|
Menu Close Menu

Diduga Sajikan Makanan Basi, Dapur MBG di Desa Pangeleyan Dikeluhkan Wali Murid

Senin, 02 Februari 2026 | 18.53 WIB

Foto: Sajian masakan di dapur MBG Desa Pangeleyan yang diduga basi. (Syaiful-Lensajatim, Bangkalan) 

BANGKALAN, lensajatim.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan. Kali ini, dapur MBG yang berlokasi di Desa Pangeleyan, Kecamatan Tanah Merah, Bangkalan,  diduga menyajikan makanan tidak layak konsumsi alias basi, kepada siswa MA Annamirah, TK Dharma Wanita, dan SDN Petrah 1.


Sejumlah wali murid mengeluhkan kualitas makanan yang diterima anak-anak mereka. Lauk pauk yang disajikan dinilai terlalu asin, berbau tidak sedap, bahkan diduga dalam kondisi basi, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan dampak kesehatan bagi para siswa.


Seorang wali murid, yang memilih menyembunyikan identitasnya demi keamanan dan privasi, mengungkapkan bahwa anaknya enggan menyentuh makanan yang diterima.


Lauk pauk yang diterima anak-anak disebut berbau menyengat, terlalu asin, dan diduga sudah tidak segar. Kekhawatiran wali murid bukan tanpa dasar.


Mereka mengaku menyimpan foto dan video kondisi makanan yang dinilai tidak layak konsumsi, sebagian bahkan tampak berubah warna dan mengeluarkan bau tidak sedap.


“Nasi dan ikannya bau dan basi, Mas. Rasanya juga asin. Ini katanya makanan bergizi, tapi kalau kondisinya seperti ini justru bikin anak sakit,” ujarnya kepada wartawan. Senin (2/2/2026).


Dalam skema MBG, dapur penyedia seharusnya memenuhi standar higiene sanitasi pangan, mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, penyimpanan, hingga distribusi.


Namun temuan di lapangan justru menunjukkan indikasi sebaliknya. Jika dugaan makanan basi ini terbukti, maka yang terjadi bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan kelalaian sistemik.


Kejadian ini mendapat sorotan dari LSM Triga Nusantara Indonesia (TRINUSA). Ketua TRINUSA, H. Hafadoh, dirinya menilai kasus ini berpotensi membahayakan keselamatan anak-anak dan tidak boleh ditutup-tutupi.


“Program MBG menyasar peserta didik. Jika makanan yang disajikan tidak memenuhi standar kebersihan dan kelayakan pangan, apalagi sampai basi, itu bentuk kelalaian yang tidak bisa ditoleransi,” tegasnya.


Ia mendesak instansi terkait untuk segera turun ke lapangan melakukan inspeksi mendadak, audit dapur MBG, serta memastikan penerapan standar higiene dan keamanan pangan berjalan sesuai ketentuan.


H. Hafadoh juga mendorong agar bukti visual yang dimiliki wali murid dijadikan dasar bagi dinas terkait dan aparat pengawas untuk melakukan investigasi secara terbuka dan transparan.


"Wali murid berharap pemerintah daerah bertindak cepat dan tegas agar program makanan bergizi benar-benar melindungi kesehatan anak, bukan sebaliknya," tutup H. Hafadoh saat menerima keluhan dari wali murid.


Di tengah sorotan tersebut, Zaiqulhaq Alfarizi, Kepala Desa Pangeleyan memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa pemerintah desa tidak berada pada posisi teknis pengelolaan dapur, namun menyampaikan penjelasan berdasarkan keterangan pihak pengawas.


Menurut Kades Zaiqulhaq, berdasarkan hasil klarifikasi Pengawas SPPG, makanan yang dikeluhkan bukan dalam kondisi basi.


“Pengawas SPPG telah melakukan klarifikasi bersama guru yang bersangkutan serta unsur Muspika Kecamatan Tanah Merah. Dijelaskan bahwa aroma kecut yang tercium berasal dari perpaduan saus paprika, bawang bombay, dan nanas, sehingga menimbulkan bau asam, bukan karena makanan rusak atau basi,” jelasnya.


Meski demikian, Kepala Desa mengakui bahwa kejadian tersebut perlu menjadi bahan evaluasi agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat.


“Kami berharap kejadian ini menjadi evaluasi bersama bagi tim SPPG/BGN, Yayasan Bhayangkari Polres Bangkalan, dan pihak mitra pelaksana, agar ke depan kualitas dan penyajian makanan lebih diperhatikan,” ujarnya. (Syaiful)

Bagikan:

Komentar