|
Menu Close Menu

Kebun Binatang Surabaya Hadapi Masalah Overpopulasi Satwa, Perlu Langkah Strategis Pemerintah

Jumat, 05 September 2025 | 18.38 WIB

Ketua APECSI (Asosiasi Pemerhati dan Pecinta Satwa Indonesia), Singky Soewadji saat menjadi narasumber dalam diskusi di Rumah Literasi Digital.(Dok/Istimewa).
Lensajatim.id, Surabaya– Kebun Binatang Surabaya (KBS), ikon wisata sekaligus lembaga konservasi yang berdiri sejak 1916, kini menghadapi tantangan besar. Di balik popularitasnya sebagai destinasi favorit keluarga dan pelajar, KBS tengah berjuang melawan persoalan overpopulasi satwa, keterbatasan fasilitas, serta manajemen sumber daya manusia yang dinilai belum optimal.


Isu ini mencuat dalam acara Jagongan Bareng yang digelar Rumah Literasi Digital (RLD) di Balai RLD, Jalan Kaca Piring No. 6, Surabaya, Jumat (5/9/2025).


Ketua APECSI (Asosiasi Pemerhati dan Pecinta Satwa Indonesia), Singky Soewadji, menyoroti masalah overpopulasi yang kini menjadi persoalan paling mendesak. Ia mengungkapkan, saat ini KBS memiliki sekitar 135 ekor Komodo, jumlah yang jauh melebihi kapasitas ideal. Kondisi ini, menurutnya, berpotensi menurunkan kesejahteraan satwa akibat ruang yang terbatas, meningkatkan beban biaya operasional karena kebutuhan pakan yang membengkak, serta memperbesar risiko penyebaran penyakit akibat kepadatan yang terlalu tinggi.


Untuk mengatasi persoalan tersebut, Singky menawarkan tiga solusi teknis. Pertama, melakukan pelepasliaran Komodo ke habitat aslinya dengan kajian ekosistem dan keamanan yang matang. Kedua, meminjamkan atau menghibahkan sebagian satwa ke lembaga konservasi lain, baik di dalam maupun luar negeri. Dan ketiga, menjadikan eutanasia sebagai pilihan terakhir yang hanya dilakukan dengan pendekatan etis dan profesional.


“KBS adalah rumah kedua bagi saya. Tapi masalah overpopulasi dan kompetensi SDM harus segera ditangani sebelum berdampak lebih luas,” ujarnya.


Selain masalah satwa, Singky juga menyoroti aspek manajemen internal KBS. Dari sekitar 200 pegawai, sekitar 60 persen merupakan mandor atau tenaga non-produktif. Kondisi ini, menurutnya, menunjukkan perlunya restrukturisasi organisasi, pelatihan ulang tenaga kerja, modernisasi sistem manajemen berbasis teknologi, serta penerapan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan lembaga.


Sebagai kebun binatang yang telah berusia lebih dari satu abad, KBS tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga bagian penting dari identitas sejarah Kota Pahlawan. Namun, di tengah maraknya wisata buatan dan hiburan digital, KBS dituntut untuk bertransformasi menjadi kebun binatang modern dan edukatif agar tetap relevan di mata generasi muda.


“Kami berharap Direktur KBS yang baru adalah sosok yang benar-benar memiliki komitmen terhadap konservasi satwa liar Indonesia. Masalah overpopulasi satwa dan manajemen yang tidak profesional harus segera diatasi agar KBS dapat berfungsi optimal sebagai lembaga konservasi,” pungkas Singky. (Had) 

Bagikan:

Komentar