|
Menu Close Menu

Dari Lapangan SD Menuju Sepak Bola Profesional, 23 Tim Ramaikan U-13 Sumenep

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18.33 WIB

Kegiatan pembukaan turnamen mini soccer U-13 di Stadion Ahmad Yani Sumenep.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Sumenep– Jalan panjang menuju lahirnya pesepak bola muda berbakat di Sumenep mulai dibangun dari lapangan sekolah. Sebanyak 23 tim sekolah dasar (SD) mengikuti turnamen mini soccer U-13 yang berlangsung di Stadion Ahmad Yani Sumenep, Kamis (1/10/2026).


Turnamen yang dibuka Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo itu tidak hanya diarahkan untuk mencari juara. Kompetisi tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Sumenep membangun sistem pembinaan sepak bola usia dini yang dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan.


Achmad Fauzi mengatakan, usia sekolah dasar merupakan fase penting dalam membentuk kemampuan sekaligus karakter seorang pemain sepak bola.


Menurutnya, potensi pemain tidak cukup hanya ditemukan melalui pertandingan. Talenta yang muncul harus dipantau dan mendapat ruang pembinaan agar berkembang sesuai dengan usia dan kemampuannya.


“Mini soccer ini bukan hanya sekadar siapa yang menang, siapa yang mencetak gol atau siapa yang menjadi juara. Ini bagian dari proses pembinaan generasi muda melalui olahraga sepak bola,” ujar Fauzi.


Ia pun meminta seluruh peserta menjadikan turnamen tersebut sebagai pengalaman untuk mengasah kemampuan. Menang atau kalah, kata dia, bukan satu-satunya ukuran keberhasilan dalam kompetisi usia dini.


“Jangan takut kalah. Yang paling penting berani bermain, berani berusaha dan terus belajar menjadi lebih baik,” katanya.


Bupati juga mengingatkan pentingnya sportivitas selama pertandingan. Ia meminta para pemain tidak mudah terpancing emosi dan menghindari segala bentuk gesekan di lapangan.


“Jangan ada gesekan, jangan ada perkelahian. Ini sepak bola,” tegasnya.


Fauzi menjelaskan, Pemkab Sumenep ingin pembinaan sepak bola dilakukan dengan pola yang lebih terarah. Karena itu, kompetisi usia U-13 diharapkan menjadi salah satu tahapan awal sebelum pemain masuk ke kelompok usia yang lebih tinggi.


“Pemerintah daerah berpikir serius bagaimana generasi muda dari U-13 ini bisa menjadi bibit yang berpotensi menjadi atlet sepak bola dan ke depannya dapat diandalkan,” ungkapnya.


Ia menilai pembentukan kemampuan teknis dan karakter pemain harus dilakukan sejak dini. Tanpa proses pembinaan dari tingkat sekolah dasar, potensi pemain akan lebih sulit dikembangkan secara optimal.


“Kalau tidak kita persiapkan dari tingkat SD, kemampuan dan karakter dalam bermain agak sulit dibentuk. Tahun ini kita coba jenjangkan dari mini soccer U-13 sampai U-17,” pungkas Fauzi.


Turnamen mini soccer U-13 tersebut berlangsung selama tiga hari hingga babak final. Sebanyak 23 tim dari Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) jenjang SD se-Kabupaten Sumenep turut ambil bagian.


Kompetisi ini diharapkan menjadi ruang bagi pemain muda untuk mendapatkan pengalaman bertanding sekaligus menjadi sarana bagi pembina dan pemerintah daerah dalam melihat potensi atlet sepak bola sejak usia dini.


Dengan demikian, turnamen U-13 tidak berhenti pada perebutan trofi. Lebih dari itu, ajang tersebut menjadi salah satu pijakan untuk membangun regenerasi sepak bola Sumenep secara berkelanjutan. (Red) 

Bagikan:

Komentar