|
Menu Close Menu

Cerita Senator Ning Lia Saat Alami Delay hingga Peralihan Rute Penerbangan

Minggu, 28 September 2025 | 12.56 WIB

Ning Lia, Anggota DPD RI asal Jawa Timur.(Dok/Istimewa).
Lensajatim.id, Surabaya – Keterlambatan (delay) penerbangan, peralihan rute, hingga transit mendadak masih menjadi masalah klasik dunia penerbangan di Indonesia.


Hal ini kembali dialami Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Ning Lia Istifhama, saat melakukan perjalanan menggunakan maskapai Lion Air dari Bandara Juanda Surabaya menuju Kupang, NTT, Sabtu (27/9).


Jadwal penerbangan yang seharusnya lepas landas pukul 05.15 WIB harus molor hampir dua jam. Pesawat baru benar-benar mengudara sekitar pukul 07.00 WIB.


Tidak berhenti di situ, perjalanan Ning Lia juga mengalami peralihan rute dan transit mendadak. Kondisi ini membuat sejumlah agenda kerjanya yang telah dijadwalkan ikut tertinggal.


Meski begitu, Ning Lia yang kerap dijuluki Senator Cantik berusaha tetap tenang. Ia menilai pelayanan kru pesawat, khususnya para pramugari, mampu meredam keresahan penumpang.


“Kalau delay itu memang tidak mengenakkan, apalagi kalau sampai berjam-jam. Tapi ketika kru pesawat bersikap ramah, informatif, dan membuat penumpang merasa diperhatikan, suasana bisa lebih tenang dan tidak penuh keluhan,” ungkapnya.


Peraih penghargaan Wakil Rakyat Terpopuler dan Paling Disukai versi ARCI itu menegaskan bahwa pelayanan yang baik adalah aspek vital dalam menjaga kenyamanan penumpang, bahkan ketika menghadapi situasi yang tidak ideal.


Namun, Ning Lia tetap menyoroti perlunya evaluasi serius dari pihak maskapai. Menurutnya, keterlambatan penerbangan tidak bisa dianggap remeh karena berdampak langsung pada agenda dan aktivitas banyak orang.


Ia menambahkan, penumpang sebenarnya dapat memahami adanya kendala teknis atau faktor cuaca. Tetapi, yang tidak boleh terjadi adalah penumpang merasa diabaikan oleh pihak maskapai.


Karena itu, Ning Lia mendorong maskapai bersama pemerintah memperkuat regulasi serta pengawasan terhadap standar pelayanan minimum (SPM) di sektor penerbangan.


Ada beberapa poin penting yang disorotnya. Pertama, transparansi informasi agar penumpang tidak “digantung” tanpa kepastian.


Kedua, penyediaan kompensasi sesuai regulasi yang berlaku.


Ketiga, fasilitas ruang tunggu bandara yang memadai dan nyaman sehingga penumpang tetap merasa terlayani dengan baik meskipun harus menunggu lama.


Keempat, pelatihan intensif bagi kru dan pramugari agar selalu sigap, ramah, serta komunikatif dalam menghadapi kondisi darurat seperti delay berkepanjangan.


“Maskapai jangan hanya fokus pada aspek teknis penerbangan, tetapi juga harus menjadikan kepuasan penumpang sebagai prioritas utama,” pungkas Putri Maskur Hasyim itu. (Had) 

Bagikan:

Komentar