![]() |
| Ning Lia, Anggota DPD RI asal Jawa Timur.(Dok/Istimewa). |
Hal itu disampaikan Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama atau akrab disapa Ning Lia. Menurutnya, setiap peristiwa besar dalam sejarah Nabi selalu mengandung makna yang relevan dengan perjalanan bangsa Indonesia.
“Ketika Nabi menghadapi penindasan Quraisy, beliau tidak pernah mengedepankan kekerasan sebagai jalan utama. Bahkan Perang Badar, Uhud, hingga Khandaq semuanya bersifat defensif, untuk menjaga marwah umat Islam. Bahkan tawanan perang pun diperlakukan dengan penuh perikemanusiaan. Ini teladan besar bahwa perjuangan kebenaran harus diiringi akhlak mulia, bukan kebrutalan,” ujar Ning Lia.
Ia menambahkan, spirit perjuangan Nabi diwarisi oleh para pendiri bangsa. KH. Hasyim Asy’ari, Bung Karno, hingga Jenderal Sudirman menjadikan nilai moral dan spiritual sebagai energi perjuangan. “Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 adalah contoh nyata. Ulama dan santri tidak hanya mengangkat senjata, tetapi juga mengangkat moral bangsa agar tidak tunduk pada penjajahan. Ini sejalan dengan misi Rasulullah: membebaskan manusia dari penindasan tanpa kehilangan martabat sebagai manusia beradab,” jelasnya.
Putri KH Maskur Hasyim itu juga mengingatkan bahwa proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 lahir dari kesadaran kolektif yang dipupuk nilai perjuangan panjang, dialog, dan semangat gotong royong, bukan dari kekerasan membabi buta. “Para founding fathers kita sadar benar bahwa Nabi Muhammad membangun umat dengan fondasi persaudaraan dan musyawarah. Piagam Jakarta hingga Pancasila lahir dari semangat musyawarah, bukan paksaan. Itu jejak peradaban Nabi yang hidup dalam kebangsaan kita,” tegas Ning Lia yang dikenal sebagai Senator Cantik.
Refleksi ini, kata Ning Lia, semakin relevan saat Indonesia dihadapkan pada tragedi kerusuhan. Sejumlah gedung bersejarah, termasuk Gedung Negara Grahadi di Surabaya, hangus terbakar akibat provokasi oknum. “Ini bukan hanya kehilangan bangunan, tapi juga kehilangan memori kolektif bangsa. Sama seperti ketika kaum Quraisy mencoba merusak Ka’bah, itu bukan sekadar menghancurkan batu, tetapi simbol persatuan umat,” ucapnya.
Lebih memprihatinkan lagi, kata dia, keterlibatan anak-anak di bawah umur dalam aksi-aksi destruktif. “Betapa miris ketika anak-anak yang mestinya tumbuh menjadi penerus bangsa justru dijadikan pion kerusuhan. Nabi bersabda al-syabāb ‘imād al-ummah (pemuda adalah tiang umat). Jika tiang itu dirusak sejak dini, bagaimana bangunan bangsa ini akan kokoh?” tandasnya.
Ning Lia menegaskan, pendidikan adalah kunci utama agar bangsa tidak kehilangan arah. Guru harus diberdayakan, bukan dibebani. “Beban administrasi berlebihan membuat guru kehilangan fungsi sejatinya: mendidik dan membentuk karakter. Jika kita ingin anak-anak kebal dari provokasi, biarkan guru fokus membangun hubungan interpersonal dengan murid. Pendidikan Nabi adalah contoh, beliau tidak hanya menyampaikan wahyu, tapi juga membentuk karakter sahabat dengan kasih sayang dan keteladanan,” paparnya.
Ia juga menyoroti dampak jangka panjang pendidikan daring selama pandemi yang membuat anak-anak kehilangan interaksi sosial. “Efeknya jelas, mereka lebih rentan terhadap disinformasi dan ujaran kebencian. Maulid Nabi harus menjadi momentum memperkuat pendidikan humanis yang membangun akal, hati, dan moral secara seimbang,” tambahnya.
Di akhir pesannya, Ning Lia mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan Maulid Nabi sebagai panggilan untuk membangun masa depan Indonesia dengan nilai luhur. “Jika Nabi Muhammad mampu mengubah masyarakat jahiliyah menjadi umat terbaik hanya dalam 23 tahun, bangsa Indonesia juga bisa keluar dari krisis moral dan sosial. Syaratnya, kita harus menjadikan ilmu, akhlak, dan kasih sayang sebagai senjata utama. Inilah senjata yang lebih kuat dari kekerasan apa pun,” pungkasnya. (Had)


Komentar