|
Menu Close Menu

Cak Dar Dorong Gus Yusuf Jadi Figur Pemersatu PBNU

Sabtu, 04 Juli 2026 | 11.12 WIB

Lensajatim.id, Surabaya– Dinamika menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang akan digelar pada 1–5 Agustus mendatang semakin menghangat. Manuver elite, persaingan pengaruh antar-kubu, hingga konsolidasi dukungan di berbagai daerah mulai mencuat ke ruang publik dan menjadi perhatian warga Nahdliyin.


Situasi tersebut disebut semakin terasa setelah pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Ulama di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri. Meski agenda resmi telah berakhir, dinamika politik di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dinilai masih berlangsung. Bahkan, sejumlah potongan peristiwa dan aksi kurang pantas antarpendukung ramai beredar di media sosial.


Ketua IPNU Jawa Timur periode 1988–1992, Soedarsono Rahman, menilai NU saat ini membutuhkan sosok pemimpin yang mampu menjadi pemersatu di tengah menguatnya persaingan antar-kelompok.


"Analisa saya, ada pertarungan sengit antara dua kubu besar, yakni faksi Gus Yahya selaku Ketua Umum PBNU dan faksi Gus Ipul selaku Sekjen PBNU. Gus Yahya akan maju lagi, sementara Gus Ipul tampaknya mendorong KH Nazaruddin Umar dengan dukungan Rois Aam KH Miftachul Akhyar," ujar Soedarsono, Sabtu (4/7/2026).


Pria yang akrab disapa Cak Dar itu menilai PBNU ke depan tidak boleh terus terseret dalam konflik kepentingan. Menurutnya, NU membutuhkan figur yang mampu mengayomi seluruh kalangan dan menjaga persatuan organisasi.


"PBNU butuh figur yang adem, tidak menambah konflik, bisa diterima semua kubu, dan mau turun ngaji ke bawah. Kalau menurut saya, figur ideal itu Gus Yusuf, Pengasuh Ponpes API Tegalrejo," katanya.


Nama KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf mulai disebut sebagai salah satu alternatif pemimpin yang dinilai mampu menjadi pemersatu di tengah menguatnya persaingan menjelang Muktamar. Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo itu dikenal luas di kalangan pesantren, khususnya di Jawa Tengah, serta dinilai memiliki karakter santun dan tidak terlibat dalam kontroversi politik praktis.


"Ketua Umum PBNU itu harus kiai yang lincah, tapi tidak merugikan organisasi. Bisa merangkul semua kalangan. Ingat, NU bukan hanya milik Nahdliyin, tapi milik umat," tegas Cak Dar.


Ia juga mengingatkan agar Muktamar NU tidak melahirkan figur yang kontroversial ataupun menjadikan organisasi sebagai kendaraan kepentingan politik.


"Ojo sosok yang kontroversial, melanggar aturan, termasuk rangkap jabatan di pemerintahan. Jangan sampai NU hanya dijadikan kendaraan," tandasnya.


Menurut Cak Dar, Ketua Umum PBNU mendatang harus memiliki integritas, bebas dari konflik kepentingan, rendah hati, dekat dengan pesantren dan masyarakat desa, berani, jujur, serta memiliki visi besar dalam menjaga marwah organisasi.


"Figur seperti itu ada pada KH Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf," ujarnya.


Sejauh ini, sejumlah nama telah menyatakan siap bersaing dalam bursa Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35. Di antaranya KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Gus Rozin, serta petahana KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.


Para kandidat kini mulai aktif melakukan safari ke berbagai PWNU dan PCNU, sekaligus bersilaturahmi dengan para kiai sepuh untuk memohon doa restu serta menggalang dukungan dari para muktamirin yang memiliki hak suara dalam Muktamar NU mendatang. (Had) 

Bagikan:

Komentar