal di 19 kabupaten/kota yang menyelenggarakan pilkada di Jatim, ada yang mencapai di atas 70 persen, seperti Indrata Nur Bayu Aji 74,88 persen di Pacitan,  Hanindhito Himawan Pramana 76,54 persen di Kabupaten Kediri, dan Ony Anwar 94,4 persen di Ngawi.


Lebih dari itu sebenarnya, semenjak pemilu 2009 sampai sekarang, tak ada satu pun partai politik yang meraih di atas 9 kursi. Ini menunjukkan, struktur elite dan massa penduduk Jember mengalami "fragmentasi sosial". Era unifikasi politik santri pada 1999 dan 2004, runtuh bersamaan dengan konflik internal keluarga besar PKB. Disamping, tersebarnya para kader NU di berbagai partai, baik yang berasas Islam maupun nasionalis. Hal yang sama, dalam proses pengusungan dan pemenangan pasangan calon, sangat sulit disatukan pada pasangan calon tertentu. Praktis, yang bisa disepakati di tengah menguatnya faksi politik kaum santri, tafsir politik khittah NU KH Achmad Shiddiq yang berlaku: "NU tidak kemana-mana, tapi ada dimana-mana".


Maka dari itu, kapitalisasi pemilih menjadi satu kekuatan besar, secara ideologis dan sosiologis sangatlah sulit. Pemilih di Jember sangat "cair" saat ini. Tak ada tokoh sentral yang dominan dan determinan menentukan arah preferensi pemilih. Radius pengaruh dari pemilu ke pemilih kian mengecil. Bahkan terkadang, di level TPS, kalah dengan arus pragmatisme warga. Pemilih semakin otonom, dan variabel yang menentukan semakin beragam. Money politic dalam berbagai survey, justru dianggap wajar. Hasil survey  Peta Politik Kabupaten Jember dari Politika Research and Consulting (PRC), 26 November-1 Desember 2020 menyebutkan, 49,2 persen pemilih mentoleransi politik uang,  dan 21,2  persen menentukan pilihan.


Banyak pihak menyatakan yang penting menang berapa pun perolehan suaranya. Kegagalan dalam memenuhi target, juga banyak pihak memaklumi. Kemenangan menjadi "tiket" perubahan Jember lebih baik. Dengan kepemimpinan pasangan Haji Hendy-Gus Firjaun, Jember akan on the right track di atas rel strategi dan inovasi, sebagaimana pembangunan jalur ganda KA Semarang-Bojonegoro. Selamat sebagai bupati dan wakil bupati terpilih, rakyat menunggu karyamu dalam membangun Jember!.


*Moch Eksan, Pendiri Eksan Institute dan Wakil Ketua Bidang Agama dan Masyarakat Adat DPW Partai NasDem Jawa Timur.

Bagikan:

Komentar