![]() |
| Ning Lia, Anggota DPD RI asal Jawa Timur saat bagi-bagi bunga.(Dok/Istimewa). |
Dengan senyum ramah dan gestur sederhana, Senator asal Jawa Timur yang akrab disapa Ning Lia itu mengajak masyarakat menjaga kedamaian, menolak kekerasan, dan merawat ruang publik sebagai bagian dari kepemilikan bersama.
Momen semakin haru ketika Ning Lia membacakan sebuah puisi yang menggambarkan kondisi bangsa saat ini.
> Ibu Pertiwi
Tanah kami terlahir
Adakah kau mendengar pilu kami
Tatkala kami lemah menjagamu
Ibu pertiwi
Tanah kami terlahir
Adakah ada daya untuk langkah kami?
Tuk menjaga harumnya negeri
Negeri ini bukan milik kami semata
Tapi inilah warisan kami
Untuk anak cucu tatkala mata kami tertutup
Seperti halnya yang kau wariskan pada kami
Keindahan yang kini terselimut pedih
Andai kami memiliki daya berkata
Maka kami ingin katakan
Bahwa kami hanyalah ingin anak cucu tetap dalam damai
Di tengah indahnya hamparan negeri
“Terima kasih Ning Lia, senator humble dan cantik. Puisinya menyentuh tapi tetap full senyum,” ujar Ana Ramlah, salah satu warga.
Kehadiran Ning Lia membuat warga berkerumun, termasuk para emak-emak yang antusias mendekati sang senator.
Menurut Lia, momen berbagi bunga ini menjadi ajakan untuk menjaga kedamaian pasca demonstrasi beberapa hari lalu. Ia menyesalkan adanya aksi destruktif yang merugikan masyarakat dan merusak fasilitas umum.
“Bunga adalah simbol damai. Bunga melambangkan kesejukan, ketulusan, dan kehidupan. Aksi apapun seharusnya menjadi ruang ekspresi yang membangun, bukan merusak. Karena fasilitas umum dan negara adalah milik rakyat juga,” tegas Lia.
Mengutip Teori Kedamaian (Peace Theory) Johan Galtung, Lia menjelaskan bahwa kedamaian sejati (positive peace) bukan hanya ketiadaan konflik (negative peace), tetapi juga terciptanya keadilan, penghormatan, dan harmoni sosial.
“Bunga yang dibagikan ini merepresentasikan soft power untuk meredakan ketegangan dengan simbol kasih sayang. Air dan buah yang dibagikan menjadi metafora kebutuhan hidup bersama yang menyejukkan dan menyatukan,” tambahnya.
Ning Lia menegaskan bahwa merawat demokrasi harus dilandasi etika dan spiritualitas kebangsaan. Menurutnya, aksi simbolik seperti ini adalah pesan moral bagi masyarakat, aparat, dan peserta aksi untuk menjaga kedamaian dan keberlangsungan bangsa.
“Wajah demokrasi Indonesia harus tetap humanis. Demonstrasi yang damai dan persuasif mencerminkan kedewasaan politik masyarakat. Aksi yang berlebihan justru menggerus kepercayaan publik dan mencederai semangat demokrasi itu sendiri,” jelas doktor Manajemen Ekonomi Islam tersebut.
Ia menutup dengan pesan penting bagi seluruh elemen bangsa.
“Saya percaya, aspirasi akan lebih kuat terdengar ketika disampaikan dengan kedewasaan dan keadilan. Mari kita jaga Indonesia dengan jiwa damai, sebab bangsa ini berdiri di atas pondasi kebersamaan,” ujar putri KH Maskur Hasyim itu. (Had)


Komentar