|
Menu Close Menu

Etika Pesantren Madura: Barokah dan Disiplin dari Hal Kecil

Rabu, 06 Mei 2026 | 10.58 WIB

Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam KH Achmad Mulis. (Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Pamekasan– Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam KH Achmad Mulis mengungkapkan, dalam tradisi pesantren Madura, barokah tidak sekadar istilah religius dalam doa. Barokah menjadi horizon makna yang membentuk cara berpikir, bertindak, dan merasakan kehidupan.


Menurutnya, barokah dipahami sebagai kualitas kebermaknaan yang melampaui ukuran material. Ia hadir dalam ketenangan batin, kemudahan menjalani hidup, serta keberlanjutan kebaikan yang sering kali tidak kasatmata.


Dalam kehidupan pesantren, barokah tidak datang secara instan. Nilai tersebut tumbuh dari kedisiplinan moral yang halus serta kebiasaan kecil yang dijaga secara konsisten.


Kiai Muhlis mencontohkan dua ungkapan khas Madura. Yakni, “mon e pondok ngeco’ jerum, din depa’ ka romanah ngeco’ jeren” dan “mon e pondok ta’ awirid, din mole ka romanah tak asholat”.


Ia menjelaskan, ungkapan tersebut bukan sekadar peringatan normatif. Keduanya merupakan kristalisasi kebijaksanaan lokal yang memiliki kedalaman sosiologis.


Menurutnya, pesan utama dari ungkapan itu adalah bahwa kebiasaan kecil akan membentuk arah hidup seseorang. Kehidupan moral tidak ditentukan oleh peristiwa besar, tetapi oleh akumulasi tindakan kecil yang dilakukan berulang.


“Pesantren adalah ruang pembentukan habitus, meminjam istilah Pierre Bourdieu, yakni struktur disposisi yang tertanam dalam diri individu dan membimbing tindakan mereka secara tidak sadar,” kata Ketua Senat UIN Madura tersebut, Rabu (06/05/2026). 


Di ruang itu, santri tidak hanya belajar ilmu. Mereka juga menyerap pola hidup, seperti menghormati guru, mengatur waktu, menjaga lisan, dan membangun relasi dengan Tuhan.


Ungkapan tentang “jerum (jarum) dan jeren (kuda)” serta “zikir dan salat” menunjukkan bahwa pembentukan habitus tidak lahir dari instruksi besar. Ia tumbuh dari pembiasaan kecil yang konsisten.


Kiai Muhlis menjelaskan, ketika santri terbiasa melakukan pelanggaran kecil seperti “ngeco’ jerum”, hal itu tidak berhenti sebagai tindakan sesaat. Perilaku tersebut perlahan menjadi bagian dari struktur kepribadian.


Dalam jangka panjang, kebiasaan itu dapat berkembang menjadi pelanggaran yang lebih besar, sebagaimana diilustrasikan dengan “ngeco’ jeren”. Hal serupa terjadi ketika santri mengabaikan dzikir.


Pengabaian tersebut tidak hanya berdampak pada ritual. Lebih jauh, ia menggerus sensitivitas batin yang menjadi dasar ibadah besar seperti salat.


“Kedua ungkapan tersebut menggambarkan mekanisme pembentukan kebiasaan dan internalisasi nilai. Perilaku manusia terbentuk melalui pengulangan yang menciptakan jalur mental tertentu,” jelasnya.


Ia menambahkan, ketika seseorang terbiasa mengabaikan hal kecil, maka otak akan menormalisasi perilaku tersebut. Akibatnya, standar moral dapat bergeser dari waktu ke waktu.


Sebaliknya, konsistensi dalam hal kecil seperti dzikir akan membangun fondasi psikologis yang kuat. Hal ini membantu menjaga praktik ibadah yang lebih besar.


Dalam konteks ini, barokah dipahami sebagai hasil integrasi antara dimensi sosial dan psikologis. Barokah muncul ketika kebiasaan selaras dengan nilai yang diyakini.


Menurutnya, barokah bukan hanya konsekuensi tindakan. Ia juga berkaitan dengan kualitas kesadaran yang menyertai setiap tindakan.


Barokah menjadi “resonansi moral” yang lahir dari keselarasan antara tindakan, keyakinan, dan perasaan.


Menariknya, dalam tradisi pesantren Madura, barokah juga berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial. Namun, kontrol ini tidak bersifat represif.


Kesadaran akan barokah membuat santri lebih berhati-hati. Mereka menjaga perilaku bukan karena takut sanksi, tetapi karena kesadaran batin.


Dalam hal ini, barokah berperan sebagai “pengawas batin” yang bekerja secara halus namun efektif.


Kiai Muhlis menilai, dalam masyarakat modern yang cenderung pragmatis, konsep barokah sering sulit dipahami. Dunia lebih menghargai hasil yang cepat dan terlihat.


Sementara itu, barokah bekerja dalam logika yang berbeda. Ia tidak selalu tampak, tidak instan, dan tidak mudah diukur.


Akibatnya, disiplin terhadap hal kecil kerap diabaikan. Padahal, hal kecil justru menentukan hal besar di masa depan.


Ia juga menegaskan adanya kesinambungan antara kehidupan di pesantren dan di luar pesantren. Apa yang dibiasakan di pondok akan terbawa dalam kehidupan sehari-hari.


Pesantren bukan sekadar tempat belajar. Ia adalah laboratorium kehidupan tempat kebiasaan dibentuk dan diuji.


Jika dalam ruang yang terkontrol saja disiplin tidak terjaga, maka di luar ruang tersebut pelanggaran akan lebih mudah terjadi.


Makna barokah dalam tradisi pesantren Madura mengajarkan bahwa kehidupan yang bermakna dibangun dari hal-hal kecil. Semua itu dijaga dengan kesadaran yang besar.


Ungkapan tentang jerum, jeren, dzikir, dan salat menjadi metafora kuat. Arah hidup seseorang ditentukan oleh kebiasaan yang dipelihara.


“Di tengah dunia yang sering tergesa-gesa, pesan ini mengajak kita kembali pada dasar. Menjaga integritas dalam hal kecil dan merawat kesadaran dalam setiap tindakan,” ujar Direktur Utama IBS Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) Pamekasan itu.


Ia menegaskan, barokah bukan sesuatu yang dicari di luar. Barokah tumbuh dari dalam diri melalui kebiasaan yang terus diulang.


“Pada akhirnya, apa yang kita lakukan setiap hari akan membentuk siapa kita di masa depan. Di situlah barokah menemukan maknanya yang paling dalam,” pungkasnya. (Red) 

Bagikan:

Komentar