![]() |
| Dr. Bani Eka Dartiningsih, S.Sos., M.Si., dosen Ilmu Komunikasi UTM. (Dok/Antika) |
Menurut Bani, saat itu mayoritas pengemudi ojek mahasiswa merupakan laki-laki. Ia memilih menggunakan jasa tersebut karena tarifnya relatif terjangkau dibandingkan menggunakan becak.
“Kalau saya ke kampus biasanya menggunakan ojek mahasiswa karena lebih murah. Kalau becak harganya lebih mahal,” ujar Bani, Kamis (01/10/2026)
Selama menggunakan ojek mahasiswa, Bani lebih sering memanfaatkannya untuk perjalanan menuju kampus. Sementara untuk layanan seperti memesan makanan, ia mengaku jarang menggunakannya.
Pengalaman selama menjadi pelanggan pun dinilai cukup baik. Bani mengatakan pengemudi yang biasa digunakannya dapat datang sesuai waktu yang telah disepakati.
“Alhamdulillah kalau yang sudah langganan itu enak, biasanya tepat waktu,” katanya.
Menariknya, Bani juga kerap berbincang dengan mahasiswa yang mengantarnya. Ia biasanya menanyakan semester, fakultas, hingga berapa banyak orderan yang telah diperoleh pengemudi pada hari tersebut.
Dari interaksi tersebut, Bani melihat pekerjaan sebagai ojek mahasiswa tidak menjadi persoalan selama mahasiswa tetap mampu membagi waktu antara pekerjaan dan perkuliahan. Menurutnya, pekerjaan tersebut justru dapat memberikan manfaat tambahan bagi mahasiswa. Penghasilan dari ojek dapat digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan, termasuk kebutuhan penunjang perkuliahan.
“Tidak apa-apa ngojek selama tidak mengganggu waktunya. Bermanfaat juga bagi mereka, misalnya untuk menambah uang dan membeli laptop bagi yang belum punya,” jelasnya.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Bani adalah ketika mendengar cerita tentang seorang mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Lombok. Mahasiswa tersebut kemudian merantau ke lingkungan UTM setelah mendapat informasi dari temannya mengenai adanya pekerjaan sebagai driver ojek mahasiswa. Kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk mengisi waktu selama menjalani magang secara daring. Dari cerita yang didengar Bani, mahasiswa tersebut bahkan mampu memperoleh penghasilan sekitar Rp3 juta selama menjalankan pekerjaan sebagai ojek. cerita tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan sebagai ojek mahasiswa dapat menjadi salah satu pilihan mahasiswa untuk memperoleh penghasilan tambahan selama tetap mampu membagi waktu dengan kegiatan akademik.
Meski demikian, Bani berharap keberadaan ojek mahasiswa tidak menimbulkan konflik dengan pengemudi becak yang juga mencari penumpang di sekitar kampus. Ia mengatakan tidak mengetahui adanya kerja sama khusus antara pihak kampus dengan pengemudi becak maupun ojek mahasiswa.
Bani juga menyinggung adanya dinamika antara pengemudi ojek mahasiswa dan becak di sekitar kampus. Menurutnya, ojek mahasiswa pernah mendapat teguran karena keberadaan mereka dinilai membuat becak tidak mendapatkan penumpang. Sementara itu, pihak kampus disebut tidak pernah memberikan teguran kepada pengemudi becak terkait kondisi tersebut. Karena itu, Bani berharap tidak terjadi konflik antara kedua pihak. Ia juga mengingatkan mahasiswa yang menjadi driver ojek agar tetap berhati-hati ketika berhadapan dengan pengemudi becak di sekitar kampus.
Ke depan, ia berharap keberadaan transportasi di sekitar kampus dapat menjadi perhatian, termasuk kondisi dan keberadaan becak maupun layanan transportasi lainnya, sehingga berbagai pihak yang beraktivitas di lingkungan kampus dapat tetap berjalan berdampingan. (Tik)


Komentar