|
Menu Close Menu

Senator Ning Lia Ajak Masyarakat Jaga Kedamaian dengan Bagi-Bagi Bunga di Surabaya

Kamis, 04 September 2025 | 22.24 WIB

Ning Lia, Anggota DPD RI asal Jawa Timur saat bagi-bagi bunga.(Dok/Istimewa).
Lensajatim.id, Surabaya– Suasana berbeda terlihat di beberapa titik di Surabaya pada Rabu (3/9/2025). Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Lia Istifhama, turun langsung ke jalan membagikan bunga kepada masyarakat dan para emak-emak.


Dengan senyum ramah dan gestur sederhana, Senator asal Jawa Timur yang akrab disapa Ning Lia itu mengajak masyarakat menjaga kedamaian, menolak kekerasan, dan merawat ruang publik sebagai bagian dari kepemilikan bersama.


Momen semakin haru ketika Ning Lia membacakan sebuah puisi yang menggambarkan kondisi bangsa saat ini.


> Ibu Pertiwi

Tanah kami terlahir

Adakah kau mendengar pilu kami

Tatkala kami lemah menjagamu


Ibu pertiwi

Tanah kami terlahir

Adakah ada daya untuk langkah kami?

Tuk menjaga harumnya negeri


Negeri ini bukan milik kami semata

Tapi inilah warisan kami

Untuk anak cucu tatkala mata kami tertutup


Seperti halnya yang kau wariskan pada kami

Keindahan yang kini terselimut pedih


Andai kami memiliki daya berkata

Maka kami ingin katakan

Bahwa kami hanyalah ingin anak cucu tetap dalam damai

Di tengah indahnya hamparan negeri




“Terima kasih Ning Lia, senator humble dan cantik. Puisinya menyentuh tapi tetap full senyum,” ujar Ana Ramlah, salah satu warga.


Kehadiran Ning Lia membuat warga berkerumun, termasuk para emak-emak yang antusias mendekati sang senator.


Menurut Lia, momen berbagi bunga ini menjadi ajakan untuk menjaga kedamaian pasca demonstrasi beberapa hari lalu. Ia menyesalkan adanya aksi destruktif yang merugikan masyarakat dan merusak fasilitas umum.


“Bunga adalah simbol damai. Bunga melambangkan kesejukan, ketulusan, dan kehidupan. Aksi apapun seharusnya menjadi ruang ekspresi yang membangun, bukan merusak. Karena fasilitas umum dan negara adalah milik rakyat juga,” tegas Lia.


Mengutip Teori Kedamaian (Peace Theory) Johan Galtung, Lia menjelaskan bahwa kedamaian sejati (positive peace) bukan hanya ketiadaan konflik (negative peace), tetapi juga terciptanya keadilan, penghormatan, dan harmoni sosial.


“Bunga yang dibagikan ini merepresentasikan soft power untuk meredakan ketegangan dengan simbol kasih sayang. Air dan buah yang dibagikan menjadi metafora kebutuhan hidup bersama yang menyejukkan dan menyatukan,” tambahnya.


Ning Lia menegaskan bahwa merawat demokrasi harus dilandasi etika dan spiritualitas kebangsaan. Menurutnya, aksi simbolik seperti ini adalah pesan moral bagi masyarakat, aparat, dan peserta aksi untuk menjaga kedamaian dan keberlangsungan bangsa.


“Wajah demokrasi Indonesia harus tetap humanis. Demonstrasi yang damai dan persuasif mencerminkan kedewasaan politik masyarakat. Aksi yang berlebihan justru menggerus kepercayaan publik dan mencederai semangat demokrasi itu sendiri,” jelas doktor Manajemen Ekonomi Islam tersebut.


Ia menutup dengan pesan penting bagi seluruh elemen bangsa.


“Saya percaya, aspirasi akan lebih kuat terdengar ketika disampaikan dengan kedewasaan dan keadilan. Mari kita jaga Indonesia dengan jiwa damai, sebab bangsa ini berdiri di atas pondasi kebersamaan,” ujar putri KH Maskur Hasyim itu. (Had) 

Bagikan:

Komentar