![]() |
| Kegiatan Silatnas MA IPNU 2026 di Hotel The Grove Suites by Grand Aston, Jakarta Selatan.(Dok/Istimewa) |
Silatnas tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus diskusi mengenai masa depan Nahdlatul Ulama (NU), termasuk arah kepemimpinan dan penguatan peran organisasi di tengah perubahan zaman.
Sejumlah tokoh hadir dalam diskusi panel tersebut, di antaranya KH Nasaruddin Umar, KH Zulfa Mustofa, KH Yusuf Chudlori, KH Abdul Ghaffar Rozin, KH Abdussalam Shochib, KH Masykuri Abdillah, Hery Haryanto Azumi, KH Ali Masykur Musa, dan KH Marsudi Syuhud.
Ketua Presidium Pusat MA IPNU Prof. H. M. Asrorun Ni’am Sholeh mengatakan, seluruh nama yang muncul di publik sebagai bakal calon pimpinan PBNU menunjukkan komitmennya untuk berdiskusi bersama alumni IPNU.
“Alhamdulillah, 11 nama yang muncul di publik, baik yang sudah keliling bersilaturahmi maupun yang mendatangi langsung pengurus cabang, semuanya berkomitmen untuk hadir dan berdiskusi,” tuturnya.
Sementara itu, Prof. Dr. KH Ali Masykur Musa mengawali sambutannya dengan menegaskan bahwa kehadirannya dalam forum Silaturahmi Nasional Majelis Alumni IPNU semata-mata untuk memenuhi undangan dan menjaga silaturahim.
Menurutnya, menghormati undangan merupakan bagian dari akhlak seorang nahdliyin.
Dalam forum tersebut, Ali Masykur juga menyampaikan penegasan yang selama ini belum pernah diungkapkan secara terbuka. Hingga saat ini, ia mengaku belum pernah menyatakan kepada siapa pun apakah akan menjadi bagian dari kontestasi Ketua Umum PBNU atau tidak.
Sikap tersebut, menurutnya, bukan bentuk keraguan. Ia meyakini bahwa kepemimpinan di NU bukan sekadar persoalan kompetisi, melainkan amanah yang ditentukan melalui mekanisme jam'iyah dan pada akhirnya merupakan rahasia atau sirr Allah SWT.
“Yang kedua yang ingin saya sampaikan di forum yang mulia ini, jujur sampai sekarang, saya belum pernah mengatakan kepada siapapun, apakah akan dan menjadi bagian dari kontestasi Ketua Umum Tanfidziyah. Karena dalam hidup saya, seluruh masa muda saya, bahkan 70 persen hidup saya adalah untuk NU,” ujarnya.
Ali Masykur mengingatkan bahwa hampir seluruh perjalanan hidupnya diabdikan untuk NU. Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan Nahdlatul Ulama. Saat menjadi pelajar, ia dipercaya menjadi Ketua Umum IPNU. Ketika menjadi mahasiswa, ia memimpin PMII.
Setelah menjadi sarjana, ia dipercaya memimpin Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) sebagai Ketua Umum. Ketika memasuki dunia thariqah, ia diangkat menjadi Mursyid Thariqah Naqsabandiyah Kholidiyah, kemudian memperoleh amanah sebagai Mudir 'Aly Jam'iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN).
Menurutnya, seluruh amanah tersebut diterima melalui mekanisme aklamasi. Karena itu, ia mengaku tidak pernah memiliki ambisi untuk membuka ruang kontestasi bagi dirinya sendiri.
Apabila Muktamar memutuskan ada sosok lain yang lebih layak memimpin NU, menurutnya, keputusan tersebut merupakan pilihan terbaik yang harus diterima dengan penuh keikhlasan.
“Jadi saya tidak pernah mau terbuka kontestasi. Kalau ada yang lebih baik dan itu disetujui Muktamar, itulah yang terbaik dan itulah akhirnya. Saya tidak tahu takdir untuk siapa. Semua adalah sirr, semua sirr, rahasia dari Allah SWT,” tandasnya.
Beranjak dari persoalan kepemimpinan, Ali Masykur mengajak peserta forum kembali merenungkan pertanyaan mendasar mengenai untuk siapa NU didirikan.
Menurutnya, sejarah panjang kelahiran NU memperlihatkan sedikitnya empat amanat besar yang harus terus dijaga.
Pertama, penguatan ideologi Ahlus Sunnah wal Jama'ah An-Nahdliyah atau Amanah Diniyah.
Ali Masykur mengingatkan kembali sejarah Komite Hijaz yang memilih jalan diplomasi demi mempertahankan keberlangsungan tradisi Ahlus Sunnah wal Jama'ah di Tanah Suci.
Karena itu, NU masa depan harus mampu menghidupkan kembali ruh Ahlus Sunnah wal Jama'ah sebagai fikrah sekaligus harakah, sehingga NU tidak kehilangan identitas ideologisnya.
Jangan sampai, sebagaimana kekhawatiran sebagian kalangan, NU hanya tinggal menjadi organisasi besar, tetapi generasi mudanya tidak lagi mengenal manhaj, fikrah, dan mazhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang menjadi fondasi kelahirannya.
Kedua, memperkuat peran global NU melalui soft diplomacy.
Ali Masykur menilai NU harus menjadi bagian dari peradaban dunia. Dunia kini memasuki era tanpa sekat atau borderless world, sehingga NU dinilai tidak cukup hanya memainkan peran domestik.
NU harus tampil sebagai kekuatan moral global yang membawa pesan perdamaian, hidup berdampingan secara harmonis, serta menjadi penjaga keseimbangan dunia melalui apa yang disebutnya sebagai equilibrium diplomacy.
Dalam konteks tersebut, Ketua Umum PBNU ke depan harus memiliki kemampuan soft diplomacy, yakni diplomasi berbasis nilai, budaya, agama, dan kemanusiaan.
Seorang pemimpin NU juga dituntut memahami dinamika geopolitik, geostrategi, serta memiliki visi keberlanjutan atau green ideology agar mampu membawa NU menjadi aktor penting dalam percaturan global.
Ketiga, peneguhan nasionalisme kebangsaan atau Amanatul Wathan.
Ali Masykur menegaskan bahwa NU tidak boleh diperalat untuk kepentingan pribadi maupun kelompok. NU hadir untuk umat, bangsa, dan kemaslahatan Indonesia.
Karena itu, sejarah perjuangan NU harus terus dihidupkan kembali agar dalam setiap persoalan bangsa, Nahdlatul Ulama selalu hadir sebagai part of the solution.
Menurutnya, hubungan antara Islam dan Indonesia tidak boleh dipertentangkan. Keduanya merupakan satu tarikan napas.
“Ya Indonesia, ya Islam. Ya Islam, ya Indonesia.”
Prinsip tersebut, menurutnya, turut membentuk perjalanan hidupnya sejak tumbuh dalam tradisi pergerakan Islam Indonesia.
Keempat, membangun kemandirian ekonomi organisasi.
Pada bagian akhir, Ali Masykur memberikan perhatian khusus terhadap persoalan kemandirian ekonomi organisasi.
Menurutnya, sebesar apa pun peran NU, tanpa fondasi ekonomi yang kuat organisasi akan selalu berada dalam posisi rentan.
Karena itu, kepengurusan PBNU mendatang harus membangun tata kelola ekonomi modern melalui penguatan teknokrasi organisasi, budaya kewirausahaan atau sense of business, serta sistem fundraising yang profesional.
Dengan kemandirian ekonomi, NU akan tetap merdeka dalam mengambil sikap, tidak mudah diintervensi oleh kepentingan mana pun, dan mampu menjaga marwahnya sebagai organisasi yang mengabdi sepenuhnya kepada umat dan bangsa.
“Mohon maaf, suka ataupun tidak suka, kita harus mengakui bahwa tingkat resiliensi dan kemandirian ekonomi Nahdlatul Ulama saat ini masih sangat rentan. Padahal, semua orang sudah mengetahui siapa NU, bagaimana posisinya, dan betapa strategis perannya bagi bangsa ini,” papar Ali Masykur.
“Karena itu, saya memimpikan Nahdlatul Ulama yang memiliki kemandirian ekonomi yang kokoh; dikelola dengan tata kelola yang baik, diperkuat oleh kapasitas teknokrasi yang mumpuni, memiliki sense of business yang kuat, serta didukung kemampuan fundraising yang profesional dan berkelanjutan,” lanjutnya.
Ia menegaskan, jika fondasi tersebut dapat dibangun, NU tidak akan mudah dipengaruhi, diintervensi, apalagi diperjualbelikan oleh kepentingan mana pun.
“Apabila fondasi itu dapat kita bangun, insyaallah NU tidak akan mudah dipengaruhi, tidak akan mudah diintervensi, apalagi diperjualbelikan oleh kepentingan mana pun. NU akan tetap berdiri tegak sebagai organisasi yang merdeka dalam sikap dan mandiri dalam pengabdian. Saya meyakini bahwa dalam setiap momentum penting perjalanan bangsa, Nahdlatul Ulama akan selalu menjadi salah satu penentu arah Indonesia,” tegasnya.
Pernyataan tersebut disambut gemuruh tepuk tangan para peserta Silatnas.
“Namun, ada satu syarat yang harus dipenuhi, yaitu terbangunnya kemandirian ekonomi yang ditopang oleh penguatan teknokrasi, budaya kewirausahaan (sense of business), serta kepemimpinan kolektif yang mampu mengelola seluruh potensi organisasi secara profesional. Menurut saya, itulah salah satu karakter yang harus dimiliki kepengurusan PBNU pada masa yang akan datang,” paparnya.
Menutup pidatonya, Ali Masykur mengajak seluruh peserta menyongsong Muktamar NU ke-35 dengan hati yang jernih dan jiwa yang bersih.
Menurutnya, Muktamar harus diawali dengan tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa dan dilanjutkan dengan tashfiyatul qalb atau penjernihan hati. Dengan demikian, seluruh keputusan yang lahir benar-benar berorientasi pada kemaslahatan Nahdlatul Ulama, bukan kepentingan pribadi atau kelompok.
Ia menutup dengan doa agar Allah SWT meridhai seluruh ikhtiar warga Nahdlatul Ulama sekaligus menegaskan arah perjuangan jam'iyah dalam satu kalimat: “NU untuk Indonesia. Indonesia untuk dunia.”
“Semoga Allah meridhoi dan merahmati. Aamiiin. Mari kita bermuktamar dengan betul-betul berangkat dari hati. Kita betul-betul tazkiyatun nafs, dan kita masuk ke gelanggang Muktamar dengan tashfiyaat al-qolbi, membeningkan mata hati, karena kita adalah untuk NU. NU untuk Indonesia, Indonesia untuk dunia,” doanya menutup paparan. (Red)


Komentar