> Tafsir tweet Pak Mahfud MD
|
Menu Close Menu

Tafsir tweet Pak Mahfud MD

Rabu, 02 Desember 2020 | 08.59 WIB

 


Oleh A. Dardiri Zubairi 


Saya berempati bagaimana perasaan pak Mahfud MD di Jakarta mengetahui sang Ibu didatangi ramai-ramai oleh sekelompok orang di Pamekasan. Meski di media dijelaskan sang ibu tidak ada di rumah itu, tetap saja tindakan sekelompok orang itu bagi pak Mahfud melukai. 


Bagi orang Madura ibu adalah "tempat patapa'an" (tempat bertapa). Selama 9 bulan 

Kita bertapa di rahim ibu sebelum akhirnya kita lahir "sebagai orang sakti" yang diberi mandat oleh Allah menjadi Khalifah di muka bumi ini.


Tapi bagi orang Madura, bertapa tidak berhenti di rahim. Ibu selamanya adalah tempat bertapa. Untuk menjadi "sakti" (kebahagian, ketenangan hidup, sukses lahir bathin atau dunia-akhirat) orang Madura tetap harus bertapa di 'rahim" ibu, dalam doanya, ridlanya, dan kasih sayangnya. Pantang bagi orang Madura menerima "basto" (murka) ibu. "Basto" ibu diyakini akan membuat keberkahan hidup hilang. 


Itulah kenapa pak Mahfud MD di tweetnya begitu "emosional', sesuatu yang bisa beliau  tangguhkan seandainya yang diserang beliau pribadi maupun posisinya sebagai menteri Menkopolhukam. Ini Ibu. Tempat bertapa. 


Satu lagi, kedatangan sekelompok orang ke rumah pak Mahfud dalam tradisi Madura disebut 'alorok'. Dulu biasanya tradisi ini dilakukan sendiri jika ingin duel dengan lawan, bukan rame-rame. Tetapi ada yang lebih elegan dalam tradisi MADURA untuk menyelesaikan masalah, yaitu "bhek rembhek" (musyawarah). Ajak dan undang pak Mahfud dialog, bicara "pamadhure" (dengan cara orang Madura); terbuka, apa adanya, jelas, dan tegas. Saya rasa pak Mahfud siap datang, entah jika kelompok orang itu menutup ruang dialog.


Tidak seluruh pernyataan pak Mahfud soal HRS (jika ini masalahnya) saya setujui, tapi 'alorok' rumah ibu pak Mahfud adalah tindakan tak beradab. Kasus ini juga menunjukkan bahwa di Madura telah terjadi pergeseran nilai yang tak boleh dianggap remeh. Pergeseran nilai ini ditangkap orang Jakarta dengan cerdik. 


Bagikan:

Komentar