Resensi Buku Percikan Pemikiran Dakwah di Tengah Arus Perubahan Sosial Kontemporer
Peresensi: Musaffa Safril
Lensajatim.id, Resensi- Di tengah derasnya arus perubahan sosial, perkembangan teknologi digital, hingga menguatnya polarisasi dalam kehidupan masyarakat, dakwah Islam menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Dakwah tidak lagi cukup dilakukan dengan pendekatan konvensional, tetapi dituntut mampu menjawab problem sosial secara lebih kontekstual, moderat, dan humanis. Kegelisahan itulah yang diangkat dalam buku Percikan Pemikiran Dakwah di Tengah Arus Perubahan Sosial Kontemporer karya Prof. Dr. Ahidul Asror. M.Ag
Buku ini memotret bagaimana perubahan sosial memengaruhi pola kehidupan masyarakat modern, mulai dari pergeseran nilai, perubahan pola interaksi sosial, hingga munculnya berbagai isu baru seperti hak asasi manusia, kesetaraan, dan persoalan lingkungan. Dalam situasi tersebut, dakwah diposisikan tidak hanya sebagai sarana penyampaian pesan agama, tetapi juga sebagai instrumen transformasi sosial yang bertugas membangun moralitas, etika, dan harmoni kehidupan masyarakat.
Salah satu bagian menarik dalam buku ini adalah pembahasan mengenai hubungan demokrasi dan munculnya radikalisme Islam. Penulis menjelaskan bahwa masa transisi demokrasi pasca reformasi menjadi momentum terbukanya ruang publik bagi berbagai kelompok politik dan keagamaan, termasuk kelompok Islamis. Dalam konteks Indonesia, terjadi tarik-ulur antara kelompok nasionalis-religius sekuler dan kelompok Islamis terkait relasi agama dan negara dalam proses reformulasi konstitusi.
Kegagalan sebagian kelompok Islamis dalam memperjuangkan gagasannya, menurut penulis, menjadi salah satu faktor munculnya gerakan radikalisme Islam di Indonesia. Di sisi lain, lemahnya penegakan hukum serta ketidakmampuan negara menjaga ketertiban sosial juga memicu lahirnya tindakan intoleran dan kekerasan atas nama agama.
Namun buku ini dengan tegas menolak model dakwah yang menggunakan kekerasan. Penulis menegaskan bahwa pendekatan intoleran bertentangan dengan prinsip dasar Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin. Dakwah seharusnya dilakukan melalui hikmah, nasihat yang baik, serta dialog yang santun. Pendekatan keras justru berpotensi merusak citra Islam dan memunculkan konflik sosial di masyarakat.
Karena itu, buku ini menawarkan pendekatan dakwah humanis sebagai solusi. Dakwah harus hadir dengan cara yang damai, persuasif, dan menyentuh kesadaran masyarakat, bukan melalui pemaksaan ataupun intimidasi. Dalam konteks masyarakat modern yang semakin plural dan terbuka, pendekatan semacam ini menjadi sangat relevan.
Selain membahas persoalan radikalisme, buku ini juga menyoroti tantangan dakwah di era digital. Derasnya arus informasi di media sosial membuat masyarakat mudah terpapar berbagai narasi keagamaan tanpa proses verifikasi yang memadai. Karena itu, penulis menekankan pentingnya literasi digital agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam informasi provokatif maupun paham ekstrem.
Secara umum, buku ini menawarkan perspektif yang segar tentang wajah dakwah Islam di era kontemporer. Bahasa yang digunakan relatif komunikatif meski tetap bernuansa akademik. Pembahasannya juga relevan dengan kondisi sosial-politik Indonesia saat ini.
Meski demikian, beberapa bagian buku terasa cukup teoritis dan padat sehingga membutuhkan perhatian lebih dari pembaca umum. Akan tetapi, hal itu tidak mengurangi nilai penting buku ini sebagai refleksi intelektual tentang masa depan dakwah Islam di tengah perubahan zaman.
Buku ini layak dibaca oleh kalangan akademisi, mahasiswa, aktivis dakwah, maupun masyarakat umum yang ingin memahami bagaimana dakwah Islam dapat tetap relevan, moderat, dan humanis di tengah tantangan sosial kontemporer.


Komentar