![]() |
| Diskusi Publik Kohati Cabang Banyuwangi di Aula Dispora Kabupaten Banyuwangi.(Dok/Istimewa). |
Kegiatan ini menjadi wujud keterlibatan aktif Kohati sebagai badan semi otonom Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang konsisten mengawal isu perempuan dan anak. Peringatan 16 HAKTP sendiri berlangsung setiap tahun, mulai 25 November yang diperingati sebagai Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan hingga 10 Desember, Hari Hak Asasi Manusia.
Ketua Panitia, Dwi Cahya Oktavia, menegaskan bahwa rangkaian 16 hari tersebut bukan sekadar agenda seremonial. Menurutnya, keterkaitan dua tanggal penting itu memiliki makna mendalam. “Penghubung dua tanggal ini menegaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah pelanggaran hak asasi manusia, bukan urusan privat yang bisa ditoleransi,” ujarnya.
Pada peringatan tahun ini, Kohati Banyuwangi mengusung tema “Mengurai Akar Kekerasan terhadap Perempuan: Perspektif Sosial, Hukum, dan Ekonomi.” Tema tersebut dibahas secara komprehensif bersama tiga narasumber, yakni Fitriatul Masruroh, S.Psi., M.Psi. Psikolog yang mengulas aspek psikologis dan sosial, akademisi hukum Nikmatul Keumala Nofa Yuwono, S.H., M.H. yang menyoroti perlindungan hukum bagi korban, serta Rachmawati yang membahas dimensi ekonomi dalam kasus kekerasan terhadap perempuan.
Ketua Umum Kohati Cabang Banyuwangi, Nova Rosytha, menekankan pentingnya keberanian perempuan untuk menolak dan melaporkan segala bentuk kekerasan. Ia menilai, kekerasan terhadap perempuan kerap dinormalisasi karena dianggap sebagai hal biasa atau bahkan aib. “Padahal, sikap diam justru membuat kekerasan terus berulang,” tegasnya.
Nova menambahkan, kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran publik, mendorong advokasi, serta memperkuat aksi nyata dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Kohati Banyuwangi, lanjutnya, siap menjadi ruang aduan dan pendampingan bagi perempuan korban kekerasan, khususnya kekerasan seksual.
Sementara itu, perwakilan HMI Cabang Banyuwangi, Muhamad Miswan, mengingatkan bahwa perempuan memiliki peran yang sangat vital dalam peradaban Islam. Ia mencontohkan sosok Siti Khadijah yang berperan besar dalam mendukung perjuangan Rasulullah SAW, termasuk dari sisi ekonomi. “Perempuan itu juga ibu kita. Selama kekerasan terhadap perempuan masih terjadi, berarti kita sedang mengingkari peran mulia tersebut,” ujarnya.
Dukungan juga disampaikan pemerintah daerah melalui perwakilan Dispora Kabupaten Banyuwangi, Hartini. Ia mengapresiasi inisiatif Kohati yang dinilainya sebagai organisasi pertama yang menggelar peringatan 16 HAKTP di lingkungan Dispora. “Kami menyambut baik kegiatan ini dan siap mendukung program-program positif yang berfokus pada penguatan kualitas sumber daya manusia serta perlindungan hak-hak perempuan,” katanya.
Melalui peringatan 16 HAKTP ini, Kohati Banyuwangi berharap semakin banyak pihak terlibat aktif dalam mencegah dan menghapus kekerasan terhadap perempuan, tidak hanya sebatas wacana, tetapi sebagai gerakan bersama yang berkelanjutan. (Red)


Komentar