|
Menu Close Menu

Anggota DPD RI Ning Lia Dukung Kemen PPPA Hidupkan Permainan Tradisional sebagai Penguat Karakter Anak

Minggu, 16 November 2025 | 17.15 WIB

Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Ning Lia Istifhama saat bertemu dengan Menteri PPPA Arifah Fauzi. (Dok/Istimewa).
Lensajatim.id, Surabaya— Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menyatakan dukungan penuhnya terhadap langkah Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) yang tengah menggiatkan kembali permainan tradisional sebagai strategi memperkuat karakter anak Indonesia. Upaya ini dinilai penting untuk menjawab meningkatnya kasus kekerasan dan kerentanan anak di tengah perubahan gaya hidup digital yang kian masif.


Menurut Ning Lia, permainan rakyat dan olahraga tradisional bukan sekadar sarana hiburan, melainkan ruang pembelajaran karakter yang telah melekat dalam budaya bangsa sejak lama. Indonesia diketahui memiliki lebih dari 2.600 permainan tradisional yang masing-masing mengandung nilai luhur.


“Permainan tradisional itu adalah bahasa budaya. Ia membentuk cara berpikir, cara berinteraksi, dan cara kita memahami kehidupan. Mulai dari congklak yang mengajarkan strategi, gobak sodor yang menumbuhkan keberanian, hingga egrang dan tarik tambang yang melatih kekompakan,” ujar Ning Lia, keponakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa tersebut.


Ia menambahkan, nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tradisional bukan sekadar filosofi permainan, tetapi juga bagian dari falsafah kebangsaan. Identitas budaya, katanya, merupakan fondasi yang tak kalah penting dibanding kemajuan teknologi.


Ning Lia juga menyoroti meningkatnya paparan gawai pada anak, yang menyebabkan berkurangnya ruang interaksi sosial. Kondisi ini, menurutnya, berpotensi melemahkan karakter generasi muda jika tidak segera diimbangi.


“Ketika anak-anak kembali mengenal permainan yang melatih motorik, kecerdasan sosial, ketangguhan, dan kerja sama, sesungguhnya kita sedang menanamkan fondasi karakter kebangsaan yang kuat. Karena itu, saya mendukung penuh langkah Kemen PPPA dan KPOTI, termasuk perluasan ruang permainan di berbagai daerah,” kata putri KH Maskur Hasyim yang juga peraih DetikJatim Award 2025 tersebut.


Ia berharap pemerintah daerah dan lembaga pendidikan dapat terlibat aktif agar permainan tradisional kembali hidup sebagai aktivitas harian di keluarga, sekolah, maupun komunitas. “Ini bukan sekadar nostalgia, tetapi upaya menyelamatkan generasi dari krisis karakter akibat ketergantungan digital,” tegasnya.


Sebelumnya, Menteri PPPA Arifah Fauzi menjelaskan bahwa tingginya angka kekerasan terhadap anak dipengaruhi lima faktor utama: tekanan ekonomi, pola asuh, media sosial, lingkungan, dan maraknya pernikahan usia anak. Penggunaan gawai tanpa pengawasan disebut menjadi salah satu pemicu terbesar.


“Dari kasus yang kami tangani, 90 persen kekerasan yang melibatkan anak dipicu penggunaan media sosial yang tidak bijaksana. Anak tidak bisa hanya dilarang bermain gawai. Kita butuh alternatif yang menghadirkan interaksi nyata dan nilai kebersamaan. Permainan tradisional memuat nilai kejujuran, kedisiplinan, sportivitas, dan kerja sama,” ujar Menteri Arifah.


Sebagai langkah konkret, Kemen PPPA menyiapkan ruang permainan tradisional berbasis kearifan lokal di berbagai daerah, bekerja sama dengan Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI). Inisiatif ini diharapkan menjadi ruang sosial alternatif yang sehat bagi anak-anak.


“Kami juga tengah mengupayakan pembentukan Museum Permainan Tradisional sebagai bentuk pelestarian budaya nasional,” kata Menteri PPPA.


Program ini diharapkan menjadi momentum mengembalikan permainan tradisional sebagai bagian integral dalam pendidikan karakter bangsa. (Had) 

Bagikan:

Komentar