|
Menu Close Menu

Anggota DPD RI Ning Lia: Mina Jadi Fokus Evaluasi Haji 2026, Dedikasi Petugas Harus Dihargai

Selasa, 02 Juni 2026 | 05.41 WIB

 

Anggota DPD RI Lia Istifhama.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Makkah – Evaluasi penyelenggaraan ibadah haji 2026 dipastikan akan difokuskan pada dua aspek utama, yakni pelayanan jemaah di Mina dan penguatan istithaah kesehatan. Hal itu sebelumnya disampaikan Menteri Haji dan Umrah RI, Moch Irfan Yusuf.


Menurut Irfan, kedua aspek tersebut menjadi perhatian penting guna meningkatkan kenyamanan sekaligus keselamatan jemaah pada musim haji mendatang. Meski pelaksanaan haji tahun ini dinilai berjalan relatif baik, masih terdapat sejumlah catatan yang perlu diperbaiki.


Anggota DPD RI, Lia Istifhama, menilai Mina memang menjadi titik terberat dalam rangkaian ibadah haji. Namun demikian, ia memberikan apresiasi terhadap berbagai kebijakan yang diterapkan Pemerintah Arab Saudi demi menjaga keselamatan jutaan jemaah.


Salah satu kebijakan yang mendapat perhatian adalah imbauan tegas agar jemaah tidak terburu-buru atau memaksakan diri saat melaksanakan lempar jumrah. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko akibat cuaca panas ekstrem serta kepadatan arus manusia menuju area Jamarat.


Pemerintah Arab Saudi juga menerapkan pengawasan ketat terhadap pergerakan jemaah, khususnya dengan mendorong pelaksanaan lempar jumrah pada malam hari.


“Jika dipaksakan siang hari, dengan waktunya panas seperti itu, pasti banyak jemaah yang tidak kuat. Saya melihat bahwa kebijakan dan pengawasan dari pemerintah Arab Saudi sangat memperhatikan kondisi jemaah di dunia, sampai diperhatikan sesuai fisiknya agar bisa menjalankan ibadah dengan sebaik-baiknya. Larangan itu juga supaya tidak terjadi penumpukan. Begitupula saat wukuf, semua diperhatikan oleh pemerintah,” ujar Ning Lia, Selasa (02/06/2026). 


Menurut keponakan Khofifah Indar Parawansa tersebut, pemerintah saat ini juga mulai mencari formula yang lebih manusiawi untuk penyelenggaraan haji di masa depan.


Salah satu opsi yang dikaji adalah pembangunan tenda bertingkat di Mina, mengingat kawasan tersebut secara geografis sudah tidak memungkinkan untuk diperluas.


Selain itu, Ning Lia kembali mengusulkan optimalisasi skema tanazul, yaitu menempatkan atau memulangkan jemaah ke hotel di Makkah saat mabit, sehingga tidak seluruhnya harus bermalam di tenda Mina.


“Opsi lainnya pernah saya sampaikan sebelumnya optimalisasi skema tanazul yakni memulangkan atau menempatkan jemaah di hotel Makkah saat mabit, bukan di tenda Mina, yang penting adalah wajibnya saja,” katanya.


Dalam kesempatan tersebut, Ning Lia juga memberikan apresiasi tinggi kepada para petugas haji Indonesia yang dinilainya bekerja dengan penuh pengorbanan.


Ia menyoroti banyak petugas yang begitu fokus melayani jemaah hingga mengabaikan kondisi kesehatan mereka sendiri. Bahkan, tidak sedikit yang rela menggunakan dana pribadi untuk mengikuti pelatihan demi meningkatkan kemampuan pelayanan.


“Banyak petugas kita yang saking fokusnya melayani, sampai lupa menjaga kesehatan diri sendiri. Yang lebih menyedihkan, ada fenomena di mana mereka rela merogoh kocek pribadi, mengganti biaya dengan uang sendiri demi bisa mengikuti pelatihan agar bisa melayani jemaah dengan lebih pintar dan cekatan,” ungkapnya.


Selama melakukan pemantauan haji, Ning Lia melihat bahwa kemampuan membaca situasi di lapangan menjadi faktor yang sangat penting bagi petugas.


Saat cuaca sangat panas, misalnya, petugas harus mampu mengatur waktu pergerakan jemaah agar tidak mengalami kelelahan maupun sengatan matahari.


Meski demikian, ia menilai dedikasi besar para petugas belum sepenuhnya diimbangi dengan perhatian yang memadai terhadap kesejahteraan dan perlindungan kesehatan mereka. Keterbatasan jumlah petugas kesehatan juga turut memperberat beban kerja di lapangan.


“Meski begitu saya melihat dedikasi tinggi ini belum sepenuhnya diimbangi dengan perhatian yang layak terhadap kesejahteraan dan proteksi kesehatan para petugas itu sendiri. Ketiadaan jumlah petugas kesehatan yang ideal juga memperberat beban kerja mereka di lapangan,” katanya. 


Menurut Ning Lia, perjuangan petugas tidak berhenti setelah fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) selesai dilaksanakan.


Kementerian Haji dan Umrah tetap mendorong seluruh petugas untuk bekerja maksimal hingga seluruh jemaah kembali ke Tanah Air dalam kondisi sehat dan selamat.


“Saya sangat apresiasi petugas haji kita, bayangkan sudah selesai Armuzna tugasnya masih panjang sampai jemaah kita pulang ke Tanah Air dalam kondisi sehat, ini perjuangan luar biasa,” ujarnya.


Menjelang fase pemulangan jemaah, Wakil Menteri Haji dan Umrah sekaligus Naib Amirul Hajj RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, meminta seluruh Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) tetap meningkatkan kewaspadaan meskipun puncak ibadah haji telah berakhir.


Dahnil juga menginstruksikan agar petugas bergerak cepat menangani berbagai keluhan jemaah, mulai dari persoalan transportasi hingga layanan pemondokan.


Menurutnya, berakhirnya Armuzna tidak berarti risiko yang dihadapi jemaah ikut berakhir. Kondisi fisik jemaah, terutama lansia dan mereka yang memiliki penyakit penyerta, tetap membutuhkan perhatian serius setelah menjalani rangkaian ibadah yang padat.


“Saya angkat topi dengan perjuangan petugas haji jemaah Indonesia tahun 2026, sungguh keren perjuangannya,” kata Ning Lia.


Sementara itu, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi telah memasuki fase pemulangan jemaah ke Indonesia yang berlangsung mulai 1 hingga 30 Juni 2026.


Pada Senin (1/6/2026), kepulangan kelompok terbang pertama jemaah haji Embarkasi Banten dijadwalkan tiba di Indonesia pada Selasa (2/6) pukul 09.45 WIB melalui Terminal 2F Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang.


Sebanyak 390 jemaah diterbangkan dari Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, menggunakan maskapai Garuda Indonesia pada Senin malam waktu Arab Saudi.


Pada fase awal pemulangan ini, sebanyak 17 kloter dijadwalkan kembali ke Indonesia secara bertahap dengan total 6.798 jemaah. Pemerintah memastikan seluruh proses kepulangan berlangsung sesuai jadwal operasional haji tahun ini.


Adapun jemaah yang tergabung dalam gelombang kedua masih akan berada di Arab Saudi untuk beberapa waktu ke depan. Berdasarkan Rencana Perjalanan Haji (RPH) 2026, pemulangan gelombang kedua akan berlangsung pada 16 hingga 30 Juni 2026 melalui Madinah. (Red) 

Bagikan:

Komentar