|
Menu Close Menu

Peringati Hari Perempuan Internasional, Anggota DPD RI Lia Istifhama Ajak Perempuan Berani Tampil Memimpin

Senin, 09 Maret 2026 | 15.48 WIB

Anggota DPD RI Lia Istifhama saat jadi narasumber dalam acara peringatan Hari Perempuan Internasional.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya— Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, mengajak perempuan Indonesia untuk berani mengambil peran sebagai pemimpin dengan membangun karakter, kecerdasan, serta keberanian bersuara di ruang publik.


Ajakan tersebut disampaikan dalam pemaparannya bertajuk “Suara Perempuan untuk Indonesia Lebih Setara” yang digelar di Surabaya, Sabtu (8/3/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Internasional.


Dalam paparannya sebelum sesi dialog, Ning Lia—sapaan akrabnya—menegaskan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam menentukan arah kemajuan bangsa. Ia bahkan mengutip sebuah hadis yang menyebut perempuan sebagai tiang negara.


“Jika perempuan baik maka negara akan baik, dan jika perempuan rusak maka negara pun akan rusak,” ujarnya di hadapan peserta kegiatan.


Menurutnya, perempuan memiliki kekuatan alami berupa empati dan kemampuan membangun relasi sosial yang kuat. Hal ini sejalan dengan pandangan psikolog perkembangan Sabina Spielrein yang menyebut jiwa perempuan terbentuk melalui relasi dan empati terhadap orang lain. 


Selain membahas peran sosial perempuan, Ning Lia juga menyinggung perubahan standar kecantikan perempuan dari masa ke masa. Ia menjelaskan bahwa konsep kecantikan sering dipengaruhi oleh budaya dan tren sosial, mulai dari era Yunani Kuno, masa Renaissance di Italia, hingga era modern yang banyak dipengaruhi media sosial dan budaya populer.


Namun menurutnya, kecantikan perempuan tidak boleh hanya dilihat dari sisi fisik semata.


“Perempuan tidak cukup hanya memiliki outer beauty, tetapi juga harus memiliki inner beauty berupa kecerdasan, karakter, dan kemampuan berkomunikasi,” tegasnya. 


Ia juga mengingatkan agar perempuan tidak saling menjatuhkan karena standar kecantikan tertentu. Sebaliknya, perempuan harus saling mendukung dan fokus pada pengembangan diri.


Dalam pemaparannya, Ning Lia memperkenalkan konsep kepemimpinan perempuan melalui akronim PEREMPUAN, yaitu Personality, Empathy, Responsibility, Equity, Motivation, Positivity, Universal, Analytical, dan Negotiation. Konsep tersebut, menurutnya, dapat menjadi panduan bagi perempuan dalam membangun karakter kepemimpinan.


Selain itu, ia juga memperkenalkan nilai KARTINI yang meliputi Kindness Adaptation, Respect, Toughness, Intelligence, Negotiation, dan Integrity sebagai landasan karakter bagi perempuan yang ingin berperan dalam kepemimpinan publik.


Dalam materinya, Ning Lia turut mengangkat gagasan perjuangan Raden Ajeng Kartini yang mendorong perempuan untuk berani bermimpi, berpikir maju, dan berkontribusi bagi masyarakat. 


“Perempuan harus berani berbicara, berani berkontribusi, dan tidak takut mengambil tanggung jawab sebagai pemimpin,” ujarnya.


Ia juga memaparkan data bahwa di Jawa Timur terdapat lebih dari 31 juta pemilih dalam Pemilu 2024, dengan jumlah pemilih perempuan bahkan lebih banyak dibanding laki-laki. Meski demikian, keterwakilan perempuan dalam politik masih belum seimbang. 


Karena itu, ia mendorong perempuan untuk meningkatkan partisipasi dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan di ruang publik. 


“Perempuan harus mulai mengaktualisasikan diri sebagai calon pemimpin, bukan hanya menjadi pengikut,” tegasnya. 


Pada sesi dialog menjelang berbuka puasa, Ning Lia juga berbagi pengalaman mengenai tantangan kepemimpinan perempuan yang sering dihadapkan pada dilema antara bersikap lembut atau tegas.


Menurutnya, perempuan perlu menjaga keseimbangan antara empati dan ketegasan agar kepemimpinan tetap dihormati tanpa menimbulkan rasa takut.


“Leadership itu bukan soal posisi, tetapi aksi. Kepemimpinan adalah tindakan nyata yang membuat orang mengikuti kita karena percaya, bukan karena takut,” pungkasnya. (Red) 

Bagikan:

Komentar