|
Menu Close Menu

NU Kaya Jamaah, Muhammadiyah Kaya Amal Usaha: Fastabiqul Khairat untuk Indonesia

Selasa, 09 Juni 2026 | 09.26 WIB

 


Oleh: Dr. H. Ahmad Effendy Choirie, M.Ag., M.H.


Lensajatim.id, Opini- Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Dari sekitar 285 juta penduduk Indonesia pada akhir 2024, lebih dari 248 juta di antaranya beragama Islam. Dalam dinamika kehidupan keislaman di Tanah Air, terdapat dua organisasi yang memiliki pengaruh sangat besar, yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.


Keduanya ibarat dua sayap Burung Garuda yang menopang kehidupan bangsa. Tidak hanya dalam bidang keagamaan, tetapi juga pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, hingga penguatan nilai-nilai kebangsaan. Meski memiliki karakter dan pendekatan yang berbeda, NU dan Muhammadiyah sejatinya berjalan menuju tujuan yang sama: menghadirkan kemaslahatan umat dan memajukan Indonesia.


NU selama ini dikenal sebagai organisasi yang kaya jamaah. Berbagai survei menunjukkan lebih dari separuh Muslim Indonesia memiliki kedekatan dengan organisasi yang didirikan para ulama pesantren tersebut. Survei Alvara, misalnya, mencatat sebanyak 59,2 persen Muslim Indonesia merasa dekat dengan NU, sementara sekitar 39,6 persen mengaku sebagai anggota NU.


Jika diproyeksikan terhadap jumlah penduduk Muslim Indonesia, maka warga dan simpatisan NU mencapai puluhan hingga lebih dari seratus juta jiwa. Tidak berlebihan apabila NU disebut sebagai organisasi Islam dengan basis massa terbesar di Indonesia, bahkan salah satu yang terbesar di dunia.


Kekuatan NU tidak hanya bertumpu pada besarnya jumlah jamaah. Organisasi ini juga memiliki jaringan pesantren yang sangat luas dan mengakar hingga pelosok negeri. Data Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PBNU menyebutkan bahwa sekitar 80 persen dari sekitar 43 ribu pesantren di Indonesia berada dalam lingkungan NU. Artinya, terdapat sekitar 34 ribu pesantren yang berafiliasi dengan NU.


Di sektor pendidikan formal, Lembaga Pendidikan Ma'arif NU menaungi lebih dari 24 ribu satuan pendidikan dengan jumlah peserta didik melampaui 8 juta siswa serta sekitar 600 ribu tenaga pendidik yang tersebar di berbagai daerah.


Di sisi lain, Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi yang unggul dalam membangun dan mengelola amal usaha. Meskipun jumlah warga Muhammadiyah secara formal lebih sedikit dibandingkan NU, kontribusinya melalui institusi pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan pelayanan sosial sangat besar serta dirasakan langsung oleh masyarakat luas.


Muhammadiyah berhasil membangun sistem amal usaha yang modern, profesional, dan berkelanjutan. Ribuan sekolah, ratusan perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, hingga berbagai lembaga sosial menjadi bukti nyata dedikasi Muhammadiyah dalam melayani umat dan bangsa.


Perbedaan karakter antara NU dan Muhammadiyah sesungguhnya bukanlah alasan untuk dipertentangkan. Sebaliknya, perbedaan tersebut justru menjadi kekuatan besar yang saling melengkapi. NU dengan kekayaan jamaahnya memiliki kekuatan sosial dan kultural yang luar biasa, sementara Muhammadiyah dengan kekuatan amal usahanya menunjukkan kemampuan membangun sistem pelayanan yang efektif dan berdaya guna.


Karena itu, semangat yang perlu terus dirawat adalah fastabiqul khairat—berlomba-lomba dalam kebaikan. Kompetisi yang sehat bukan untuk saling meniadakan, melainkan saling menginspirasi dalam menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi umat.


NU tidak perlu menjadi Muhammadiyah, dan Muhammadiyah juga tidak perlu menjadi NU. Keduanya cukup menjadi dirinya sendiri dengan terus memperkuat keunggulan masing-masing, sambil memperluas ruang kolaborasi demi kepentingan bangsa.


Indonesia membutuhkan NU yang semakin kuat dalam menjaga tradisi keagamaan yang moderat, memperkokoh persatuan, serta membina umat hingga akar rumput. Indonesia juga membutuhkan Muhammadiyah yang terus maju dalam inovasi amal usaha, memperluas pelayanan pendidikan dan kesehatan, serta memperkuat etos kemajuan.


Ketika NU dan Muhammadiyah berjalan beriringan, saling menghormati, dan berlomba dalam kebajikan, maka umat Islam Indonesia akan menjadi kekuatan besar yang mampu menghadirkan peradaban yang berkemajuan, berkeadaban, dan membawa rahmat bagi seluruh alam.


Pada akhirnya, kekayaan jamaah yang dimiliki NU dan kekuatan amal usaha Muhammadiyah bukanlah sesuatu yang harus diperbandingkan untuk menentukan siapa yang lebih unggul. Keduanya merupakan anugerah besar bagi Indonesia. Tugas kita adalah menjaga, merawat, dan menjadikannya energi bersama untuk membangun bangsa yang lebih maju, adil, dan bermartabat.


(*Penulis adalah Ketua Umum DNIKS, Anggota DPR/MPR RI 1999–2013

Bagikan:

Komentar