Oleh: H. Nur Junaidi Amin
Sekretaris Bidang Pertanian dan Perkebunan GP Ansor Jawa Timur
Lensajatim.id, Opini- Isu pangan hari ini tidak lagi bisa dipandang sebagai persoalan teknis pertanian semata. Ia telah menjelma menjadi isu strategis yang menentukan stabilitas ekonomi, kesejahteraan rakyat, bahkan kedaulatan bangsa. Fluktuasi harga, ketergantungan pasokan, hingga kerentanan desa sebagai basis produksi pangan menjadi tantangan nyata yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen bangsa, termasuk organisasi kepemudaan.
Dalam konteks itulah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur meluncurkan program Desa Cabai Mandiri. Program ini sebagai penanda transformasi peran Ansor: dari organisasi kader yang kuat dalam wacana kebangsaan, menuju gerakan sosial-ekonomi yang hadir langsung menjawab persoalan riil masyarakat desa.
Penanaman 5.000 bibit cabai secara serentak di Rumah Kader Ansor dan Banser se-Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, menjadi langkah awal gerakan ini. Kegiatan tersebut diposisikan sebagai pilot project yang melibatkan 10 ranting Ansor, dengan target membangun sentra komoditas cabai di masing-masing desa. Dari Sekaran, model ini disiapkan untuk direplikasi oleh PAC Ansor di berbagai daerah lain di Jawa Timur.
Cabai dipilih bukan tanpa pertimbangan. Meski tampak sederhana, cabai adalah komoditas strategis yang hampir selalu hadir di dapur rakyat. Kecil bentuknya, tetapi besar dampaknya. Ketika harga cabai melonjak, rakyat kecil adalah pihak pertama yang merasakan tekanannya. Karena itu, memperkuat produksi cabai berbasis desa sejatinya adalah upaya menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga sekaligus berkontribusi pada pengendalian inflasi pangan.
Di balik pilihan komoditas tersebut, terdapat filosofi yang sejalan dengan watak Ansor. Cabai tumbuh dari tanah, membutuhkan ketelatenan, kesabaran, dan keberanian menghadapi risiko. Ia kecil, tetapi menentukan. Filosofi ini mencerminkan karakter kader Ansor: bekerja dari bawah, tidak selalu terlihat, tetapi berdampak luas bagi masyarakat.
Yang menjadi kekuatan utama Desa Cabai Mandiri adalah prinsip kemandirian kader. Seluruh bibit cabai yang ditanam dan dibagikan berasal dari swadaya kader Ansor sendiri, mulai dari pembibitan hingga penanaman. Tidak ada ketergantungan pada bantuan atau proposal. Pilihan ini menegaskan sikap ideologis bahwa kedaulatan pangan hanya dapat dibangun di atas kemandirian, bukan ketergantungan.
Transformasi peran Ansor dalam bidang pangan ini sejalan dengan arah kebijakan nasional di sektor pertanian. Menteri Pertanian Amran Sulaiman secara konsisten menekankan pentingnya penguatan produksi dalam negeri, pemberdayaan petani, dan keterlibatan masyarakat desa sebagai subjek pembangunan pertanian. Namun kebijakan negara membutuhkan daya dorong sosial agar benar-benar berakar. Di titik inilah Ansor hadir sebagai jembatan antara kebijakan dan praktik di lapangan.
Ketua Bidang Pertanian dan Perkebunan PW GP Ansor Jawa Timur, H. Deni Prasetya, menegaskan bahwa agenda ketahanan dan kedaulatan pangan tidak boleh berhenti sebagai slogan organisasi. Menurutnya, peran Ansor diuji bukan di ruang diskusi, melainkan di sawah dan ladang tempat pangan diproduksi. Ketahanan pangan, katanya, hanya bermakna jika diwujudkan melalui kerja nyata dan keterlibatan langsung kader. Penegasan ini merefleksikan arah baru gerakan Ansor Jawa Timur: menempatkan kerja sebagai fondasi utama, bukan hanya retorika belaka.
Desa Cabai Mandiri pada akhirnya bukan hanya soal hasil panen, tetapi tentang pembentukan karakter kader dan arah organisasi. Dari ladang, kader belajar disiplin, tanggung jawab, dan kerja kolektif. Dari desa yang berdaulat pangan, Ansor membangun fondasi ekonomi kader yang lebih kokoh dan berkelanjutan.
Transformasi peran Ansor Jawa Timur sedang berlangsung. Dari rumah kader menuju ladang produktif, dari forum menuju ruang produksi. Melalui Desa Cabai Mandiri, Ansor menegaskan bahwa menjaga bangsa tidak selalu dimulai dari panggung besar, tetapi bisa dari tanah desa tempat kedaulatan pangan ditanam, dirawat, dan diperjuangkan secara nyata.


Komentar