> Kiai Afifuddin Kiai Moderat
|
Menu Close Menu

Kiai Afifuddin Kiai Moderat

Kamis, 21 Januari 2021 | 11.19 WIB


Husein Muhammad (kiri) bersama K.H. Afifuddin Muhajir  


Oleh : Husein Muhammad

Manakala Kiyai Abdul Moqsith mengabari saya akan adanya pemberian anugerah gelar Doktor Honoris Causa kepada Kiyai Afifuddin Muhajir,  bibir saya spontan berucap Alhamdulillah. "Sudah lama saya berharap ada teman-teman  di PBNU atau di Ma'had Ali Situbondo memproses  penganugerahan ini untuk beliau. Kiai Afif sudah sangat layak memerolehnya".


Segera sesudah itu wajah kiai Afif melintasi pikiran saya, berikut kenangan bersamanya dalam beberapa moment penting. Kenangan paling mutakhir bersama Kiai Afif adalah saat umroh dua tahun lalu. Saya dan Kiai Afif serta Kiai Dr. Malik Madani dan Kiai Dr. Ahsin Sakho Muhammad melakukan study Banding di Universitas Islam Madinah dan di Pesantren Abuya Sayid Muhammaf Alawy al-Mailiki di Rushaefah, Mekah al-Mukarromah. Ini dilakukan dalam rangka penyusunan kurikulum pendidikan agama di Ma' had Aly. Kami saat itu adalah anggota Majelis Masyayikh di Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pesantren, Kementerian Agama RI. Lembaga ini seperti Badan Nasional Standarisasi Pendidikan untuk pondok pesantren. Nantinya akan menjadi wadah para kiai merumuskan standar kerangka kurikulum sebagai acuan bagi pesantren-pesantren dalam proses pembelajaran. Lembaga ini juga merupakan dewan pakar keilmuan Islam yang kealimannya diakui kalangan pesantren. Pembentukan Majelis Masyayikh ini bertujuan untuk menggali ide-ide dan pemikiran orisinil dari kalangan pesantren, memperkuat distingsi keilmuan sekaligus desain kelembagaan Ma`had Aly yang kelak menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun sejumlah regulasi yang dibutuhkan. Anggota Majelis Masyayikh yang lain adalah Prof. Dr. Kiai Said Agil Munawwar, Dr. Kiai Amal Fathullah Zarkasyi dan kiai dari Makassar, Sulawesi Selatan.


Nah dalam diskusi dengan sejumlah pakar pendidikan di Univ. Islam Madinah itu saya tercengang ketika kiai Afif bicara dalam bahasa Arab yang fasih dan cukup lancar sambil mengutip kaedah ushul fiqh dan bercanda ria khas kiai pesantren, bikin kami tertawa. Bagaimana saya tidak mengagumi kiai Afif? Beliau bukan alumni Perguruan Tinggi di Timur Tengah, dan tidak pernah mukim di sana, tetapi bahasa Arab berikut ilmuannya tidak kalah dengan sejumlah doktor alumni Timteng. Saya sendiri dan banyak teman tidak bisa bicara bahasa Arab sebagus dan selancar kiai Afif, padahal saya pernah belajar di Kairo.


Bukan hanya bagus dalam berbicara tetapi juga beliau mampu menulis kitab dalam bahasa Arab fasih, bagai ulama Arab. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Kitab Fatḥul Mujīb Al-Qarīb Syaraḥ at-Taqrīb li Abī Syuja’.


Masih di Madinah. Saya dan kiai Afif ditempatkan dalam satu kamar di sebuah hotel dekat masjid Nabawi. Menjelang tidur, kami berdiskusi membicarakan problem pemikiran keagamaan Islam di Indonesia, terutama dalam hukum Islam. Kiai Afif banyak menyampaikan pandangannya yang terbuka dan moderat  sambil menyebut nama kitab dan penulisnya.  Nah dari perbincangan ringan di atas tempat tidur itu, saya mempunyai kesan Kiai Afif memang seorang kiyai yang alim, banyak membaca kitab kuning dan mengikuti perkembangan zaman. 


Saya pertama kali kenal kiai Afif adalah saat saya diundang di Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Situbondo, untuk bicara tentang kontekstualisasi Kitab Kuning. Itu terjadi sekitar tahun 1990 an. Saya adalah alumni Halaqah para Kiyai, semacam forum pendidikan dan diskusi ulama pesantren yang pesertanya adalah para kiyai. Kegiatan ini diselenggarakan oleh P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat) yang dikomandani Kiai Masdar Farid Mas' udi, Rois Syuriah PBNU. Kontekstualisasi Kitab Kuning adalah inisiatif Gus Dur.


Nah di forum itu saya disambut dengan hangat oleh kiyai Afif. "Kiai yang tampak muda ini bersahaja, santun, banyak senyum dan senang bercanda. Tetapi lebih dari itu ilmunya luas, kaya bacaan kitab kuningnya, dan pikirannya terbuka", kata hati saya.


Di tempat itu saya memeroleh informasi dari sejumlah santri senior dan dosen di sana tentang kesederhanaan kiai Afif, kepribadiannya yang rendah hati, ketekunannya mengaji kitab dan keluasan ilmunya. 


Beberapa tahun sesudah itu saya kembali ke pesantren besar ini untuk bicara dalam seminar yang diselenggarakan oleh Mahad Aly. Diskusi ini diikuti oleh para mahasantri. Mengesankan sekali karena saya bicara lebih dari tiga jam. Para mahasantri sangat kritis dan kaya referensi dan banyak hafal ibarah teks kitab kuning. 


Saya sampai hari ini masih berpendapat Mahad Aly Situbondo adalah yang terbaik dan paling banyak nenghasilkan  banyak kader santri intelektual yang menonjol dan menjadi tokoh di tingkat nasional. Beberapa di antaranya yang saya kenal baik adalah Dr. Kiai Abdul Jalal (alm), Dr. Kiai Abdul Moqsith Ghazali dan Dr. Kiai Imam Nakhoi.  Saya yakin kiai Afif memiliki peran yang cukup besar dalam memproduk para intelek yangvcerdas-cerdas tersebut.   


Lalu tahun 2003 saya juga datang lagi ke pesantren ini untuk bicara dalam Muktamar Pemikiran Islam NU. Ini sebuah moment bersejarah yang lain.


Kiai Moderat


Sepanjang pengalaman saya bertemu, berbincang dan membaca beberapa tulisan kiai Afif di media, saya menangkap kesan bahwa beliau aktif dalam forum bahsul masail dan terus menggali ilmu pengetahuan sambil mengikuti perkembangan zaman. Pandangan-pandangannya sering melampaui tradisi mainstream. Tetapi tetap mengacu pada khazanah pesantren melalui analisisnya yang cerdas. Beliau adalah ulama yang berpikiran moderat, dalam arti kuat menjaga pemikiran Islam tradisional sambil mengapresiasi pemikiran modern.


Akhirnya, saya atas nama pribadi sekaligus Fahmina Institute menyampaikan Selamat atas penganugerahan Doktor Honoris Causa ini. Kami sangat bangga. Semoga bermanfaat bagi bangsa dan negara.


20.01.2021

Bagikan:

Komentar