![]() |
| Ketua Lakpesdam PCNU Kabupaten Tuban dan Sekretaris saat melakukan pemotongan tumpeng dalam acara diskusi dalam rangka HUT Kemerdekaan RI ke-80.(Dok/Istimewa). |
Ketua Lakpesdam PCNU Tuban, Aam Waro’ Panotogomo menegaskan, kemerdekaan adalah momentum evaluasi menyeluruh. Menurutnya, NU sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia punya tanggung jawab strategis menjaga moral bangsa sekaligus menjadi mitra kritis bagi pemerintah.
“NU memiliki basis kuat di akar rumput. Peran ini harus dimanfaatkan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat kecil agar suara mereka tidak hilang dalam kebisingan politik elit,” tegas Gus Aam.
Ia menilai, meski Indonesia telah mencapai kemajuan di bidang pendidikan, infrastruktur, dan digitalisasi layanan publik, masih ada pekerjaan rumah besar: korupsi yang merajalela, kesenjangan sosial, hingga ketimpangan pembangunan antara kota dan desa. Tantangan global seperti ekonomi digital dan krisis lingkungan juga harus diantisipasi dengan kebijakan berkelanjutan.
Dalam forum tersebut, aktivis dan peserta juga menyoroti paradoks pembangunan: infrastruktur megah di kota, sementara desa-desa masih kekurangan listrik, air bersih, dan akses internet. Hal ini disebut bertentangan dengan cita-cita kemerdekaan yang mengamanatkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Lakpesdam PCNU Tuban kemudian merumuskan rekomendasi, antara lain: penguatan kelembagaan desa, transparansi pengelolaan anggaran, kebijakan pembangunan berwawasan lingkungan, serta kolaborasi aktif antara pemerintah, masyarakat sipil, dan NU.
“Refleksi 80 tahun kemerdekaan tidak boleh berhenti pada wacana. Kita harus melangkah ke aksi nyata dengan keberanian politik, keberpihakan, dan visi jangka panjang agar Indonesia benar-benar merdeka secara sosial, ekonomi, dan budaya,” pungkas Gus Aam.
Melalui refleksi ini, Lakpesdam PCNU Tuban menegaskan bahwa NU bukan hanya benteng moral, tetapi juga penjaga arah bangsa agar tetap berpijak pada nilai keadilan dan kemanusiaan atau melakukan kontrol sosial. (Tim)


Komentar