![]() |
| Rachmat Gobel, Anggota DPR RI saat jadi narasumber di Unair. (Dok/Istimewa). |
Dalam forum yang dihadiri ratusan mahasiswa, akademisi, dan tokoh masyarakat itu, Rachmat Gobel menyampaikan berbagai gagasan strategis mengenai tantangan globalisasi, perkembangan teknologi, serta arah pembangunan ekonomi berkeadilan.
Menurutnya, era geopolitik dan geoekonomi global menuntut Indonesia untuk lebih sigap mengantisipasi dampak teknologi baru, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
“Ancaman buat kita? Kelihatan keren, tidak? Ada AI yang bisa kita buat. Tapi dalam era globalisasi sekarang ini, kita harus benar-benar mengantisipasi dampak geopolitik, geoekonomi, dan perkembangan teknologi,” tegasnya.
Gobel juga menyoroti otomatisasi industri sebagai keniscayaan di era teknologi. Namun ia menekankan penerapannya harus seimbang, agar tidak menghilangkan lapangan kerja.
“Otomatisasi memang tidak bisa kita hindari. Tapi di perusahaan kami, ada hal-hal yang sengaja tidak diotomatisasi demi menjaga keseimbangan dan tetap menciptakan lapangan kerja,” jelasnya.
Selain isu industri, mantan Menteri Perdagangan itu juga mengingatkan pentingnya diversifikasi pertanian. Menurutnya, petani tidak boleh hanya bergantung pada satu komoditas, melainkan perlu mengembangkan tanaman bernilai jual tinggi sebagai strategi meningkatkan kesejahteraan.
Sebagai wakil rakyat dari Gorontalo, ia mencontohkan inisiatif mengubah desa-desa miskin menjadi kawasan agrowisata. “Sebagai anggota DPR, saya mencari solusi untuk kampung saya. Desa miskin bisa kita ubah menjadi desa agrowisata,” ujarnya.
Acara yang digelar oleh Center for Statecraft and Citizenship Studies (CSCS) bersama HIMA Ilmu Politik UNAIR ini juga menghadirkan Prof. Dr. Bagong Suyanto, Drs., M.Si. (Dekan FISIP UNAIR) serta akademisi Dr. Airlangga Pribadi. Diskusi berjalan interaktif, dengan peserta antusias memberikan apresiasi terhadap gagasan yang disampaikan Rachmat Gobel. (Had)


Komentar