![]() |
| Willy Aditya, Ketua Komisi XIII DPR RI dalam acara bedah buku " Pancasila di Rumahku".(Dok/Istimewa). |
Pernyataan tersebut disampaikan Willy dalam acara bedah buku karyanya “Pancasila di Rumahku” yang digelar di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (27/8/2025).
Menurutnya, Bung Karno sendiri menegaskan bahwa Pancasila bukanlah ciptaannya, melainkan hasil penyarian dari nilai-nilai luhur yang sudah hidup di tengah masyarakat. "Pancasila digali dari realitas sosial, bukan diturunkan dari langit. Ini yang menjadikan Pancasila sebagai jalan hidup, bukan sekadar doktrin," ujar Willy.
Ia kemudian membandingkan pendekatan historis Bung Karno dengan masa Orde Baru yang cenderung top-down melalui penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Cara tersebut, kata Willy, lebih menekankan hafalan ketimbang penghayatan nilai.
Mengutip pandangan filsuf Karlina Supelli, Willy mengingatkan bahwa Pancasila sering ditempatkan sebagai cita-cita luhur di awang-awang, padahal seharusnya hadir di bumi sebagai praktik sosial. Ia mencontohkan tradisi Pela Gandong di Maluku, di mana umat Islam dan Kristen saling membantu membangun rumah ibadah masing-masing. “Itu bukti konkret nilai toleransi yang sudah lama berakar di masyarakat kita,” katanya.
Willy juga menekankan bahwa pembumian Pancasila menjadi tanggung jawab kolektif bangsa, terutama para pendidik yang harus mendorong siswa memahami Pancasila sebagai nilai kerja (working value). Hal itu, menurutnya, bisa dimulai dari tindakan sederhana seperti saling menyapa, menghormati perbedaan, dan bergotong royong.
“Kita harus keluar dari pola lama: guru mengajarkan, murid menghafalkan. Pancasila harus hadir dalam tindakan sehari-hari,” pungkas legislator Partai NasDem itu. (Had)


Komentar