|
Menu Close Menu

MBG Dukung Anak Sehat dan Cerdas, H. Achmad Minta Rantai Pasok Pangan Harus Tertata Rapi

Selasa, 02 September 2025 | 10.21 WIB

H.Achmad Sudiyono, Bupati Lira Jember.(Dok/Istimewa).
Lensajatim.id, Jember– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah digencarkan pemerintah menjadi sorotan banyak pihak. Salah satunya datang dari H. Achmad Sudiyono, tokoh masyarakat sekaligus penggerak LIRA Jember. Ia menegaskan, MBG adalah program strategis yang akan menentukan kualitas generasi emas Indonesia, namun harus dibarengi regulasi yang matang, terutama dalam mengatur hulu-hilir penyediaan bahan baku.


“Sayur, ikan, telur, ayam, daging, susu, beras, dan minyak adalah kebutuhan dasar yang tidak bisa ditunda. Jika hulu-hilirnya tidak tertata, dampak negatifnya bisa lebih besar daripada macetnya distribusi BBM. Ini menyangkut urusan perut, yang apabila terganggu, dapat membahayakan tatanan sosial negeri ini,” tegas pria yang akrab disapa H. Achmad, Selasa (2/9/2025).


Owner Dapur MBG Bintoro Jember ini mengingatkan, tanpa persiapan logistik yang baik, lonjakan permintaan bahan pangan akibat program MBG dapat memicu kenaikan harga, kelangkaan stok, hingga gejolak sosial di masyarakat.


Program MBG diyakini membawa dampak positif bagi dunia pendidikan. Anak-anak yang mendapat gizi seimbang cenderung lebih fokus belajar, memiliki daya ingat yang baik, dan semangat belajar yang meningkat. Program ini juga membantu mengurangi angka putus sekolah karena meringankan beban keluarga serta memberi insentif bagi anak-anak untuk tetap bersekolah. Selain itu, MBG dapat menjadi sarana edukasi tentang gizi dan kebersihan, membentuk kebiasaan hidup sehat sejak dini.


Dari sisi kesehatan, MBG berperan penting dalam menurunkan angka stunting dan gizi buruk dengan memastikan asupan nutrisi harian anak terpenuhi. Anak yang bergizi baik memiliki daya tahan tubuh lebih kuat sehingga jarang sakit dan lebih konsisten hadir di sekolah. Menu yang terencana juga membantu membiasakan anak mengonsumsi makanan sehat dan mengurangi ketergantungan pada makanan instan.


Dampak ekonomi program ini juga signifikan. Orang tua dapat menghemat pengeluaran harian untuk bekal anak, sementara UMKM lokal seperti petani, peternak, nelayan, hingga pedagang kecil akan diuntungkan karena menjadi bagian dari rantai pasok. Dapur MBG juga menciptakan lapangan kerja baru bagi juru masak, tenaga distribusi, dan penyedia logistik. Dalam jangka panjang, anak-anak yang tumbuh sehat dan cerdas akan menjadi generasi produktif yang memperkuat daya saing ekonomi bangsa. H. Achmad mendorong pemerintah daerah memberi ruang bagi UMKM dan dukungan permodalan dari bank-bank negara serta Bank Jatim dengan bunga rendah agar pelaku usaha dapat ikut memenuhi kebutuhan bahan baku MBG.


Sementara itu, secara sosial, MBG mampu mengurangi kesenjangan dengan memberikan akses makanan bergizi yang sama bagi semua anak, tanpa memandang latar belakang ekonomi. Kehadiran siswa di sekolah pun meningkat, dan semangat gotong royong masyarakat dalam penyediaan dan pengelolaan MBG mempererat kebersamaan. Dengan terpenuhinya kebutuhan dasar, potensi konflik akibat kelaparan atau kesenjangan sosial dapat ditekan.


H. Achmad menegaskan bahwa keberhasilan MBG tidak hanya bergantung pada niat baik, tetapi juga pada manajemen yang tepat dan perencanaan hulu-hilir yang terukur.


“Kalau semua tertata sejak dini, program ini akan berjalan baik dan memberi manfaat besar. Tetapi jika dibiarkan tanpa perencanaan yang jelas, ini bisa menjadi bom waktu yang dampaknya dirasakan seluruh negeri,” pungkasnya. (Had) 

Bagikan:

Komentar