|
Menu Close Menu

Jelang Idulfitri, Senator Lia Istifhama Ingatkan Waspada Penularan Campak di Tengah Mobilitas Tinggi

Kamis, 12 Maret 2026 | 21.02 WIB

Anggota DPD RI Lia Istifhama.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya – Meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang dan selama perayaan Hari Raya Idulfitri 1447 H berpotensi meningkatkan risiko penularan berbagai penyakit menular, salah satunya campak. Kondisi ini menjadi perhatian Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, yang mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan, khususnya dalam melindungi anak-anak.


Perempuan yang akrab disapa Ning Lia tersebut menilai tradisi silaturahmi saat Lebaran yang identik dengan perjalanan dan pertemuan dalam jumlah besar dapat memperbesar peluang penularan penyakit.


“Ini tetap menjadi kewaspadaan kita bersama, terutama menjelang hari raya. Mobilitas masyarakat meningkat dan banyak aktivitas berkumpul, sehingga risiko penularan penyakit juga ikut meningkat,” ujar Ning Lia.


Ia mengingatkan agar masyarakat lebih berhati-hati saat berinteraksi dengan bayi dan balita ketika bersilaturahmi. Menurutnya, kebiasaan memegang atau mencium anak kecil secara langsung dapat meningkatkan potensi penularan penyakit karena daya tahan tubuh mereka masih rentan.


“Salah satu yang perlu diingat, jangan sembarangan memegang atau mencium anak-anak, terutama bayi dan balita. Daya tahan tubuh mereka masih sangat rentan,” katanya.


Imbauan tersebut sejalan dengan peringatan Kementerian Kesehatan RI yang meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan campak menjelang periode mudik dan libur Lebaran. Mobilitas yang tinggi serta potensi kerumunan dinilai dapat memperbesar risiko penularan penyakit menular, terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.


Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hingga minggu ke-8 tahun 2026 tercatat 10.453 kasus suspek campak, dengan 8.372 kasus terkonfirmasi dan enam kasus kematian. Selain itu, terdapat 45 kejadian luar biasa (KLB) campak yang terjadi di 29 kabupaten/kota pada 11 provinsi di Indonesia.


Meski tren kasus sempat meningkat pada Januari 2026 dan mulai menunjukkan penurunan pada Februari, masyarakat tetap diminta tidak lengah, mengingat aktivitas mudik dan silaturahmi keluarga besar dapat meningkatkan potensi penularan.


Ning Lia menegaskan bahwa imunisasi menjadi salah satu langkah paling efektif untuk mencegah campak. Karena itu, ia mengimbau para orang tua memastikan anak-anak telah mendapatkan vaksin sesuai jadwal yang dianjurkan.


“Anak yang belum mengenal berbagai virus atau bakteri perlu dikenalkan melalui vaksin agar antibodinya terbentuk. Dengan begitu, ketika terkena penyakit, tubuhnya sudah memiliki pertahanan untuk melawannya,” jelasnya.


Imunisasi campak-rubela sendiri diberikan dalam tiga dosis, yakni saat anak berusia 9 bulan, dilanjutkan dengan dosis penguat pada usia 18 bulan, serta saat anak berusia 6 hingga 7 tahun.


Selain memastikan imunisasi lengkap, Ning Lia juga mengajak masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti rutin mencuci tangan dengan sabun, menerapkan etika batuk, serta menggunakan masker saat berada di kerumunan.


Menurutnya, kewaspadaan bersama menjadi kunci penting untuk mencegah penyebaran penyakit, terutama pada momentum besar seperti Idulfitri yang identik dengan aktivitas silaturahmi dan perjalanan jarak jauh.


“Silaturahmi tetap penting, tetapi kesehatan juga harus dijaga. Mari kita lindungi anak-anak kita dengan meningkatkan kewaspadaan dan memastikan imunisasi mereka lengkap,” pungkasnya. (Red) 

Bagikan:

Komentar