|
Menu Close Menu

Pegawai Swalayan NU di Batang-batang Meninggal Dunia Akibat Sengatan Listrik Saat Membantu Perbaikan Atap

Senin, 02 Februari 2026 | 09.18 WIB

Peristiwa pegawai tersengat aliran listrik.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Sumenep— Peristiwa duka terjadi di sebuah swalayan NU yang berlokasi di Desa Batang-batang Daya, Kecamatan Batang-batang, Kabupaten Sumenep. Seorang pegawai swalayan dilaporkan meninggal dunia setelah tersengat aliran listrik saat membantu perbaikan atap bangunan.


Korban diketahui bernama Deris Ramdani, yang sehari-hari bekerja sebagai pramuniaga di swalayan tersebut. Kejadian nahas itu berlangsung pada Sabtu (31/1/2026) sekitar pukul 13.00 WIB.


Berdasarkan informasi yang dihimpun, saat kejadian korban turut membantu proses perbaikan seng atap bersama seorang tukang. Tukang tersebut diketahui masih memiliki hubungan keluarga dengan almarhum.


Diduga, seng yang sedang diperbaiki berada dalam jarak dekat dengan kabel listrik milik PLN. Kontak dengan aliran listrik itulah yang diduga kuat menyebabkan korban tersengat hingga tak sadarkan diri.


Korban sempat dievakuasi ke rumah duka. Namun, nyawanya tidak berhasil diselamatkan dan dinyatakan meninggal dunia.


Peristiwa ini menyisakan duka mendalam, sekaligus menimbulkan kegelisahan di kalangan pegawai swalayan. Sejumlah pegawai menilai penanganan pascakejadian belum sepenuhnya mencerminkan empati terhadap keluarga korban. 


Seorang sumber internal menyebutkan bahwa swalayan kembali beroperasi beberapa jam setelah insiden terjadi. Kondisi tersebut dinilai membuat sebagian pegawai merasa kurang nyaman. 


“Paling tidak, operasional ditutup sampai proses pemakaman selesai. Ini soal empati,” ujar sumber tersebut, Minggu (1/2/2026).


Menanggapi hal itu, Ketua Koperasi Syariah Nusa Umat, Homaidi, memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa seluruh pengurus koperasi hadir ke rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa secara langsung. 


“Kami semua pengurus datang ke rumah almarhum dan menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga,” kata Homaidi saat dikonfirmasi, Minggu sore.


Ia membenarkan bahwa swalayan sempat ditutup setelah kejadian. Namun, penutupan tersebut tidak dilakukan selama satu hari penuh.


“Swalayan ditutup beberapa jam dan dibuka kembali pada sore hari, dengan pertimbangan kebutuhan masyarakat sekitar,” jelasnya.


Homaidi menegaskan, keputusan tersebut tidak dimaksudkan untuk mengabaikan duka yang dirasakan keluarga korban. Menurutnya, pihak pengelola tetap berupaya menunjukkan sikap empati.


Terkait kronologi kejadian, ia menyampaikan bahwa almarhum tidak menerima perintah resmi dari pengelola untuk membantu pekerjaan perbaikan atap.


“Kemungkinan almarhum membantu pamannya atas inisiatif pribadi,” ujarnya.


Atas kejadian ini, pihak koperasi menyatakan akan melakukan evaluasi internal secara menyeluruh. Pengelola juga diingatkan agar tidak melibatkan karyawan dalam pekerjaan yang berisiko tinggi.


“Kami akan memperketat pengawasan keselamatan kerja. Kejadian ini menjadi pelajaran penting agar hal serupa tidak terulang,” pungkas Homaidi. (Yud) 

Bagikan:

Komentar