|
Menu Close Menu

Barokah, Pendidikan, dan Ancaman

Minggu, 24 Maret 2024 | 14.45 WIB



Oleh : Padilah Ramadan

Aktivis Situbondo

Lensajatim.id, Opini- Seiring perkembangan zaman dunia pendidikan pun mengalami perubahan yang sangat drastis termasuk pendidikan Indonesia. Semakin berkembang dari tahun ke tahun kebijakan–kebijakan yang di keluarkan oleh pemangku kebijakan terbukti membawa berbagai perubahan di pendidikan Indonesia. Akan tetapi dari kebijakan yang diambil terdapat pro dan kontra, jika hanya sebuah persoalan hambatan-hambatan yang diakibatkan dari instrumentalisasi lupa diri terhadap dunia pendidikan, maka sebuah kritik terhadap persoalan persoalan tersebut patut dimaklumi mengingat di dunia ini tiap individu atau golongan yang memiliki pola pikir yang berbeda. Hal tersebut menyesuaikan dengan wilayah dari berbagai suku, ras, dan agama.  


Pendidikan di Indonesia merupakan sebuah polemik yang tidak kunjung habis. Saat ini banyak orang yang bertanya “Apakah kesejahteraan yang diberikan oleh instansi pendidikan berbanding lurus dengan hasil yang diharapkan?”.


Bagi Pendidik yang berbondong-bondong untuk meraih status dan penghargaan tanpa pernah berfikir “Apakah mereka layah mendapat penghargaaan tersebut?”.


Dalam agama ada yang disebut dengan konsep barokah atau bertambahnya kebaikan, dimana orang yang melakukan suatu hal di anggap barokah jika slalu bertambahnya kebaikan orang tersebut. Akan tetapi apa korelasi barokah dalam dunia pendidikan dan bagaimana mengartikan barokah tersebut? . 


Tidak sedikit dari beberapa guru yang telah lolos mendapatkan status tersebut alih alih disampaikan ini merupakan sebuah barokah, namun tidak sedikit pula guru yang tidak dapat mencerminkan atau layak dirinya di anggap sebagai guru. Persoalannya adalah bukan materi apa yang diberikan sebagai sebuah nilai, akan tetapi bagaimana proses pembelajaran yang dilakukan. Dalam setiap proses belajar mengajar guru tidak seharusnya memposisikan dirinya sebagai orang yang paling paham melainkan bagaimana caranya seorang guru dapat memberikan rangsangan dan mengembangkan potensi bagi masing-masing peserta didik. 


Kekecewaan yang terjadi adalah ketika seorang peserta didik sedang dalam proses pembentukan kerangka berfikir dengan selalu berupaya menganalisis setiap hal yang terjadi dilingkungan sekitarnya yang bersifat mendasar, ironinya guru selalu mengklaim hal tersebut adalah sebuah gebrakan yang tidak seharusnya dilakukan. Konsep barokah yang sering dikumandangkan oleh sebagian guru atau pengajar seolah olah adalah hal yang seharusnya dilakukan, dimana seorang murid dilarang menganalisis dan mengeluarkan argumennya terhadap apa yang telah mereka amati karna di anggap tidak punya etika. Menurut Paulo Freire dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Alat Perlawanan guru atau pengajar tidak ada bedanya hanya saja guru atau pengajar h sebatas orang yang mentransfer ilmu, dengan seperti itu guru bukanlah objek dan murid sebagai subjek, akan tetapi guru dan murid adalah sama sama subjek dan objeknya adalah ilmu pengetahuan. 


Prinsip pendidikan yang seharusnya dapat mengembangkan dan membentuk kerangka berpikir seorang murid per hari ini sudah tidak lagi hadir dalam dunia pendidikan. Barokah yang selalu menjadi tameng bagi sebagian guru atau pengajar menjadi penyebab utama tidak berkembangnya dan tidak meningkatnya kualitas murid atau peserta didik di sebuah instansi pendidikan.


Dengan mengetahui esensi dari pada pendidikan dan memahami konsep barokah yang sebenarnya, maka peserta didik harus mendapatkan kebebasan dalam mengekspresikan pikirannya, karena dengan seperti itu pendidikan yang sebenarnya telah hadir dalam proses belajar mengajar. Hal yang paling spesifik dalam membangun dunia pendidikan terlihat dari dimensi kepemimpinan sebagai poros pemangku kebijakan.


NB : Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis

Bagikan:

Komentar