|
Menu Close Menu

Halal Bihalal, Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim MH Said Abdullah Sebut Jatim Basis Ijo-Abang

Minggu, 12 April 2026 | 16.16 WIB

Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur MH Said Abdullah saat sambutan dalam acara Halal Bihalal di Hotel Shangri-La Surabaya. (Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya– Dinamika politik di Jawa Timur dinilai tidak terlepas dari perpaduan kekuatan “ijo” dan “abang” yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat. Kolaborasi ini mencerminkan sinergi antara kalangan santri dan nasionalis sebagai dua pilar penting dalam peta politik daerah.


Pandangan tersebut disampaikan oleh MH Said Abdullah dalam acara Halal Bihalal DPD PDI Perjuangan Jawa Timur yang digelar di Hotel Shangri-La Surabaya, Minggu (12/04/2026).


Menurut Said Abdullah, simbol “ijo” merepresentasikan kekuatan kalangan santri yang identik dengan Nahdlatul Ulama. Sementara “abang” menjadi simbol nasionalisme yang melekat pada PDI Perjuangan.


“Ijo adalah simbol santri, cerminan kekuatan Nahdlatul Ulama. Abang adalah simbol nasionalis, kekuatan PDI Perjuangan. Keduanya menjadi akar politik hingga ke kampung-kampung di Jawa Timur,” ujarnya.


Ia menjelaskan, pembelahan sosial antara santri dan abangan yang pernah dikaji oleh Clifford Geertz sejak era 1950-an kini semakin melebur. Bahkan, dalam berbagai survei nasional, basis pemilih Nahdlatul Ulama banyak yang menyalurkan dukungan politiknya kepada PDI Perjuangan.


“Karena memiliki akar yang sama, tidak boleh ada jarak di antara kita. Justru harus terus bergandengan tangan antara NU dan PDI Perjuangan dalam membangun bangsa,” tegasnya.


Secara sosiologis, lanjut Said, kelompok santri dan abangan memiliki kesamaan sebagai masyarakat akar rumput yang menghadapi tantangan serupa, mulai dari persoalan ekonomi, pendidikan, hingga akses pekerjaan. Kesamaan ini dinilai menjadi landasan kuat untuk memperjuangkan kesejahteraan bersama.


Lebih jauh, ia menegaskan bahwa kesamaan tersebut juga tercermin dalam aspek ideologis. Nilai-nilai ke-NU-an yang mengusung Islam wasathiyah—dengan prinsip moderasi, keseimbangan (tawazun), dan toleransi (tasamuh)—dinilai sejalan dengan semangat kebangsaan yang diperjuangkan PDI Perjuangan.


“Keislaman harus memayungi, memberi rahmat, dan kedamaian. Bukan dihadirkan secara menakutkan, apalagi terhadap sesama anak bangsa,” ujarnya.


Dalam kesempatan itu, Said juga mengingatkan pentingnya menjaga kejujuran di tengah maraknya disinformasi di era digital. Ia menyoroti fenomena post-truth yang dinilai menjadi tantangan serius, di mana kebenaran kerap tertutupi oleh informasi yang menyesatkan.


Untuk itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat budaya tabayun, mempererat silaturahmi, serta menjaga kejernihan berpikir agar tidak mudah terprovokasi.


Said turut menyinggung sejarah tradisi halalbihalal yang digagas tokoh NU KH Abdul Wahab Hasbullah bersama Presiden pertama RI Soekarno sebagai bentuk kearifan dalam merawat persatuan di tengah dinamika politik.


“Halalbihalal adalah ruang menjahit persaudaraan, menghapus ego, dan membangun kejujuran. Tradisi ini harus terus kita jaga,” tuturnya.


Ia menegaskan, PDI Perjuangan akan tetap konsisten menjaga nilai persatuan, kejujuran, serta keberpihakan kepada rakyat dalam setiap langkah politiknya.


Acara halalbihalal berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Kegiatan ini dihadiri pengurus partai dari tingkat DPD hingga DPC, sejumlah kepala daerah dari kader PDI Perjuangan, serta anggota Fraksi PDIP dari DPR RI, DPRD Jawa Timur, hingga DPRD kabupaten/kota. (Had) 

Bagikan:

Komentar