|
Menu Close Menu

PFI Surabaya Kupas Tantangan dan Peluang Foto Jurnalistik di Era Disrupsi Digital

Jumat, 26 September 2025 | 19.43 WIB

"Jagongan Bareng” bertajuk Foto Jurnalistik di Era Disrupsi dan Tips Menjual Foto di Internet di Rumah Literasi Digital (RLD) Surabaya.(Dok/Istimewa).
Lensajatim.id, Surabaya – Pewarta Foto Indonesia (PFI) Surabaya menggelar forum “Jagongan Bareng” bertajuk Foto Jurnalistik di Era Disrupsi dan Tips Menjual Foto di Internet di Rumah Literasi Digital (RLD) Surabaya, Jumat (26/9/2025). Kegiatan ini membahas dinamika dunia fotografi jurnalistik di tengah gempuran teknologi digital yang membawa tantangan sekaligus peluang baru bagi pewarta foto.


Praktisi media, Totok J. Sumarno, menegaskan bahwa era disrupsi memang tidak bisa dihindari. Namun, di balik itu ada ruang luas yang bisa dimanfaatkan pewarta foto untuk memperluas jangkauan karya mereka.


“Era disrupsi memang penuh tantangan, tetapi juga membuka peluang besar bagi jurnalis foto untuk mengembangkan karya di luar media tempat mereka bekerja,” ujarnya.


Menurut Totok, karya foto jurnalistik kini tidak lagi sebatas bergantung pada media cetak maupun daring. Foto hasil liputan dapat dipasarkan melalui berbagai kanal digital, termasuk platform jual beli konten. Meski demikian, ia menekankan bahwa keberadaan pewarta foto profesional tetap dibutuhkan di tengah maraknya jurnalistik warga.


“Kredibilitas dan kualitas adalah kunci agar karya fotografi jurnalistik tetap bernilai,” tegasnya.


Dalam kesempatan yang sama, anggota PFI Surabaya Ridoi menyoroti pentingnya membangun personal branding dan memanfaatkan platform digital sebagai sumber pendapatan tambahan. Ia menuturkan bahwa dirinya telah mengunggah sekitar 1.500 foto ke platform mikro stok yang memungkinkan setiap karya terjual berulang kali.


“Micro stock bisa menjadi ladang penghasilan bagi fotografer. Setiap foto bisa dibeli berkali-kali dan itu nyata memberikan pemasukan,” ungkapnya.


Ridoi juga memperkirakan bahwa lima tahun mendatang, penjualan foto melalui platform mikro stok masih akan relevan, meski perlu beradaptasi dengan perkembangan kecerdasan buatan (AI).


Sementara itu, Ketua PFI Surabaya Suryanto menekankan pentingnya forum diskusi semacam ini sebagai wadah berbagi pengalaman sekaligus memperkuat kapasitas pewarta foto di era digital.


“Semoga apa yang sudah kami suguhkan bisa menjadi pencerahan dan keilmuan bagi semua anggota dan peserta yang hadir,” katanya.


Melalui forum ini, PFI Surabaya berharap para pewarta foto semakin siap menghadapi perubahan lanskap media sekaligus mampu memanfaatkan peluang baru yang lahir dari perkembangan teknologi digital. (Red) 

Bagikan:

Komentar