![]() |
| Silaturahmi Gus Salam dan Kiai Imjaz di Cirebon berlangsung hangat, penuh kekeluargaan, dan sarat makna. Foto: Dok. FJN. |
Langkah tersebut menjadi bagian dari ikhtiar batin sekaligus memohon doa restu para masyaikh atas niatnya maju sebagai calon Ketua Umum PBNU.
Bagi Gus Salam, perjalanan silaturahmi itu bukan sekadar bagian dari dinamika organisasi. Lebih dari itu, momentum tersebut dimaknai sebagai ruang sowan untuk menyerap nasihat, pandangan, serta harapan para ulama demi masa depan Nahdlatul Ulama yang tetap teduh, bersatu, dan berakar kuat pada tradisi keilmuan pesantren.
Tokoh Muda Nahdliyin Inspiratif versi Forkom Jurnalis Nahdliyin itu kali ini bersilaturahmi ke kediaman KH Imam Jazuli atau yang dikenal dengan sapaan Kiai Imjaz, tokoh muda NU sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia di Cirebon, Jawa Barat.
Kedatangan Gus Salam disambut langsung Kiai Imam Jazuli dalam suasana hangat, penuh kekeluargaan, dan sarat nilai kebersamaan.
Dalam agenda tersebut, Gus Salam turut didampingi sejumlah kiai dan pengasuh pesantren dari berbagai daerah, di antaranya KH Hasan Syukri Zamzami Mahrus, KH Muhammad Ma'mun Mahfudz, KH Lukman Hakim Hamid, serta KH Abdul Mu’id.
Gus Salam mengungkapkan kedekatannya dengan Kiai Imam Jazuli telah terjalin cukup lama. Sebagai sesama kiai muda, ia menilai Kiai Imam sebagai sosok ulama visioner yang konsisten memperjuangkan kemajuan umat dan dunia pesantren.
“Beliau ini tokoh muda NU yang memiliki pandangan jauh ke depan. Idealisme beliau dalam membangun pendidikan dan pemberdayaan umat menjadi inspirasi bagi banyak kalangan,” ujar Gus Salam.
Menurutnya, Kiai Imam Jazuli juga dikenal sebagai figur ulama pesantren yang sederhana, namun memiliki pemikiran besar yang berdampak luas bagi masyarakat.
“Kesederhanaan beliau mencerminkan watak asli pesantren. Namun di balik kesahajaan itu, beliau memiliki gagasan dan pemikiran yang sangat cemerlang,” imbuhnya.
Gus Salam turut memberikan apresiasi terhadap inisiatif Kiai Imam Jazuli yang menggagas Workshop Transformasi Pesantren bagi 5.000 pengasuh pondok pesantren se-Indonesia sepanjang 2026.
Program tersebut dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkuat kapasitas pesantren agar mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan identitas, nilai, dan tradisi keilmuan yang menjadi fondasi utamanya.
“Ini ikhtiar besar yang patut diapresiasi. Pesantren harus mampu bertransformasi, tetapi tetap menjaga ruh keilmuan, akhlak, dan tradisi yang menjadi kekuatannya selama ini,” tutur Gus Salam.
Pertemuan berlangsung sederhana, gayeng, dan penuh makna.
Di tengah perbincangan para kiai, mengalir harapan agar Muktamar NU ke-35 dapat menghadirkan kepemimpinan yang mampu menjaga marwah jam’iyah, memperkuat persatuan umat, serta memperkokoh peran pesantren di tengah perubahan zaman.
Kebersamaan para masyaikh tersebut menjadi cerminan bahwa tradisi silaturahmi, musyawarah, dan adab di lingkungan NU tetap hidup serta terjaga.
Di tengah dinamika menuju muktamar, para kiai memilih mengedepankan komunikasi yang sejuk dan penuh penghormatan, sebagaimana nilai-nilai pesantren yang selama ini menjadi ruh perjalanan Nahdlatul Ulama. (Red)


Komentar