![]() |
| Momen Ning Lia dan Gus Uji saat bersama Jalaluddin Mannagalli di Gedung Negara Grahadi Surabaya.(Dok/Istimewa). |
Usai upacara penurunan bendera, Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama atau akrab disapa Ning Lia, terlihat berjalan beriringan dengan adik sepupunya, Jalaluddin Mannagalli. Dengan balutan busana adat Jawa lengkap, Jalal tampak hangat mengajak Ning Lia berbincang santai sambil menuju arena paduan suara.
Pemandangan sederhana namun sarat makna itu menghadirkan nuansa humanis di tengah kemegahan peringatan kenegaraan. Jalal, putra kedua Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, dikenal sebagai sosok cerdas yang baru saja menuntaskan pendidikan pascasarjana di salah satu universitas terbaik dunia, Peking University, Tiongkok.
Bagi Ning Lia, kehangatan dengan Jalal bukanlah sekadar formalitas di depan publik. Ia mengaku sudah akrab sejak kecil, bahkan memanggilnya dengan sapaan hangat “Baso”.
“Baso itu anak yang sangat ramah, rendah hati, dan santun. Ia pribadi yang selalu mengingat kebaikan orang lain. Dengan kecerdasan dan karakternya, saya yakin ia bisa memberi inspirasi bagi banyak orang,” tutur Ning Lia dengan penuh kebanggaan.
Tak hanya berprestasi di bidang akademik, Jalal juga dikenal aktif dalam forum-forum internasional. Dengan kefasihan berbahasa asing, ia kerap menyampaikan gagasan tentang ekonomi dan pembangunan, menegaskan bahwa menuntut ilmu ke luar negeri bukan hanya soal gelar, tetapi juga membawa pulang pengalaman berharga untuk bangsa.
Kebanggaan Ning Lia pun begitu tulus. Menurutnya, keberhasilan Jalal merupakan bukti nyata bahwa generasi muda Indonesia mampu bersaing di level dunia tanpa kehilangan akar budaya dan nilai moral.
“Dia bukan hanya cerdas, tapi juga menjunjung tinggi kesantunan dan nilai-nilai luhur. Itu yang membuatnya istimewa. Saya berharap Baso bisa menjadi teladan bagi generasi muda Indonesia untuk berani menuntut ilmu hingga ke mancanegara, namun tetap menjaga moral dan kebaikan hati,” ungkap Ning Lia.
Di balik megahnya peringatan kenegaraan, kisah sederhana antara kakak sepupu dan adik keponakan ini menghadirkan pesan yang mendalam: bahwa keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari prestasi, tetapi juga dari karakter, kerendahan hati, dan semangat berbagi kebaikan. (Had)


Komentar