![]() |
| Anggota Komisi X DPR RI Muhammad Hilman Mufidi. (Dok/Istimewa). |
Teror itu diduga terjadi setelah Tiyo menyuarakan kritik terkait kasus bunuh diri seorang anak sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pernyataan tersebut memicu respons keras dari oknum tak dikenal yang kemudian mengirimkan pesan bernada ancaman.
Dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (27/2/2026), Hilman menyayangkan aksi intimidasi tersebut. “Tindakan teror kepada adinda Tiyo, Ketua BEM UGM tentu sangat tidak sepatutnya dilakukan. Saya sangat menyayangkan aksi itu, itu sama saja dengan praktik pembungkaman,” tegas politisi Fraksi PKB yang akrab disapa Gus Hilman itu.
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Komisi X DPR RI tersebut menegaskan bahwa suara mahasiswa merupakan bagian dari kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi. Ia meminta aparat penegak hukum bertindak cepat dan profesional dalam mengusut dalang di balik aksi teror tersebut.
“Saya minta aparat mengusut tuntas siapa aktor di balik aksi teror ke adinda Tiyo. Bagaimanapun suara Tiyo adalah wujud keterbukaan dan kebebasan berpendapat yang harus dihormati,” ujarnya.
Hilman juga mengingatkan semua pihak agar menyikapi dinamika yang berkembang dengan kepala dingin. Menurutnya, duka atas kasus tragis di NTT seharusnya menjadi momentum evaluasi bersama, bukan justru memicu intimidasi terhadap pihak yang menyampaikan kritik.
“Kita semua berduka dan prihatin dengan apa yang dialami anak kita di NTT. Namun menyikapi hal itu perlu keterbukaan hati dan kekuatan pikir. Setiap kritik terhadap penanganan kasus harus disikapi dengan bijak, bukan dengan teror,” tandasnya.
Sebelumnya, Ketua BEM Universitas Gadjah Mada itu mengkritik pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terkait jaminan perlindungan hak dasar anak menyusul tragedi bunuh diri seorang anak di NTT.
Empat hari setelah kritik tersebut disampaikan, Tiyo dilaporkan menerima pesan WhatsApp bernada ancaman penculikan dari nomor berkode luar negeri. Selain itu, pengirim pesan juga menuduh Tiyo sebagai agen asing dan mencari panggung.
“Agen asing. Jangan cari panggung jual narasi sampah,” demikian isi pesan yang diterima Tiyo.
Kasus ini kini menjadi perhatian publik dan mendorong desakan agar aparat segera mengungkap pelaku serta motif di balik teror tersebut. Berbagai kalangan menilai, ruang demokrasi dan kebebasan berekspresi di lingkungan kampus harus tetap dijaga dari segala bentuk intimidasi. (Ham)


Komentar