|
Menu Close Menu

Masa Depan NU dan NU Masa Depan

Selasa, 25 Agustus 2026 | 08.49 WIB

 

Oleh: Hairul Ulum


Lensajatim.id, Opini- Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama sudah di depan mata. Perhelatan lima tahunan itu akan diselenggarakan pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Muktamar kali ini memiliki arti yang sangat penting karena menjadi muktamar pertama di abad kedua perjalanan Nahdlatul Ulama.


Karena itu, Muktamar ke-35 tidak semestinya hanya dipandang sebagai momentum pergantian kepemimpinan dan penyusunan kepengurusan baru. Lebih dari itu, muktamar harus menjadi ruang untuk membaca ulang perjalanan NU, mengevaluasi khidmah yang telah dilakukan, sekaligus merumuskan arah perjalanan organisasi untuk puluhan tahun ke depan.


Kita tentu berharap muktamar berjalan lancar, guyub, sejuk, dan penuh keberkahan. Lebih penting lagi, muktamar mampu menghasilkan keputusan-keputusan yang membawa kemaslahatan bagi NU, umat, bangsa, dan negara. Dari forum tersebut diharapkan lahir kepemimpinan yang amanah, mampu mengayomi seluruh warga, menjaga marwah organisasi, dan menempatkan kepentingan NU serta kemaslahatan umat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.


Bagi saya, pertanyaan penting yang perlu kita ajukan bukan sekadar siapa yang akan memimpin NU, tetapi NU seperti apa yang ingin kita bangun setelah memasuki abad kedua?


Pertanyaan ini penting karena masa depan NU tidak hanya ditentukan oleh figur pemimpinnya. Masa depan NU ditentukan oleh kemampuan seluruh elemen organisasi untuk membaca perubahan zaman, menyiapkan kader, membangun sistem, memperkuat kelembagaan, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.


Dari NU Hari Ini Menuju NU Masa Depan


NU telah melewati perjalanan panjang. Sejak didirikan pada 1926, NU tumbuh menjadi salah satu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. NU bukan hanya organisasi keagamaan, tetapi juga kekuatan sosial, pendidikan, ekonomi, kebudayaan, dan kebangsaan.


Dalam perjalanan tersebut, NU telah memberikan kontribusi besar dalam menjaga tradisi keislaman Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Namun, memasuki abad kedua, NU menghadapi tantangan yang berbeda. Tantangan hari ini tidak sama dengan tantangan ketika NU didirikan. Dunia bergerak jauh lebih cepat. Teknologi digital mengubah cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, dan membangun relasi sosial. Kecerdasan buatan mulai memasuki berbagai bidang kehidupan. Ekonomi digital berkembang pesat. Perubahan sosial berlangsung sangat cepat. Anak-anak muda memiliki cara pandang, cara belajar, dan cara berorganisasi yang berbeda dengan generasi sebelumnya.


Dalam situasi seperti ini, NU tidak cukup hanya mempertahankan apa yang sudah ada. Tradisi tetap harus dijaga, tetapi tradisi harus mampu berdialog dengan perubahan.


Di sinilah pentingnya membangun NU masa depan: NU yang tetap berakar pada tradisi, tetapi tidak takut menghadapi inovasi; NU yang tetap kokoh dengan nilai Ahlussunnah wal Jamaah, tetapi terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan; NU yang kuat secara kelembagaan, tetapi tetap dekat dengan masyarakat.


Dengan kata lain, NU masa depan bukan NU yang meninggalkan masa lalunya, tetapi NU yang mampu menjadikan warisan masa lalu sebagai energi untuk menjawab masa depan.


Menjaga Tradisi, Menguatkan Inovasi


Salah satu kekuatan terbesar NU adalah tradisi keulamaan dan pesantren. Tradisi keilmuan pesantren, sanad keilmuan, penghormatan kepada ulama, budaya musyawarah, dan prinsip tawassuth, tawazun, tasamuh, serta i'tidal merupakan modal sosial yang sangat berharga.


Namun, kekuatan tradisi tersebut harus dipertemukan dengan inovasi.


NU membutuhkan akademisi, profesional, teknokrat, pengusaha, saintis, praktisi teknologi, pekerja kreatif, dan generasi muda yang memiliki kapasitas untuk menerjemahkan nilai-nilai ke-NU-an dalam konteks kehidupan modern.


NU tidak boleh hanya menjadi konsumen perubahan. NU harus menjadi bagian dari aktor yang menciptakan perubahan.


Karena itu, penting bagi NU untuk membangun ekosistem keilmuan dan profesionalitas. Kampus-kampus NU harus diperkuat. Lembaga pendidikan harus didorong untuk menghasilkan penelitian yang menjawab persoalan masyarakat. Pesantren harus memiliki keberanian mengembangkan sains dan teknologi tanpa kehilangan karakter kepesantrenannya.


NU juga perlu memiliki ruang yang lebih besar bagi para profesional dan akademisi untuk berkhidmah. Mereka tidak harus selalu ditempatkan dalam struktur organisasi, tetapi diberi ruang untuk menyumbangkan keahlian dan gagasannya bagi kemajuan umat.


Sebab, abad kedua membutuhkan NU yang tidak hanya besar secara jumlah, tetapi juga kuat dalam kualitas sumber daya manusia.


Kaderisasi: Menyiapkan Generasi NU Masa Depan


Salah satu pekerjaan rumah terbesar NU adalah kaderisasi.


NU memiliki jumlah warga yang sangat besar. Namun, besarnya jumlah jamaah belum otomatis menjamin kuatnya organisasi. Organisasi yang besar membutuhkan kader yang kuat, berilmu, berakhlak, dan memiliki kemampuan membaca perubahan.


Generasi muda NU tidak cukup hanya diberi tahu bahwa mereka adalah bagian dari NU karena orang tua atau keluarganya merupakan warga NU. Identitas tersebut memang penting, tetapi generasi muda membutuhkan pengalaman bahwa menjadi bagian dari NU memiliki makna bagi masa depan mereka.


Mereka membutuhkan ruang untuk belajar, berdiskusi, berkreasi, berwirausaha, meneliti, berorganisasi, dan mengembangkan diri.


Karena itu, IPNU-IPPNU, GP Ansor, PMII, Fatayat, Muslimat, dan berbagai badan otonom serta komunitas anak muda NU harus menjadi ruang kaderisasi yang hidup. Kaderisasi tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial atau pergantian struktur kepengurusan. Kaderisasi harus menjadi proses panjang untuk melahirkan manusia NU yang memiliki kapasitas intelektual, spiritual, sosial, dan profesional.


NU membutuhkan generasi muda yang mampu menjadi ulama, akademisi, birokrat, politisi, pengusaha, profesional, teknolog, peneliti, guru, jurnalis, pekerja kreatif, dan pemimpin masyarakat.


Dengan demikian, kaderisasi NU harus bergerak dari sekadar regenerasi organisasi menuju investasi peradaban.


Pendidikan sebagai Jalan Masa Depan


Jika NU ingin berbicara tentang masa depan, maka pendidikan harus menjadi salah satu prioritas utama.


NU memiliki ribuan pesantren, madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi. Potensi tersebut merupakan kekuatan luar biasa. Namun, tantangannya adalah bagaimana lembaga-lembaga tersebut mampu menghasilkan generasi yang menguasai ilmu agama sekaligus memiliki kemampuan menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.


Pendidikan NU masa depan harus mampu mempertemukan ilmu agama dan ilmu umum. Santri tidak hanya harus mampu membaca kitab, tetapi juga memahami teknologi. Generasi NU tidak hanya harus memiliki akhlak yang baik, tetapi juga mampu berpikir kritis, kreatif, dan adaptif.


Kita membutuhkan generasi yang mampu membaca kitab kuning sekaligus membaca perubahan zaman. 


Di sinilah NU harus berani melakukan lompatan. Digitalisasi pendidikan, penguatan riset, pengembangan keterampilan, penguasaan bahasa asing, literasi digital, kewirausahaan, dan kecakapan teknologi harus menjadi bagian dari agenda besar pendidikan NU abad kedua.


Jika pendidikan NU kuat, maka masa depan NU akan memiliki fondasi yang kuat pula.


Dari Jamaah Menjadi Kekuatan Pemberdayaan


Abad pertama NU dapat disebut sebagai fase penting dalam membangun fondasi organisasi. Memasuki abad kedua, tantangannya adalah bagaimana fondasi tersebut dikembangkan menjadi kekuatan pemberdayaan.


NU harus hadir dalam persoalan nyata masyarakat.


Ketika masyarakat menghadapi persoalan ekonomi, NU harus hadir melalui pemberdayaan ekonomi. Ketika masyarakat menghadapi persoalan pendidikan, NU harus hadir melalui lembaga pendidikan yang bermutu. Ketika masyarakat menghadapi persoalan kesehatan, NU harus memiliki program dan kelembagaan yang mampu memberikan solusi.


Demikian pula dalam menghadapi persoalan lingkungan, kemiskinan, pengangguran, ketimpangan sosial, dan perkembangan teknologi.


NU harus bergerak dari paradigma “memiliki banyak jamaah” menuju “memberdayakan jamaah.”


Jutaan warga NU adalah potensi sosial yang sangat besar. Jika potensi tersebut terorganisasi dengan baik, dikembangkan melalui pendidikan, dan diperkuat dengan jejaring ekonomi, maka NU dapat menjadi kekuatan besar dalam membangun kemandirian masyarakat.


NU dan Indonesia Masa Depan


NU juga memiliki tanggung jawab besar terhadap masa depan Indonesia.


Sejarah telah membuktikan bahwa NU tidak dapat dipisahkan dari perjalanan bangsa. Karena itu, memasuki abad kedua, NU harus tetap menjadi kekuatan yang menjaga persatuan bangsa.


Di tengah menguatnya polarisasi sosial, politik identitas, disinformasi, dan berbagai bentuk konflik di ruang digital, NU harus tetap menjadi rumah besar yang menyejukkan.


NU harus mampu menunjukkan bahwa Islam Ahlussunnah wal Jamaah dapat menjadi kekuatan yang menghadirkan kedamaian, toleransi, keadilan, dan kemaslahatan.


NU tidak perlu kehilangan identitas untuk menjadi modern. Sebaliknya, modernitas harus dihadapi dengan identitas yang kuat dan pikiran yang terbuka.


Masa Depan NU Adalah Tanggung Jawab Bersama


Pada akhirnya, masa depan NU tidak hanya berada di tangan Rais 'Aam, Ketua Umum PBNU, pengurus wilayah, pengurus cabang, atau struktur organisasi lainnya.


Masa depan NU adalah tanggung jawab bersama.


Muktamar memang akan memilih pemimpin. Tetapi setelah muktamar selesai, pekerjaan besar sesungguhnya justru dimulai.


Kita membutuhkan kepemimpinan yang mampu menyatukan, bukan mempertentangkan. Kepemimpinan yang mampu merangkul, bukan mengkotak-kotakkan. Kepemimpinan yang menjadikan jabatan sebagai amanah khidmah, bukan sebagai ruang perebutan kepentingan.


NU masa depan harus menjadi rumah besar bagi seluruh Nahdliyyin. Rumah yang menjaga Islam Ahlussunnah wal Jamaah, merawat tradisi keulamaan, memperkuat persatuan bangsa, dan sekaligus membuka pintu selebar-lebarnya bagi ilmu pengetahuan, teknologi, profesionalitas, dan inovasi.


Maka, “Masa Depan NU” dan “NU Masa Depan” adalah dua hal yang saling berkaitan.


Masa depan NU berbicara tentang bagaimana keberlangsungan organisasi ini di tengah perubahan zaman. Sedangkan NU masa depan berbicara tentang wajah baru NU yang kita harapkan: lebih kuat secara kelembagaan, lebih maju dalam pendidikan, lebih mandiri dalam ekonomi, lebih unggul dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, lebih kuat dalam kaderisasi, serta semakin nyata manfaatnya bagi masyarakat.


Muktamar ke-35 hendaknya tidak hanya melahirkan kepengurusan baru, tetapi juga menghadirkan visi baru tentang peradaban NU.


Sebab, abad kedua bukan sekadar pergantian angka dalam usia organisasi. Abad kedua adalah momentum untuk bertanya: apa yang akan diwariskan NU kepada generasi setelah kita?


Jawabannya tidak cukup dengan kebesaran sejarah.


Kita harus mewariskan NU yang kuat tradisinya, luas ilmunya, matang organisasinya, mandiri ekonominya, unggul pendidikannya, kuat kadernya, adaptif terhadap teknologi, dan nyata khidmahnya.


Pada akhirnya, NU masa depan harus mampu menjadikan satu prinsip sederhana sebagai napas perjuangannya: semakin besar NU, semakin besar pula kemanfaatannya bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.


Itulah barangkali makna terdalam dari memasuki abad kedua: bukan sekadar mempertahankan NU agar tetap ada, tetapi memastikan NU tetap relevan, dibutuhkan, dan memberi manfaat bagi zaman yang terus berubah.


Penulis adalah Pemerhati Sosial, Politik, dan Budaya; Katib Syuriah MWC NU Sumberbaru

Bagikan:

Komentar