|
Menu Close Menu

Anggota DPRD Surabaya Ning Ais Dorong MPLS Jadi Awal Pembentukan Karakter Siswa

Rabu, 15 Juli 2026 | 12.29 WIB

Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, Ais Shafiyah Asfar, B.Sc., M.A.,. (Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya– Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, Ais Shafiyah Asfar, B.Sc., M.A., atau yang akrab disapa Ning Ais, menekankan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 harus menjadi momentum awal pembentukan karakter peserta didik dalam suasana yang aman, edukatif, dan inklusif.


Menurutnya, MPLS tidak hanya sebatas agenda pengenalan lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi siswa baru untuk memulai proses belajar dengan rasa nyaman dan percaya diri.


MPLS yang mulai dilaksanakan pada Senin (13/7/2026) menjadi fase penting bagi peserta didik untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah, mengenal guru, tenaga kependidikan, teman sebaya, serta budaya sekolah. Karena itu, Ning Ais menilai pengawasan yang diperkuat pemerintah merupakan langkah positif agar seluruh kegiatan benar-benar berorientasi pada perlindungan anak.


"Pengalaman pertama di sekolah akan membekas bagi anak-anak. Karena itu mereka harus disambut dengan suasana yang nyaman, aman, dan membuat mereka percaya diri untuk beradaptasi, bukan justru merasa tertekan," ujar Ning Ais.


Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menjelaskan, materi MPLS tahun ini yang meliputi literasi digital, pendidikan karakter, pencegahan penyalahgunaan narkoba, pola hidup sehat, hingga pemeriksaan kesehatan menunjukkan perubahan pendekatan dalam pelaksanaannya.


Menurutnya, fokus kegiatan kini lebih diarahkan pada kebutuhan perkembangan peserta didik, bukan sekadar kegiatan seremonial.


Ning Ais menegaskan, keberhasilan MPLS tidak hanya bergantung pada aturan maupun pengawasan dari pemerintah. Budaya positif yang dibangun di lingkungan sekolah juga menjadi faktor penting dalam menciptakan proses adaptasi yang sehat bagi siswa baru.


Ia menilai guru, tenaga kependidikan, dan siswa senior memiliki tanggung jawab untuk memberikan teladan serta menciptakan lingkungan belajar yang ramah, aman, dan saling menghargai.


"Regulasi memang diperlukan, tetapi yang paling penting adalah bagaimana seluruh warga sekolah menjalankannya. Guru, tenaga pendidik, dan kakak kelas harus menjadi contoh yang baik agar adik-adik yang baru masuk merasa nyaman," katanya.


Lebih lanjut, Ning Ais berharap berbagai materi yang diberikan selama MPLS mampu menjadi bekal nyata bagi siswa dalam menghadapi tantangan dunia pendidikan dan perkembangan teknologi digital.


Menurutnya, nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, kepedulian terhadap kesehatan, serta etika bermedia digital harus terus diterapkan meski rangkaian MPLS telah berakhir.


Ia juga mendorong para peserta didik untuk berani menyampaikan apabila mengalami tindakan yang membuat mereka merasa tidak nyaman selama berada di lingkungan sekolah.


Selain itu, Ning Ais berharap pengawasan terhadap pelaksanaan MPLS tidak hanya berfokus pada pencegahan pelanggaran, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun budaya sekolah yang aman, ramah anak, inklusif, dan mendukung kesehatan mental peserta didik.


Menurutnya, lingkungan belajar yang kondusif sejak hari pertama akan memberikan dampak positif terhadap proses pembelajaran sekaligus pembentukan karakter siswa dalam jangka panjang.


"Yang terpenting bukan hanya memastikan tidak ada pelanggaran, tetapi membangun budaya sekolah yang membuat anak-anak merasa aman, dihargai, dan bersemangat mengikuti proses pembelajaran sejak awal," pungkasnya. (Had) 

Bagikan:

Komentar