|
Menu Close Menu

Ini Tentang KH.M. Ali Cholil dan Mimpi Besar IHSAN

Selasa, 04 Agustus 2026 | 16.37 WIB

KH. M. Ali Cholil bersama para ulama di NTB.(Dok/Istimewa). 

Oleh; Mochammad Hisan


Lensajatim.id, Opini- Hari jum’at, 31 Juli 2026 sekira pukul 22.08 WIB, notifikasi smartphone saya berbunyi dan baru sempat terbaca pukul 02.00 WIB dini hari. Pesan singkat itu berbunyi;

”Assalamu’alaikum. Saya H.M. Ali Cholil, Pengasuh Ponpes Syaichona Cholil Kaltim dan Rais Syuriah PWNU Kaltim serta inisiator pendirian Ikatan Himpunan Santri & Alumni se-Nusantara (IHSAN), salam silaturrahim. Sekiranya tidak mengganggu mau telpon”.


Membacanya, pikiran saya langsung teringat pada sosok kiai karismatik, low profile dan visioner plus mendedikasikan seluruh hidupnya untuk perjuangan pendidikan pesantren, kemandirian lembaga pendidikan Islam serta kesatuan masyarakat pesantren. Beliau adalah Kiai Ali, yang dalam beberapa hari lalu, saya berkesempatan silaturrahim, istifadah dan tabarrukan kepada beliau di Kalimantan Timur.


Kemudian, pagi harinya, barulah notifikasi handphone terdengar berbunyi dan setelah saya lihat, beliau Kiai Ali yang menelphone. ”saya lagi di airport melanjutkan rihlah, setelah dari Sulawesi kemarin”, begitu suara dawuh beliau terdengar.


Kiai Ali, sejak beberapa tahun terakhir memang kerap melakukan rihlah dan silaturrahim untuk menuangkan ide, gagasan, pikiran dan mimpi besarnya kepada para kiai, jejaring pesantren yang ada di luar Kalimantan Timur. Dari satu kiai, ke kiai yang lain. Dari pintu kantor PWNU, PCNU, MWCNU, dan bahkan PR NU ke pintu yang lain. Seakan kata ”lelah” sudah terhapus dari kamus hidup beliau.


Potensi Besar Yang Berserakan


Dalam perjalanan dan rihlah panjangnya, Kiai Ali berpandangan bahwa pesantren merupakan salah satu kekuatan sosial-keagamaan terbesar yang dimiliki bangsa Indonesia. Setiap tahun, jumlah santri terus bertambah seiring dengan semakin berkembangnya pondok pesantren di berbagai pelosok negeri.


Mereka datang dari pesantren-pesantren besar maupun kecil, dari pulau Jawa, Madura, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi hingga Nusa Tenggara. Mereka belajar kepada kiai yang berbeda, tumbuh dalam kultur pesantren yang beragam, kemudian mengabdi di tengah masyarakat pada bidang pengabdian yang juga berbeda-beda. Jumlah mereka sangat besar. Potensi intelektual, spiritual, dan sosial yang mereka miliki pun sudah diakui oleh bangsa Indonesia.


Begitupun, jumlah alumni pesantren terus menyebar ke seluruh penjuru Nusantara, menjalani jalan pengabdian masing-masing. Ada yang menjadi kiai, guru, dosen, penceramah, birokrat, aparat negara, pengusaha, politisi, akademisi, aktivis sosial, hingga pelaku ekonomi yang menggerakkan masyarakat dari akar rumput. Mereka hadir di berbagai medan kehidupan dengan latar belakang pesantren yang beragam.


Namun, di tengah besarnya potensi tersebut, para alumni lebih banyak berjalan sendiri-sendiri. Ikatan emosional dengan almamater tetap terjaga, tetapi ruang yang mampu mempertemukan seluruh alumni lintas pesantren dalam satu simpul persaudaraan nasional masih belum benar-benar hadir. Potensi besar itu tersebar, namun belum sepenuhnya terhubung. "Mengapa jutaan alumni pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia belum memiliki satu ruang bersama untuk terus bersilaturahim?", dawuh Kiai Ali dibalik telephone pagi itu.


Selain itu, para santri aktif ketika menjalani masa liburan panjang dirumahnya, di desanya, kecamatan dan kabupatennya masing-masing, terkesan apatis dengan lingkungan sekitarnya. Hal itu disebabkan belum terbiasa silaturrahim dengan sesama santri lintas pesantren, silaturrahim ke kiai, tokoh masyarakat yang menjadi panutan di daerahnya, juga dikarenakan tidak ada mediator yang menjembatani dan menyatukan para santri aktif yang sedang menikmati masa-masa liburannya.


Kenyataan itulah yang terus mengendap dalam benak dan pikiran Kiai Ali, hingga beliau menemukan satu gagasan untuk menginisiasi terbentuknya wadah kultural yang mampu menjembatani silaturahim, memperkuat ukhuwah ma'hadiyah, sekaligus mempertemukan seluruh kekuatan alumni dan simpatisan (muhibbin; meminjam istilah yang lagi trand) pondok pesantren tanpa dibatasi oleh sekat-sekat almamater, organisasi, maupun daerah asal tertentu.


”Ikatan Himpunan Santri & Alumni se-Nusantara (IHSAN)”, begitulah Kiai Ali memberi nama. Forum ini digagas bukan semata-mata sebagai institusi, melainkan sebagai gerakan kultural yang ingin memperkuat nilai dan tradisi pesantren, menyatukan santri dalam ikatan persaudaraan (ukhuwah) lintas pesantren dengan didasari keikhlasan, gotong royong, dan khidmat kepada agama, bangsa dan negara.


IHSAN dimimpikan sebagai sebuah rumah bersama bagi seluruh santri dan alumni pesantren se-Nusantara. IHSAN diharapkan menjadi simpul yang menghubungkan jutaan santri dan alumni yang selama ini tersebar di berbagai penjuru Nusantara, membangun jejaring kolaborasi lintas pesantren, lintas profesi, dan lintas generasi.


IHSAN; Menggerakkan dari Akar Rumput


Banyak organisasi lahir karena kebutuhan struktural, kepentingan administratif, atau dinamika politik organisasi. Namun, Ikatan Himpunan Santri dan Alumni Nusantara (IHSAN) justru lahir dari kegelisahan batin seorang kiai yang bertahun-tahun menyaksikan potensi besar pesantren, santri dan alumni pesantren yang belum sepenuhnya terkoneksi dalam satu ikatan persaudaraan (ukhuwah).


Adalah Kiai Ali memimpikan terwujudnya tradisi baru yang selama ini belum terfasilitasi. Setiap kali musim kembali ke pondok pesantren tiba, para santri yang berasal dari berbagai pesantren dapat dipertemukan dalam sebuah forum silaturahim di daerah masing-masing.


Mereka berkumpul bukan untuk membahas perbedaan, melainkan untuk saling mengenal, mempererat ukhuwah, kemudian bersama-sama sowan kepada para kiai sepuh dan tokoh-tokoh pesantren di daerah tersebut. Di hadapan para masyayikh, memohon barokah doa, agar perjalanan menuntut ilmu diberi kemudahan, ilmu yang dipelajari menjadi ilmu yang manfaat, memperoleh keberkahan, serta kelak mampu menjadi bekal untuk mengabdi kepada masyarakat, agama, bangsa, dan negara.


Tradisi seperti diatas itulah yang ingin dihidupkan kembali melalui IHSAN. Bagi Kiai Ali, keberkahan ilmu tidak hanya lahir dari banyaknya kitab yang dipelajari, tetapi juga dari adab dan khidmah kepada guru, kepada para ulama, ditopang oleh kekuatan jalinan silaturahim antarsantri. IHSAN tidak hanya dibangun sebagai forum alumni, melainkan sebagai gerakan kultural yang menghidupkan kembali nilai-nilai luhur pesantren di tengah masyarakat modern.


Lebih jauh lagi, Kiai Ali meyakini bahwa persatuan santri merupakan salah satu modal sosial terbesar yang dimiliki Indonesia. Ketika jutaan santri dari berbagai latar belakang pesantren mampu saling menghormati, saling menguatkan, dan bekerja sama, maka akan lahir kekuatan kebangsaan yang sangat besar. Dari pesantren akan lahir bukan hanya ulama dan pendidik, tetapi juga pemimpin, birokrat, akademisi, pengusaha, aparat negara, hingga tokoh masyarakat yang memiliki akar spiritual yang sama dan orientasi pengabdian yang sama pula.


Karena itu, bagi Kiai Ali, santri tidak cukup hanya menjadi penjaga tradisi pesantren. Santri harus menjadi perekat ukhuwah, penjaga persatuan umat, sekaligus penjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Menghidupkan Tradisi Pesantren, Menggerakkan IHSAN


Setiap daerah (Kabupaten/Kota, Provinsi) hingga Negara kesatuan Republik Indonesia memiliki hari jadi yang biasa diperingati pada waktu yang berbeda-beda sesuai hari kelahirannya dan biasanya kita mengenalnya dengan Hari Ulang Tahun (HUT).


Bagi Kiai Ali, hari jadi Kabupaten/Kota maupun Provinsi tidak hanya dimaknai sebagai peringatan administratif yang diisi upacara, parade atau pawai budaya, maupun pidato seremonial. Di balik setiap hari jadi daerah (Kabupaten/Kota, Provinsi), tersimpan ruang spiritual yang menjadi bagian dari tradisi panjang pesantren, yakni menghidupkan doa, mempererat silaturrahim, dan memohon pertolongan Allah SWT (istighosah) bagi keselamatan masyarakat serta kemaslahatan para pemimpinnya.


Setiap peringatan hari jadi daerah (Kabupaten/Kota dan Provinsi) akan menjadi momentum bagi para koordinator IHSAN setiap tingkatan di daerahnya masing-masing untuk menghimpun santri, alumni, dan para simpatisan pesantren dalam silaturrahim, istighasah, pembacaan tahlil, serta doa bersama.


Doa-doa tersebut dihadiahkankan untuk para syuhada, para masyayikh pesantren, para pahlawan, para pendiri daerah, sekaligus memohon agar Allah SWT memberikan kesehatan, kekuatan, kebijaksanaan, serta hidayah kepada para pemimpin daerah dalam menjalankan amanah rakyat.


Kemudian, agenda puncaknya, Koordinator Nasional IHSAN akan menyelenggarakan Silaturrahim Nasional Santri setiap dua tahun sekali bertepatan dengan rangkaian Hari Santri Nasional pada akhir Oktober. Kegiatan perdana direncanakan berlangsung pada 30 Oktober 2027 di Masjid Negara, Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai simbol bahwa pesantren akan terus mengiringi perjalanan bangsa di mana pun pusat pemerintahan berada.


Ribuan santri, alumni dan simpatisan pesantren dari berbagai daerah akan berkumpul untuk bermujahadah, istighasah, doa bersama, dan bertahlil untuk mendoakan keselamatan bangsa Indonesia, kesejahteraan seluruh rakyat, para syuhada, masyayikh pondok pesantren se-Nusantara, para pahlawan nasional, serta pemerintah pusat agar senantiasa memperoleh pertolongan, kekuatan, dan hidayah dalam menjalankan amanah memimpin rakyat Indonesia secara adil dan memberikan kebijakan yang bertumpu pada kemaslahatan.


Melalui tradisi inilah, IHSAN ingin menegaskan identitasnya sebagai gerakan yang berakar kuat pada nilai-nilai pesantren. Doa dijadikan sebagai bentuk pengabdian kepada bangsa, sementara silaturrahim menjadi perekat persaudaraan antarsantri dan masyarakat. Dari mushala, masjid, hingga Masjid Negara di Ibu Kota Nusantara, IHSAN membawa keyakinan bahwa kekuatan spiritual merupakan salah satu fondasi penting bagi persatuan, keberlangsungan dan kemajuan peradaban bangsa Indonesia.


Bertumpu pada Nilai Spiritualitas; Ruh IHSAN


Salah satu ciri khas pemikiran Kiai Ali dalam menginisiasi IHSAN adalah formalitas administrasi hanyalah jasad, ibarat manusia agar tubuh bisa bergerak dan hidup membutuhkan ruh.


Formalitas yes, namun yang lebih penting adalah ruhnya. Doa, dzikir, istighosah, dan adab penghormatan kepada para kiai serta pelestarian tradisi pesantren sebagai ruh dan jantung. Bahkan, beliau merumuskan sebuah kalimat yang menjadi filosofi IHSAN tersebut "organisasi tanpa spiritualitas akan kehilangan arah"


Pandangan itu kemudian diterjemahkan ke dalam simbol kepemimpinan yang cukup unik, tongkat dan tasbih. Tongkat melambangkan ketegasan dalam memimpin organisasi. Tasbih melambangkan bahwa setiap keputusan harus selalu diiringi dzikir, doa, dan kesadaran spiritual.


Filosofi inilah yang kemudian ia usulkan sebagai bagian dari tradisi pengukuhan kepengurusan Nahdlatul Ulama di berbagai tingkatan. Gagasan tersebut pernah disampaikannya dalam Musyawarah Kerja Wilayah II PWNU Kalimantan Timur pada Mei 2026 sebagai usulan untuk diperjuangkan dalam forum Muktamar NU.


Bersama Para Masyayikh Penjaga Marwah NU


Menjelang penyelenggaraan Muktamar Nahdlatul Ulama Tahun 2026 yang diputuskan di Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang Jawa Timur, nama Kiai Ali (K.HM. Ali Cholil) semakin sering disebut dalam berbagai forum keulamaan nasional. Hal itu tidak terlepas dari kiprahnya sebagai Rais Syuriyah PWNU Kalimantan Timur yang aktif mengawal berbagai pembahasan mengenai posisi Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) sebagai institusi keulamaan tertinggi dalam mekanisme pemilihan Rais Aam PBNU.


Pada 20 Juni 2026, di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, KH. Muhammad Ali Cholil hadir bersama sejumlah masyayikh dan kiai sepuh Nusantara dalam sebuah pertemuan yang menghasilkan seruan penting terkait penjagaan marwah AHWA. Forum tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh besar Nahdlatul Ulama, yakni KH. Nurul Huda Jazuli, KH. Anwar Manshur, KH. A. Kafabihi Mahrus, Prof. KH. Ma'ruf Amin, Prof. KH. Said Aqil Siroj, KH. Ali Akbar Marbun, KH. Muhammad Ali Cholil (Rais Syuriyah PWNU Kalimantan Timur), KH. AH Syatibi Hambali, Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, KH. Mas'ud Masduqi, KH. Ubaidullah Shodaqoh, serta secara daring KH. R. Muhammad Khalil As'ad dan KH. Abdullah Ubab Maimoen. Pertemuan tersebut menegaskan pentingnya menjaga AHWA sebagai maqam keulamaan yang bertumpu pada kedalaman ilmu, keteladanan akhlak, kebijaksanaan dan pengakuan luas dari warga Nahdliyin.


Dalam dinamika menuju Muktamar ke-35 NU, para Rais Syuriah tingkat Wilayah Nahdlatul Ulama mulai menyampaikan usulan nama-nama ulama yang dinilai layak menjadi anggota AHWA, misalnya seperti KH. Anwar Manshur (Jawa Timur), Prof. KH. Ma'ruf Amin (Banten), KH. Nurul Huda Jazuli (Jawa Timur), KH. Ahmad Mustofa Bisri (Jawa Tengah), KH. Miftachul Akhyar (Jawa Timur), KH. Anwar Iskandar (Jawa Timur), KH. Afifuddin Muhajir (Jawa Timur), Prof. KH. Said Aqil Siroj (DKI Jakarta), TGH. Turmudzi Badaruddin (Nusa Tenggara Barat), KH. Buya Muhtadin (Banten), KH. Wildan (Rais Syuriah PWNU Kalimantan Selatan), KH. M. Ali Cholil (Rais Syuriah PWNU Kaltim), Tengku KH. Nailuzzahri (Aceh), KH. Ubaidullah Shodaqoh (Jawa Tengah), AG. KH. Badaruddin (Rais Syuriah PWNU Sulawesi Selatan), KH. Khozien Adnen (Sumatera Barat), dan KH. Ali Akbar Marbun (Sumatera Utara).


Meski namanya juga mengemuka dalam berbagai pembicaraan mengenai AHWA, KH. M. Ali Cholil memilih menyikapi hal tersebut dengan penuh ketawadhuan. Menurutnya, AHWA merupakan forum yang harus diisi oleh para ulama yang benar-benar memiliki kedalaman ilmu, keteladanan, serta diterima secara luas oleh warga Nahdlatul Ulama.


"Masih banyak kiai-kiai yang tingkat kealiman, ketokohan, dan keluasan pengabdiannya sangat layak menjadi anggota AHWA. Di Kalimantan saja misalnya ada Rais Syuriah PWNU Kalimantan Selatan, KH. Wildan, yang memiliki kapasitas keilmuan dan ketokohan yang sangat memadai. AHWA adalah maqam keulamaan, sehingga yang harus dikedepankan adalah kelayakan para masyayikh, bukan kepentingan pribadi ataupun kelompok."


Pernyataan tersebut mencerminkan karakter kepemimpinan KH.M.Ali Cholil yang selama ini lebih mengedepankan kepentingan jam'iyah daripada kepentingan pribadi maupun kelompok. Baginya, yang terpenting bukanlah siapa yang duduk dalam AHWA, melainkan bagaimana forum tersebut tetap menjadi representasi para ulama sepuh yang memiliki kewibawaan moral dan kedalaman ilmu, sehingga mampu menjaga marwah Nahdlatul Ulama sebagai jam'iyah yang lahir dari rahim pesantren.


Pandangan tersebut, sejalan dengan seruan para masyayikh yang menolak pembatasan AHWA hanya berdasarkan jabatan struktural atau representasi kewilayahan, serta menegaskan bahwa AHWA harus tetap bertumpu pada pengakuan atas kualitas keulamaan yang memiliki nilai hikmah dan bijaksana. 

Bagikan:

Komentar