|
Menu Close Menu

Epitaf untuk Sang Lentera Sejarah : R.B Ja'far Shodiq

Rabu, 15 Juli 2026 | 17.23 WIB


Oleh: Firman Syah Ali


Lensajatim.id, Opini- Hari ini, selasa, 14 Juli 2026, aktivitas saya padat sekali di kantor, sehingga tidak sempat membaca grup-grup WA. Saya hanya posting dan pergi di beberapa grup WA favorit, diantaranya grup WA Bani Syekh Abdul Qidam. 


Sekitar jam 19.10 saat menunggu isteri dan anak-anak di tempat lesnya, saya buka WA pribadi dari adinda R Abdul Hamid Roqib Suryodirjo Palalang Pakong melalui akun WA Ustad Hasibullah, isinya berita duka tentang wafatnya adinda R.B. Ja'far Shodiq (Gus Papang). 


Saya langsung cek berbagai grup WA, ternyata sejak tadi sore sudah ramai untaian ucapan duka cita. Ya Allah, saya benar-benar baru tau.


Mata berkaca-kaca, terkenang komunikasi terakhir beberapa hari yang lalu, saya disuruh datang ke rumah induknya di Batuampar Sumenep, bukan di Kota Sumenep seperti biasanya. Almarhum bilang bahwa semua sudah jenguk ke Batuampar, kecuali saya. Saya memang sangat padat beberapa hari ini.


Terkenang semua canda tawanya, baik lewat telepon, chatt maupun pertemuan darat. 


​Ada pepatah mengatakan bahwa setiap keluarga memiliki perpustakaannya sendiri. Bagi kami, perpustakaan itu adalah adinda RB Ja'far Shodiq, atau yang akrab kami sapa Gus Papang, ada juga yang menyapa Gus Pakpang. 


Gus Papang adalah penjaga warisan sejarah dan silsilah leluhur kami, para Raja dan Wali Madura.


Gus Papang adalah jembatan hidup yang menghubungkan kami dengan akar masa lalu yang kini sering kali terlupakan.


​Kami tidak hanya kehilangan seorang anggota keluarga, melainkan kehilangan sebuah simpul sejarah yang tak tergantikan.


Gus Papang adalah ​sang pelurus silsilah yang membumi. Di grup WA Bani Abdul Qidam, Gus Papang selalu ikhlas dan telaten melakukan validasi dan verifikasi nasab para anggota grup. Kalau nasab seorang anggota grup tidak absah, Gus Papang sampaikan dengan tegas tanpa sungkan. 


Pesan Gus Papang, jangan ada sungkanisme dalam pelurusan nasab.


​Dalam dunia historiografi yang rumit, di mana silsilah sering kali tertutup kabut waktu, Gus Papang hadir sebagai sosok yang terang dan tenang, namun sangat disiplin dan tegas.


Almaghfurlah memiliki kemampuan luar biasa untuk mengurai benang kusut nasab keluarga. Ketelitiannya dalam menjaga kemurnian silsilah bukan hanya hobi, melainkan bentuk pengabdian.


Baginya, memahami asal-usul adalah bentuk penghormatan kepada leluhur.


​Namun, di balik pengetahuannya yang ensiklopedis tentang sejarah dan genealogi para Raja dan para Wali, Gus Papang adalah sosok yang low profile. Sosok yang tidak sekalipun menjadikan darah biru yang mengalir di nadinya sebagai alasan untuk berdiri di atas menara gading.


Sepanjang hayat, Gus Papang justru turun ke bawah, merangkul keluarga, dan memastikan bahwa setiap anggota keluarga tahu siapa diri mereka tanpa harus merasa tinggi hati.


Kuburan para leluhur dirawatnya tanpa kenal lelah, tanpa pamrih, sarana prasarana maqbarah diperjuangkannya.


Gus Papang adalah ​mentor dan guru bagi jiwa yang mencari ketersambungan tali silaturrahim.


​Secara pribadi, saya merasa sangat beruntung pernah menimba ilmu dan bertukar wawasan dengan almarhum.


Gus Papang adalah sosok guru, keluarga dan sahabat yang unik. Disamping tegas, disiplin, dan memiliki prinsip yang teguh, almarhum selalu tahu kapan harus lembut untuk membimbing.


​Banyak pelajaran berharga yang saya petik dari almarhum.


Almarhum mengajarkan bahwa menjadi seorang yang berdarah ningrat bukan berarti harus angkuh, melainkan harus lebih berani dalam bersikap dan lebih ikhlas dalam melayani. 


Gus Papang adalah teladan nyata tentang bagaimana kecerdasan dan ketegasan harus dibalut dengan kerendahan hati.


​Kini, ruang diskusi kami akan menjadi sunyi. Tidak ada lagi suara tegas yang mengoreksi silsilah dengan akurasi tinggi, atau nasihat penuh semangat yang selalu mampu menenangkan kegelisahan kami.


​Gus Papang telah berpulang, namun beliau meninggalkan warisan yang jauh lebih abadi daripada sekedar ingatan.


Gus Papang meninggalkan sebuah pemahaman tentang jati diri, mengajarkan bahwa keluarga bukanlah sekadar ikatan nama, melainkan ikatan nilai dan sejarah yang harus dijaga dengan dedikasi.


​Melihat kembali kenangan bersamanya, hati ini memang tersayat. Ada banyak tawa, banyak diskusi serius, dan banyak pelajaran hidup yang kini tersimpan rapat dalam memori.


Namun, kami sadar, tugas Gus Papang sebagai penjaga sejarah telah usai. Kini, tongkat estafet itu, kesadaran akan asal-usul, keberanian untuk jujur pada sejarah, dan keikhlasan dalam berkeluarga, berada di tangan kami.


​Selamat jalan Adinda. Terima kasih telah menjadi suluh dalam kegelapan silsilah kami. 


Namamu mungkin akan tercatat di dalam buku silsilah yang kau jaga, namun keteladananmu akan selalu tertulis dalam setiap langkah kami yang engkau bimbing.


​Alfatihah untuk adinda RB Ja'far Shodiq.

Bagikan:

Komentar