![]() |
| Rico Sia, Anggota Komisi VII DPR RI. (Dok/Istimewa). |
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Kerja Komisi VII DPR RI bersama Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (17/11/2025).
Sejak menjadi provinsi baru, Papua Barat Daya semakin dilirik wisatawan domestik dan mancanegara. Peningkatan kegiatan pemerintah dan swasta juga menambah intensitas kunjungan kerja ke wilayah tersebut. Anggota DPR asal Dapil Papua Barat Daya itu menilai, geliat pariwisata terutama di Raja Ampat menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah.
“Papua Barat Daya sekarang sangat dikenal, khususnya Raja Ampat. Wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, terus meningkat,” jelas Rico.
Meski telah berstatus sebagai bandara internasional, DEO dinilai masih membutuhkan sejumlah perbaikan. Mulai dari perpanjangan runway, penataan terminal kedatangan dan keberangkatan, hingga percepatan pembebasan lahan untuk perluasan fasilitas.
“Ini tugas pemerintah untuk membebaskan lahan. Saya percaya pemerintah daerah akan menyiapkan lahan karena ini bagian dari pengembangan wilayah,” ujar Rico.
Ia menekankan bahwa perluasan Bandara DEO akan membuka pintu bagi pesawat internasional mendarat langsung di Sorong, sehingga memotong waktu perjalanan wisatawan menuju berbagai destinasi unggulan di Papua Barat Daya.
Rico mengungkapkan bahwa secara teknis, pesawat internasional sebenarnya sudah dapat mendarat di Bandara DEO. Namun, masih ada satu syarat administratif yang belum terpenuhi.
“Yang kurang hanya surat rekomendasi dari Bea Cukai. Saya minta Bea Cukai segera menerbitkan rekomendasi tersebut,” tegasnya.
Selain itu, ia turut mendorong Kementerian Perhubungan dan Kementerian PUPR untuk segera membangun terminal internasional guna mendukung proses imigrasi, keamanan, dan pengawasan pendapatan negara.
Dalam pengembangan bandara, Rico mengaku telah berkomunikasi dengan Kepala Bandara Internasional DEO Sorong, Asep Sukarjo. Kedua pihak sepakat bahwa prioritas utama saat ini adalah pembangunan terminal.
“Jika pembangunan belum masuk program 2026, saya minta bisa segera diprogramkan. Ini aspirasi daerah yang harus saya perjuangkan,” tandas Rico.
Rico juga menyoroti meningkatnya kunjungan jet pribadi ke Sorong, sebagai indikator kuat bahwa Papua Barat Daya memiliki magnet wisata kelas dunia.
“Sedikitnya tiga sampai lima jet pribadi terlihat di Bandara DEO. Ini menunjukkan peningkatan kunjungan yang harus diimbangi infrastruktur dan kewaspadaan terhadap arus wisatawan mancanegara,” jelasnya.
Menurut Rico, Presiden Prabowo Subianto juga memberi perhatian besar pada sektor pariwisata, mengingat kontribusinya terhadap pendapatan negara yang dapat melampaui sektor lain, termasuk pertambangan.
Karena itu, ia berharap Kementerian Keuangan memberi dukungan anggaran tambahan untuk pembangunan terminal bandara sebagai bagian dari strategi nasional memperkuat konektivitas dan mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah.
“Ini harus menjadi keseriusan kita bersama. Pariwisata adalah sektor unggulan untuk meningkatkan pendapatan negara non-pajak dan menggerakkan ekonomi kreatif serta UMKM Papua Barat Daya,” pungkas Rico.
Dengan dorongan tersebut, perluasan Bandara DEO diharapkan dapat semakin membuka akses internasional, memperkuat posisi Papua Barat Daya sebagai destinasi wisata dunia, serta mengakselerasi kesejahteraan masyarakat setempat. (Had)


Komentar