![]() |
| Presiden RI Prabowo Subianto saat menutup acara Munas dan Konbes NU 2026 di Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil (IAI Syaichona Cholil) Bangkalan, Madura.(Dok/Istimewa). |
Penutupan berlangsung sarat makna sejarah dan simbolisme. Presiden Prabowo menandai berakhirnya Munas dan Konbes NU dengan memukul kenteng atau lonceng yang terbuat dari potongan bom peninggalan Belanda yang gagal meledak saat dijatuhkan di Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, pada masa kolonial.
Kenteng tersebut dipukul sebanyak sembilan kali. Angka sembilan dipilih sebagai representasi bintang sembilan dalam lambang Nahdlatul Ulama sekaligus simbol penghormatan kepada Wali Songo yang menjadi penyebar Islam di Nusantara.
“Saya Prabowo Subianto Presiden RI, dengan ini secara resmi, saya tutup Munas dan Konbes NU 2026. Terima kasih,” ujar Presiden yang disambut tepuk tangan meriah sekitar 1.500 tamu undangan.
Munas dan Konbes NU 2026 menjadi forum strategis yang membahas berbagai persoalan keagamaan, kebangsaan, hingga agenda organisasi menjelang pelaksanaan Muktamar NU mendatang.
Prosesi penutupan tersebut melengkapi rangkaian simbolis pembukaan yang berlangsung sehari sebelumnya di Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri. Pada 22 Juni 2026, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar juga memukul kenteng yang sama sebanyak sembilan kali sebagai tanda dimulainya forum.
Dalam kesehariannya, kenteng bersejarah itu masih digunakan sebagai penanda waktu salat lima waktu sekaligus penunjuk dimulainya aktivitas belajar para santri di Pesantren Al-Falah Ploso.
Sejarah mencatat, pesantren tersebut pernah menjadi sasaran bombardir Belanda karena dianggap sebagai tempat berlindung para pejuang republik. Namun, bom-bom yang dijatuhkan tidak meledak.
Menurut penuturan panitia saat pembukaan Munas dan Konbes, peristiwa itu diyakini terjadi atas izin Allah SWT serta karomah pendiri pesantren, KH Ahmad Djazuli Utsman.
"Kenteng ini memberi i'tibar (pelajaran) hikmah bahwa serangan yang bersumber dari pihak yang membenci, justru bisa diubah menjadi sebuah manfaat yang tidak dilupakan oleh para santri dan alumni Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri. Dari orang yang tidak suka, akhirnya jadi manfaat, karomah kyai yang masih diingat santri," demikian disampaikan pembawa acara.
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa NU selama ini telah menjadi salah satu pilar penting yang menjaga stabilitas Indonesia, terutama saat bangsa menghadapi berbagai tantangan.
"NU selalu tampil di saat bangsa Indonesia dalam keadaan sulit. Keluarga besar NU adalah faktor stabilisator, faktor yang bisa membuat aman bangsa dan negara," katanya.
Prabowo juga menilai NU memiliki karakter khas yang memadukan nilai keagamaan dengan semangat nasionalisme yang kuat.
"Ada satu ciri khas yang dari dahulu saya perhatikan, bahwa NU adalah organisasi keagamaan, tapi sangat nasionalis, sangat patriotis, sangat cinta tanah air. Jadi agamis tapi nasionalis dan patriotis," ujarnya.
Menurut Presiden, salah satu simbol kuat nasionalisme warga nahdliyin tercermin dalam lagu Syubbanul Wathon yang terus dinyanyikan dalam berbagai kegiatan NU sejak sebelum Indonesia merdeka.
“Setiap acara NU saya perhatikan lagu Syubbanul Wathon tidak pernah digantikan,” ucapnya.
Ia juga mengapresiasi semangat para kader dan warga NU ketika menyanyikan lagu tersebut.
“Nyanyinya itu tangannya harus kepalan. Ini luar biasa, belum ada Kopassus (saat itu), NU sudah lebih dari Kopassus,” katanya yang langsung disambut tepuk tangan peserta.
Presiden kemudian menyampaikan terima kasih kepada keluarga besar Nahdlatul Ulama atas kontribusi dan dukungannya terhadap bangsa dan negara.
Prabowo optimistis NU akan terus memainkan peran strategis dalam menjaga kehidupan berbangsa. Menurutnya, kedekatan para kiai dan ulama dengan masyarakat menjadi kekuatan utama organisasi tersebut dalam memahami persoalan rakyat secara langsung.
“Para kiai dan para ulama adalah tokoh-tokoh yang paling dekat dengan rakyat, terutama rakyat di pedesaan. Karena itu para kiai dan para ulama paham dan mengerti apa yang dirasakan rakyat kita. Para kiai dan ulama merasakan apa yang dirasakan rakyat paling bawah,” tuturnya.
Sementara itu, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menyampaikan doa dan harapan kepada Presiden Prabowo agar senantiasa diberikan kesehatan, perlindungan, serta kemampuan menghadirkan kebijakan yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat.
“Semoga Bapak Presiden kita (Prabowo Subianto) sehat wal afiat dan selalu mendapat perlindungan Allah. Semoga pula diberikan gagasan-gagasan cemerlang agar rakyat dan umat yang besar ini segera memperoleh apa yang mereka harapkan, sehingga negeri ini dipenuhi kemakmuran dan keadilan, yakni keadilan dalam kemakmuran,” ujarnya.
Ia berharap berbagai kebijakan yang dijalankan pemerintah dapat semakin memperkuat kesejahteraan masyarakat sekaligus mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Acara penutupan turut dihadiri sejumlah pejabat negara dan tokoh nasional. Hadir di antaranya Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Menko Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, serta Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
Turut hadir pula Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf, Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf, KH Said Aqil Siradj, Miftah Maulana Habiburrahman, serta sejumlah kiai dan tokoh nasional lainnya.
Dengan ditutupnya Munas dan Konbes NU 2026, berbagai rekomendasi keagamaan, kebangsaan, dan organisasi yang telah dibahas selama forum berlangsung diharapkan menjadi pijakan strategis bagi perjalanan Nahdlatul Ulama menuju Muktamar mendatang. (Red)


Komentar