|
Menu Close Menu

Pasca-Muktamar, PCNU Tangsel Dorong Tanfidziyah Diisi Teknokrat dan Syuriyah Diperkuat Kiai yang Faqih

Minggu, 06 September 2026 | 21.47 WIB

Kegiatan forum Ngopi Senja — Ngobrol Pintar, Solutif, Inspiratif untuk Jam’iyah dan Jamaah, Sabtu sore di Graha Aswaja PCNU Tangsel. (Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Tangerang Selatan — Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Tangerang Selatan menilai komposisi kepengurusan PBNU pasca-Muktamar pertama di abad kedua NU harus mampu memadukan kekuatan keulamaan dengan profesionalisme dan kapasitas teknokratis.


Hal tersebut disampaikan Ketua PCNU Kota Tangerang Selatan, H. Abdullah Mas’ud, M.Si., dalam forum Ngopi Senja — Ngobrol Pintar, Solutif, Inspiratif untuk Jam’iyah dan Jamaah, Sabtu sore di Graha Aswaja PCNU Tangsel.


Forum tersebut mengangkat tema “Rekonstruksi Gerakan Khidmah PCNU Tangsel Pasca Muktamar Pertama di Abad Kedua.”


Abdullah mengatakan, Muktamar telah selesai. Saat ini, Rais Aam serta Ketua Umum PBNU terpilih bersama tim formatur tengah menyusun komposisi kepengurusan baru.


“Muktamar telah selesai. PCNU Tangsel mendoakan semoga terbentuk kepengurusan PBNU yang handal, solid, dan mampu menempatkan figur sesuai kapasitas serta kompetensinya masing-masing,” ujarnya, Sabtu (05/09/2026). 


Menurut Abdullah, tantangan NU di abad kedua menuntut tata kelola organisasi yang semakin profesional. Karena itu, jajaran Tanfidziyah idealnya diperkuat figur-figur yang memiliki kemampuan teknokratis, manajerial, serta pengalaman profesional yang memadai.


“Tanfidziyah adalah pelaksana kebijakan organisasi. Karena itu, harus banyak diisi orang-orang yang mempunyai kemampuan teknokratis agar keputusan dan program strategis hasil Muktamar benar-benar bisa diimplementasikan,” katanya.


Ia menyebut Prof. Mohammad Nuh sebagai salah satu figur yang dinilai memiliki pengalaman dan kapasitas kuat, khususnya di bidang pendidikan.


“Prof. Nuh, misalnya, saya kira sangat cocok mendampingi Ketua Umum sebagai Wakil Ketua Umum yang membidangi pendidikan dan kesehatan. Pengalaman beliau di pemerintahan, pendidikan, dan pengelolaan kelembagaan sangat relevan dengan kebutuhan NU ke depan,” ujar Abdullah.


Ia menegaskan, penyebutan figur tersebut lebih pada contoh pentingnya menempatkan orang berdasarkan kompetensi.


“Prinsipnya adalah the right man on the right place. Organisasi sebesar NU membutuhkan orang yang tepat pada bidang yang tepat,” jelasnya.


Sementara itu, untuk jajaran Syuriyah, Abdullah berharap lebih banyak diisi kiai-kiai yang mempunyai kapasitas keagamaan kuat, termasuk kader ulama dari generasi yang lebih muda.


“Syuriyah adalah pemegang otoritas keagamaan dan penjaga nilai serta Khittah Nahdlatul Ulama. Karena itu, yang duduk di Syuriyah harus benar-benar memiliki kapasitas keulamaan,” katanya.


Menurutnya, figur Syuriyah setidaknya harus memiliki karakter faqih, munadhim, dan muharrik. Artinya, memahami agama secara mendalam, memiliki kemampuan menata organisasi, sekaligus mampu menggerakkan jamaah.


“Idealnya mereka pengasuh pesantren, kiai yang memiliki basis jamaah, atau setidaknya guru ngaji yang kesehariannya bergelut dengan kitab-kitab turats. Jangan sampai Syuriyah kehilangan karakter keulamaannya,” tegas Abdullah.


Ia menilai pembagian peran antara Syuriyah dan Tanfidziyah harus semakin tegas memasuki abad kedua NU.


“Syuriyah kuat dalam keilmuan, nilai dan arah keagamaan. Tanfidziyah kuat dalam manajemen, eksekusi program, kolaborasi, dan pelayanan. Kalau dua kekuatan ini bertemu, NU akan semakin kokoh,” katanya.


Abdullah juga mengingatkan bahwa selesainya Muktamar harus menjadi titik akhir dari seluruh perbedaan pilihan maupun dinamika kontestasi.


“Muktamar sudah selesai. Tidak perlu lagi memperpanjang siapa kelompok ini dan siapa kelompok itu. Sekarang waktunya kembali ke khidmah. Yang ada hanya satu Nahdlatul Ulama,” tegasnya.


Menurutnya, agenda terpenting pasca-Muktamar adalah memastikan hasil-hasil Muktamar tidak berhenti sebagai dokumen keputusan, tetapi diterjemahkan menjadi gerakan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh jamaah.


Karena itu, PCNU Tangsel mulai melakukan rekonstruksi gerakan khidmah dengan memperkuat konsolidasi organisasi, kaderisasi, pendidikan, kesehatan, ekonomi jamaah, transformasi digital, serta penguatan pelayanan sosial.


“Abad kedua NU harus ditandai dengan khidmah yang lebih profesional, terukur dan berdampak. Tradisi tetap menjadi fondasi, tetapi organisasi harus semakin modern, adaptif dan mampu menjawab kebutuhan umat,” pungkas Abdullah.


Forum Ngopi Senja PCNU Tangsel setiap Sabtu sore menjadi salah satu ruang diskusi rutin untuk membahas berbagai isu strategis jam’iyah dan jamaah dengan pendekatan yang terbuka, solutif dan berorientasi pada penguatan gerakan khidmah Nahdlatul Ulama. (Red) 

Bagikan:

Komentar