|
Menu Close Menu

Duet Emil-Lia Dinilai Berpeluang Kuat di Pilgub Jatim 2029

Minggu, 19 Juli 2026 | 00.20 WIB

Emil Elestianto Dardak dan Lia Istifhama.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya– Dinamika politik menjelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2029 mulai menghangat. Munculnya wacana duet Emil Elestianto Dardak dan Lia Istifhama, yang kini dikenal dengan sebutan EMILIA, dinilai berpotensi menjadi poros baru yang patut diperhitungkan dalam kontestasi politik mendatang.


Pengamat politik sekaligus Peneliti Senior Surabaya Survey Center (SSC), Ikhsan Rosidi, menilai menguatnya nama pasangan tersebut bukan tanpa alasan. Menurutnya, Emil dan Lia sama-sama memiliki tingkat popularitas, kapasitas kepemimpinan, serta rekam jejak politik yang kuat di mata publik.


Emil Dardak, yang kini menjabat sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur sekaligus petahana Wakil Gubernur Jawa Timur, dinilai memiliki modal politik yang sangat besar. Pengalamannya mendampingi Gubernur Khofifah Indar Parawansa selama dua periode disebut telah membentuk kematangan sebagai birokrat sekaligus politisi.


"Emil memiliki modal politik utama yang sulit diabaikan oleh partai mana pun. Catatan bersihnya selama memimpin Jatim, ditambah jaringan akar rumput yang kuat hingga ke elite politik, menjadi jaminan kemapanan struktur penopangnya," ujar Ikhsan, Sabtu (18/7/2026).


Di sisi lain, Lia Istifhama dinilai bukan sosok baru dalam panggung politik Jawa Timur. Sebagai anggota DPD RI terpilih asal Jawa Timur, Lia mencatat prestasi pada Pemilu 2024 sebagai salah satu senator perempuan nonpetahana dengan perolehan suara tertinggi di Indonesia.


Selain itu, Lia dipandang sebagai representasi kuat kalangan Nahdliyin (NU), baik secara kultural maupun struktural. Faktor kekerabatannya dengan Gubernur Khofifah Indar Parawansa juga diyakini menjadi nilai tambah yang mampu mendongkrak elektabilitas.


"Lia akan menjadi sosok yang sangat menarik untuk meramaikan kontestasi sebab dianggap sebagai representasi kultural maupun struktural kaum Nahdliyin (NU). Salah satu kelompok segmen pemilih terbesar di Jawa Timur," katanya.


"Jaringan dan mesin politiknya sebagai senator sekaligus sebagai tokoh muda NU tentu saja juga telah tertata kuat dan rapi. Ini akan menjadi kekuatan menjanjikan untuk bertarung di Pilgub nanti," tambah Ikhsan.


Menurut Ikhsan, salah satu kekuatan utama duet EMILIA terletak pada kemampuan menjangkau dua kelompok pemilih terbesar di Jawa Timur, yakni kalangan perempuan atau emak-emak serta generasi muda (Gen Z).


Ia menjelaskan, pemilih perempuan umumnya memiliki kedekatan emosional dan kultural yang kuat. Dalam konteks tersebut, Lia dinilai memiliki peluang besar memperoleh dukungan berkat representasi gender dan kedekatannya dengan basis Nahdlatul Ulama.


Sementara itu, Emil Dardak dinilai mampu menarik simpati generasi muda melalui citra sebagai pemimpin muda yang bersih dari kasus korupsi, minim kontroversi dalam kehidupan pribadi, serta memiliki gaya kepemimpinan yang teknokratis.


"Pertemuan antara Emil yang matang di birokrasi dan Lia yang memiliki basis kultur NU kuat adalah kombinasi yang sangat menjanjikan. Ini adalah duet yang mampu berbicara banyak di kancah politik Jatim," tambah Ikhsan.


Meski demikian, Ikhsan mengingatkan bahwa kekuatan popularitas dan kapasitas saja belum cukup untuk mengantarkan pasangan tersebut maju dalam Pilgub Jawa Timur 2029.


Menurutnya, tantangan terbesar duet EMILIA adalah memperoleh dukungan resmi dari partai-partai politik sebagai syarat utama mengikuti kontestasi.


"Kapasitas dan popularitas paslon sehebat apa pun tidak akan maksimal tanpa dukungan resmi dari partai politik sebagai mesin pemenangan. Ini menjadi PR serius bagi Emil dan Lia. Mereka harus segera memulai komunikasi politik yang intens dan strategis dengan parpol-parpol di Jawa Timur jika ingin mengamankan tiket menuju Pilgub 2029," pungkas Ikhsan. (Red) 

Bagikan:

Komentar