|
Menu Close Menu

Anggota DPD RI Lia Istifhama Ajak Jamaah Haji Perkuat Solidaritas saat Armuzna

Jumat, 29 Mei 2026 | 00.47 WIB

Anggota DPD RI Lia Istifhama.(Dok/Istimewa).
Lensajatim.id, Jakarta– Rangkaian puncak ibadah haji atau Armuzna yang meliputi Arafah, Muzdalifah, dan Mina masih berlangsung sejak 8 hingga 13 Zulhijjah mendatang. Fase terpenting dalam ibadah haji itu menuntut kesiapan fisik dan mental jamaah setelah menjalani berbagai rangkaian ibadah wajib maupun sunnah selama berada di Tanah Suci.


Di tengah padatnya aktivitas ibadah dan tingginya mobilitas jamaah, anggota DPD RI Jawa Timur, Lia Istifhama, mengingatkan pentingnya menjaga solidaritas dan semangat persaudaraan antarjamaah demi mendukung kelancaran ibadah haji.


Senator yang saat ini juga sedang menunaikan ibadah haji tersebut menilai, suasana psikologis yang nyaman sangat berpengaruh terhadap kondisi fisik jamaah selama menjalankan Armuzna.


“Solidaritas dan semangat persaudaraan para jamaah adalah kunci tumbuhnya psikologi yang nyaman dan kemudian sekaligus mendorong kekuatan fisik secara alami para jamaah untuk tetap menjalankan ibadah dengan bahagia dan ikhlas, karena kita semua sedang jauh dari keluarga yang kita cintai,” ujarnya, 28/5/2026.


Menurut Lia, para jamaah saat ini berada di lingkungan yang sangat berbeda dibanding negara asal, baik dari sisi suhu, cuaca, hingga interaksi dengan jutaan jamaah dari berbagai negara.


Karena itu, ia meminta jamaah terus menumbuhkan pikiran positif dan menjaga kebersamaan, terutama dengan teman sekamar maupun rombongan.


“Kita semua lagi di negeri orang dengan situasi yang berbeda dengan negeri asal, terutama terkait suhu dan cuaca, dan kita bersama dengan jamaah dari berbagai belahan dunia. Maka pikiran positif harus dikuatkan dan terus ditumbuhkan,” terangnya.


Ia juga membagikan pengalaman pribadinya saat menempuh perjalanan menggunakan bus sholawat menuju Masjidil Haram. Saat perjalanan pulang menuju hotel, kondisi terminal dan akses menuju masjid dipadati jamaah hingga membuatnya harus berjalan sendiri.


Menurut Lia, situasi seperti itu justru mengajarkan pentingnya tetap tenang dan tidak panik ketika terpisah dari rombongan.


“Kuncinya hanya berpikir positif, bahwa pasti banyak juga jamaah yang seperti saya namun mereka juga baik-baik saja,” katanya.


Dalam perjalanan itu, Lia memilih mencari penanda jamaah Indonesia melalui ransel BSI yang dikenakan jamaah reguler. Ia mengaku tetap berjalan cepat sambil menjaga sopan santun kepada jamaah lain dengan menyampaikan kata “afwan” atau maaf saat mendahului.


Ia juga memilih jalur luar menuju area pelataran Masjidil Haram dan Zamzam Tower dibanding mengikuti arus jamaah yang masuk ke dalam masjid.


“Sekali lagi tidak perlu panik, bismillah sih kuncinya. Jika tidak menemukan jamaah Indonesia lagi, maka kita fokus menuju penanda tower tempat kita menginap,” imbuhnya.


Hal serupa, lanjut Lia, juga berlaku saat menjalani prosesi Armuzna, termasuk ketika jamaah terpisah seusai lempar jumrah.


“Misal selepas lempar jumroh, kita terpisah dari rombongan, maka bismillah jangan panik. Karena negara kita ini mayoritas jamaah, jadi harus tenang,” tuturnya.


Ia meyakini setiap rombongan pasti akan saling mencari dan memastikan seluruh anggota kembali berkumpul.


“Intinya apapun tidak perlu panik, tetap fokus berjalan dan bismillah yakin dipertemukan dengan serombongan,” lanjutnya.


Di akhir keterangannya, Lia yang juga menjalankan tugas pengawasan haji melalui Komite III DPD RI mengingatkan bahwa berbagai keterbatasan selama musim haji merupakan hal yang tidak bisa dihindari.


Ia menilai Kementerian Haji Arab Saudi telah berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi jamaah sejak keberangkatan hingga berada di Tanah Suci.


Namun, dengan jutaan jamaah dari berbagai negara berkumpul di tempat dan waktu yang sama, potensi kepadatan tetap sulit dihindari, mulai dari kemacetan perjalanan, antrean kamar mandi, hingga kondisi tenda Mina yang sangat padat.


“Apa yang kurang, semoga kita bisa ikhlas menerima, karena kita telah dipanggil di tanah suci ketika jutaan lainnya masih antri untuk berhaji,” ucapnya.


Ia pun mengajak seluruh jamaah menjadikan setiap tantangan selama berhaji sebagai bagian dari proses kepasrahan dan keikhlasan dalam beribadah.


“Intinya kan apa yang kita rasakan, itu juga dirasakan dan dilalui jamaah lainnya. Jadi ketika mereka juga ikhlas, maka semoga kita juga,” pungkasnya sambil tersenyum. (Red) 

Bagikan:

Komentar